Dharmawacana online Mangku Danu

Butir Pengamalan Praktis Ajaran Agama Hindu Sehari - hari PDF Print E-mail
Written by I W Sudarma   
Monday, 07 December 2009 07:43

A. Pendahuluan

"dharma eva plavoyah Svargam Sama bhivāñ chatam, Sa Co na ur pvanisjastalam jaladheh pāramicchatah".

'Hyang Dharma ngaranya, henaning mara ring swarga ika, kadi gantining parahu, an hening banyāga nentasing tasik'. (Yang disebut Dharma, adalah merupakan jalan untuk mencapai surga, seperti kayu perahu yang merupakan sarana bagi pedagang untuk menyebrangi lautan). Sarasamuccaya , 14

Ajaran agama/dharma ibarat perahu yang dipergunakan oleh para pedagang untuk menyebrangi lautan. Bila badan diibaratkan perahu, maka ia pun merupakan alat untuk menyebrangi lautan hidup, lautan Samsara. Dharma adalah alat, karena itu pergunakanlah alat itu sebaik mungkin. Ia harus dipegang erat-erat, dijadikan pedoman dalam meniti hidup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Dalam kehidupan ini, perjalanan kita tidaklah terlalu mulus, banyak rintangan, hambatan, tantangan, gangguan dan godaan yang kita hadapi. Kita ingin bebas dan mampu menghadapi segala rintangan dan cobaan di atas. Apakah senjata yang ampuh untuk mengatasi semuanya itu ? Tidak ada yang lain adalah ajaran Agama (dharma), pendekatan diri kepada Sanghyang Widhi (TuhanYME), berbakti kepada - Nya, maka Ia senantiasa menganugrahkan kasih dan waranugraha - Nya kepada kita. Di dalam dharma (ajaran agama) memerlukan berbagai petunjuk untuk berhasil mencapai tujuan hidup dan kebahagiaan yang sejati.
Mengingat ajaran agama Hindu yang demikian luasnya, maka memiliki 18 butir mutiara yang terkandung didalamnya untuk dijadikan pedoman tidaklah terlalu mudah. Butir-butir milian ajaran agama Hindu jumlahnya tidak terbatas. Dipilih 18 diantaranya didasarkan atas pertimbangan kebutuhan untuk diamalkan secara praktis dalam kehidupan sehari - hari.
Jumlah 18 ini dialih dengan angka 18 yang merupakan angka yang mempunyai nilai yang amat penting dalam agama Hindu. Nilai 18 ini dapat dijumpai dalam : jumlah syair Isa Upanisad (18 Mantra), Mahabharata (18 Parwa), Bagawadgita (18 Adhyaya), Purāna (18 buah) dan sebagainya.

B. 18 Butir pengamalan praktis, sehari-hari.

1. Makna Penjelmaan

Menurut ajaran agama Hindu menjelma menjadi manusia adalah kesempatan yang sangat utama dan sangat sulit diperoleh. Diantara makhluk hidup, menjelma menjadi manusia menempati kedudukan tertinggi karena pada diri manusia terdapat kemampuan untuk berpikir, Wiweka Jñāna (kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk). Bila di dunia ini (pada penjelmaan dalam wujud manusia ) tidak mau berbuat baik (Subha karma) maka pada penjelmaan nanti kesempatan untuk menjadi manusia ini tidak mungkin didapatkan kembali, karena itu manfaatkan penjelmaan ini untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, sebab dengan berbuat baik, perbuatan ini akan melebur perbuatan dosa yang telah dilakukan, demikian makna penjelmaan ini. Tentang manfaat penjelmaan ini Sarasamuccaya 2, 4,6 dan 7 menyebutkan sebagai berikut :

Mānusah sarvabhūtesu varttate vai śubhāśubhe, aśubhesu samavistam śhubesvevāvakarā yet.

Terjemahannya :
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah kedalam perbuatan baik-baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Iyam hi yonih prathamā yām prāpya jagatīpate ātmānam śakyate prātum karmabhih śubhalaksanaih.
Terjemahannya :
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikian keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, tathātmānam samādayād dhvamseta na punaryatha.

Terjemahannya :
Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.

Karma bhūmiriya brahman phala bhūmirasau matā, iha yat kurute karma tat paratropabhujyante.

Terjemahannya :
Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan untuk melaksanakan pekerjaan yang baik atau buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat, artinya pekerjaan baik atau buruk yang dilaksanakan sekarang ini akan dinikmati di akhirat, setelah selesai menikmati hasil perbuatan itu, menjelmalah ia kembali mengikuti hasil-hasil perbuatan, yang disebut Wasana, perbuatan diakhirat tidak menentukan, melainkan perbuatan baik buruk yang dilaksanakan di dunia ini.

Supaya kita selamat didunia dan diakhirat nanti, tidak jatuh kelembah penderitaan dan neraka dikemudian hari, pada penjelmaan yang akan datang, lakukanlah perbuatan baik sebanyak-banyaknya, hindari dosa dan perbuatan Asubhakarma (perbuatan buruk). Melaksanakan perbuatan yang baik membuahkan kerahayuan, sebaliknya perbuatan buruk mengakibatkan kehancuran.

2. Tujuan dan kewajiban hidup manusia

Tujuan agama Hindu, ialah untuk mewujudkan : "Jagadhita" dan "Moksa". Jagadhita adalah kesejahteraan jasmaniah, dan Moksa adalah kebahagian rohani, bersatunya Atman (Roh) dengan Brahman (Tuhan Yang Mahaesa).

Untuk mewujudkan tujuan agama tersebut, maka penjelmaan sebagai manusia mempunyai arti bila manusia melaksanakan swadharmanya sebagai manusia. Tujuan agama tersebut dijabarkan sebagai tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusārtha atau Catur Warga, yang terdiri dari : Dharma, Artha, Kama, Moksa. Dalam berbagai kitab suci agama Hindu, Dharma, Artha, dan Kama (sering disebut Tri Warga) uraiannya kadang-kadang dipindahkan dengan Moksa.

a. Dharma

Tidak ada padanya yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata Dharma ini. Kata Dharma berasal dari urat kata Dhr yang berarti mendukung, menjunjung, hukum, agama, dan yang sejenis dengan makna kata tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dharma berarti segala apa yang mendukung manusia untuk mendukung manusia untuk mendapatkan kerahayuan. Kesentausaan masyarakat datang dari Dharma. Pejelasan ini dapat dijumpai dalam Mahābhārata, Sāntiparwa, 259, 26 sebagai berikut :

"Loka Samgraha Samyuktam Widātrāwihitam Purā, Suksma Dharmartha Niyatam Satam Caritam Uttamam".

Terjemahannya :

"Kesentausaan umat manusia dan kesejahteraan masyarakat datang dari Dharma, laksana dan budi yang luhur untuk kesejahteraan manusia, itulah Dharma utama".
Dijelaskan pula bahwa seseorang yang melanggar dharma akan ditimpa kehancuran. Hal ini dijelaskan oleh Sloka Mahābhārata, juga Manawadharma sastra VIII. 15

"Dharma eva hato kanti dharmo raksati raksitah, tasmad dharmo na hantav yo'ma no dharmo hato'vadit".

Terjemahannya :

"Bila engkau melanggar Dharma, maka kamu akan digilas oleh Dharma. Bila kamu menjaga Dharma maka kamu dijaga olehnya, karena itu Dharma tidak boleh dilanmggar, sebab Dharma yang dilanggar akan menggilasmu"

Perlu sedikit dijelaskan bahwa uraian kata Dharma tersebut seirama dengan pengertian kata "Rta" dalam Weda. Rta dapat diterjemahkan sebagai hukum alam kodrat (Natural law) sedang Dharma adalah hukum yang mengatur kehidupan manusia. Perhatikan Mantra Rg Weda I.90.6. berikkut :

"Madhu vātā rtāyāte madhu ksaranti shindhavah madhvī nah sarvo sandhih".

Terjemahannya :

"Untuk dia yang hidup menuruti Rta, angin akan penuh hawa manis, sungai mencurahkan rasa manis, begitu pula pohon-pohon memberikan buah yang manis untuk kita".

Penjelasan tentang Dharma sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan hidup dapat dijumpai dalam Manusamhita 1 sebagai berikut :

"Weda prāmanakah sreyah sādhanam dharmah".

Terjemahannya :

"Dharma tercantum dalam ajaran kitab suci Weda, sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan hidup. Terbebasnya Atma (Roh) dari penjelmaan dan manunggal dengan Brahman".

Sesunguhnya sangat banyak seloka atau mantra yang menjelaskan tentang pengertian, peranan dan fungsi Dharma bagi manusia. Setiap orang yang meniti hidupnya harus berpegang pada Dharma. Perbuatan berdasarkan Dharma memberikan Phahala kebahagiaan, sedang perbuatan yang bertentangan dengan Dharma (yang disebut Adharma) memberikan pahala penderitaan atau neraka.

b. Artha.

Tujuan hidup yang kedua, setelah Dharma adalah Artha. Kata Artha pada mulanya berarti tujuan. Kata Purusārtha berarti tujuan yang tertinggi atau utama, tetapi dalam perkembangannya, disamping berarti tujuan juga berarti harta-benda/material yang merupakan sarana untuk medukung hidup manusia dan untuk memperoleh kesenangan atau untuk mencapai tujuan tertentu. Ajaran agama Hindu memandang bahwa Artha, demikian juga Dharma dan Kāma adalah alat untuk mencapai Moksa, perhatikan seloka berikut (Brahma Purāna), 288.45) :

Dharmārthakāma moksanam sariram sādhanam".

Terjemahannya :

"Tubuh adalah alat untuk mendapatkan Dharma, Artha, Kāma dan Moksa". Jadi penjelmaan kita, kita manfaatkan untuk mencapai tujuan hidup tersebut, dengan Dharma sebagai landasan, Artha dan Kama akan dapat diperoleh artinya bila memperoleh Artha dan Kāma berdasarkan Dharma, maka kedua hal tersebut akan memberikan kebahagiaan. Demikian pula Moksa, sangat mustahil bisa dicapai bila perbuatan tidak dilandasi Dharma.

Kata Artha inilah yan diterjemahkan dengan sukses duniawi oleh Huston Smith yang meliputi : kekayaan, kemasyuran, dan kekuasaan yang tidak dapat menyelamatkan badan dari kematian. Dalam berbagai kitab Hindu disebutkan bahwa harta benda material yang diperoleh bertentangan dengan Dharma akan mengikat manusia dan menyebabkan ia jatuh ke alam neraka.

d. Kamā

Tujuan hidup manusia yang ketiga adalah Kāma. Kata Kāma berarti keinginan. Keinginan muncul karena indria manusia tertarik pada obyek disekitarnya. Semakin besar keinginan itu, semakin terikatlah dia pada obyek-obyek indra itu. Ajaran agama Hindu tidak menentang adanya Kāma yang menjadi salah satu tujuan hidup umat manusia, malahan harus dikembangkan dan diabadikan untuk kemuliaan hidup. Untuk mencapai Kāma ajaran agama Hindu mewajibkan kembali kepada landasan Dharma sebagai dasar yang fundamental. Penjelasan ini selalu disebutkan dalam berbagai kitab dan sastra Hindu. keinginan atau kesenangan yang benar-benar memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk patut dikembangkan, perbuatan semacam ini tidak bertentangan dengan Dharma, tetapi sebaliknya bila menikmati kesenangan atau keinginan yang mengakibatkan penderitaan diri sendiri atau makhluk lain, hal ini akan bertentangan dengan Dharma dan patut dihindarkan. Tentang Dharma sebagai landasan untuk memperoleh Artha dan Kāma, sloka Sarasamuccaya 12 menyatakan sebagai berikut :

"Kāmārthaulipsamānastu dharmam evaditas caret, na hi dharmādapetyartah kāmo vāpi kadācana".

Terjemahannya :

"Pada hakekatnya jika Artha dan Kāma dicari, maka seharusnya Dharma hendaknya dilakukan terlebih dahulu; tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh Artha dam Kāma itu nanti; tidak akan ada artinya, jika Artha dan Kāma itu diperoleh menyimpang dari perbuatan Dharma".
Demikianlah seseorang yang ingin memenuhi keinginannya, hendaknya selalu berpedoman kepada Dharma. Seseorang yang memenuhi keinginan atau Kāma tanpa mengindahkan Dharma, yang bersangkutan tidak pernah merasakan puas dan tenteram, seperti seekor ngengat yang mencari nyala api yang disiram dengan bensin. Api semakin berkobar dan akhirnya ngengat mati karena keinginannya. Memenuhi berbagai keinginan yang tidak berdasarkan Dharma akan menimbulakan kesedihan atau penderitaan (Duhkha), sedang memenuhi keinginan berdasarkan Dharma pahalanya adalah kebahagiaan (Sukha).

d. Moksa

Tujuan hidup yang tertinggi adalah Moksa, kata Moksa berarti bebas atau lepas. Istilah lainnya adalah Nirwana (Nirbana), Nissresraya, Mukti, dan dalam bahasa Jawa Kuno disebut "mulih sangkan paraning sārat", yang artinya seseorang bebas dari ikatan indria, bersatunya Atman (roh) dengan Brahman (Tuahan Yang Mahaesa), kembali keasal yang sejati yang merupakan kebahagiaan yang tertinggi. Moksa dapat dicapai pada waktu hidup ini (Jiwan Mukti) dan di akhirat (Purnam Mukti).

Tentang Moksa, bersatunya Atman dengan Brahman dinyatakan dalam kitab suci Bhagawadgita, yang merupakan sabda Sri Krsna, Awatara Tuhan Yang Mahaesa, dalam Adhyaya IX, sloka 34 berikut :

"Manmanā bhava madbhakto madyājī mām namaskuru, mām ewai' syasi yuktvai'vam ātmānam matparāyanah".

Terjemahannya :

"Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbhakti kepada Aku, bersujud kepada Aku, sembahlah Aku dan setelah engkau mengendalikan dirimu dengan menjadikan aku tujuanmu teringgi, engaku akan bersatu dengan Aku".

Moksa sebagai tujuan tertinggi dapat dicapai melalui empat jalan yang umum, yang disebut Catur Marga, yaitu Bhakti Marga (jalan kebaktian, cinta kasih yang tulus dan pengabdian yang tekun), Karma Marga (jalan melalui kerja yang tekun, tulus iklas dan tidak terikat oleh pahala perbuatan), Jñāna Marga (jalan ilmu pengetahuan/Brahma Widya) dan Yoga Marga (jalan yoga Samadhi). Kekempat jalan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara murni sendiri-sendiri. Bagi seseorang yang melaksanakan Bhakti Marga, tidak akan sempurna pelaksanaan Bhakti itu bila tidak memiliki pengetahuan (Jñāna) tentang Tuhan Yang Mahaesa (Brahmawidhya), demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan uraian tersebut, umat Hindu memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih jalan mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Mahaesa, sesuai dengan kondisi pribadi pemahaman, maupun kemampuan nalarnya terhadap ajaran agama yang dianutnya.
Disamping tujuan hidup (Catur Purusārtha) diatas, setiap umat manusia mempunyai kewajiban (swadharma) masing-masing, sesuai dengan tingkatan hidup yang mesti dilaluinya. Tingkatan hidup manausia, secara tahap demi tahap harus dilalui disebut Catur Asrama, yang terdiri dari :

a. Brahmacari, yaitu masa anak-anak, artinya seorang yang berkecimpung dalam dunia pengetahuan disebut seorang Brahmacari. Pada tahapan ini, ajaran Dharma betul-betul menjadi perhatian, sebagai dasar meniti hidup selanjutnya.

b. Grihastha, artinya masa berumah tangga setelah menamatkan pendidikan Brahmacari. Pada masa ini Artha dan Kāma menjadi tuntutan hidup, tetapi memperolehnya hendaknya tetap berdasarkan Dharma. Seorang Grihastha wajib melaksanakan Yajnya, demi mewujudkan kesejahteraan diri dan masyarakat lingkungannya.

c. Wanaprastha, yaitu mulai mengurangi ikatan indria pada diri seseorang. Pada jaman dahulu seseorang yang telah lanjut usianya mengasingkan diri dari kehidupan duniawi pergi dan tinggal di hutan.

d. Samnyasa, yaitu masa melepaskan diri dari ikatan duniawi dan mempersiapkan diri untuk mencapai Moksa atau kelepasan, memberikan pendidikan/pengajaran kepada para pengikutnya.

Kewajiban manusia dibedakan pula atas Guna (Bakat) dan Karma (kemampuan/kerja)nya, sehingga seseorang menjadi profesional dibidangnya masing-masing. Kewajiban hidup (swadharma) atas dasar Guna dan Karma ini disebut Catur Warna, yang terdiri dari :

a. Brahmana, yaitu rohaniawan, cendikiawan, guru dan siapa saja yang memiliki kemampuan mendidik/memberikan kesejahteraan rohani.

b. Ksatria, yaitu pemimpin pemerintah, politisi, militer, ekskutif, dan sejenisnya.

c. Waisya, yaitu mereka yang bergerak untuk memakmurkan negara/masyarakat melalui usaha perekonomian, misalnya pedagang, petani, peternak dan sejenisnya.

d. Sudra, yaitu para pekerja yang hanya mengandalkan tenaga kerjanya, misalnya kaum buruh, pembantu rumah tangga dan sejenisnya. Pembagian swadharma atas dasar Guna dan Karma (profesi) ini dering disalah artikan dan disamakan dengan istilah Kasta yang berasal dari bahasa Portugis, yang diwariskan oleh seseorang secara vertikal genealogis.

Bila kita mengkaji lebih jauh tentang tujuan dan kewajiban hidup manusia menurut ajaran agama Hindu, maka jaran tersebut sangat relevan dengan tujuan dan udaha pembangunan Nasional yang sedang kita laksanakan. Dalam pembangunan Nasional titik beratnya adalah kwalitas manusia dalam rangka terwujudnya manusia seutuhnya, demikian pula menurut ajaran agama Hindu, bahwa tujuan dan kewajiban hidup manusia adalah untuk mencapai Jagadhita dan Moksa. Untuk mencapai kedua tujuan yang bersifat material dan spiritual ini, kwalitas manusia menurut ajaran agama Hindu adalah manusia yang memiliki "Sāstrāntrajnā", yaitu yang bertaqwa, bijaksana, dan bermoral luhur, dengan demikian manusia yang "Sudharma Sujana", atau sebagai disebutkan dalam kekawin Rāmāyana, mamnusia Susīla Subrata akan dapat diwujudkan.
"Kitab Weda adalah kitab untuk sesuatu golongan " : yang bunyi lengkapnya sebagai berikut : "Diantara pengikut-pengikut Weda, maka membaca kitab suci Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah maka Gotama Risyi berkata : "Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengocor cocoran timah dan malam dalam kepingnya, apabila seseorang Sudra membaca mantra-mantra Weda maka raja harus memotong lidahnya dan apabila ia berusaha untuk menbaca Weda, maka raja harus memotong badannya. (Gotama Smarti 12). Kutipan terjemahan tersebut diatas yang oleh pengutipnya diambil dari Smarta Gotama bab 12, berdasarkan hasil penyelidikan kami adalah tidak benar.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia diatas jelas diambil dari terjemahan bahasa Inggris yang sengaja diputar balikkan artinya. Seharusnya pengutip terjemahan bahasa Indonesia dari bahasa Inggris itu secara langsung menterjemahkan sendiri dari bahasa aslinya, yakni Bahasa Sanskerta, sehingga terjemahan kedalam bahasa Indonesianya sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Smerti itu sendiri. Untuk lebih jelasnya dan lebih memahami akan arti sesungguhnya dari arti Smarti Risyadi Gotama bab 12 itu, kami kutipkan naskah aslinya sebagai berikut :

.............. Wedam upa srnwatas trapu jatubyām srotra prati pūrnam ud āharane jihwāc chedo dhārane sarīra bheda āsanā sayana wāk pathisu sama prepsur dandyah satam .................................(gotama adhyaya xii, kal 3).

3. Satya (kejujuran)

Satya atau Satyam berarti kebenaran, dan kebenaran yang absolut adalah Tuhan Yang Mahaesa. Oṁ Tat Sat (Tuhan Yang Mahaesa adalah Sat itu). Didalam kitab Upanisad Tuahan Yang Mahaesa (Brahman) adalah Kebenaran (Satyam), Pengetahuan (Jñānam), Tidak terbatas (Anantam) dan merupakan sumber kebahagiaan (Anandam). Satyam atau kebenaran itu terdapat pula pada diri manusia, yang menjadikan manusia itu hidup (Atman). Atman adalah percikan terkecil dari Brahman (Satyam) yang mendorong manusia berbuat benar dan jujur. Di luar Atman terdapat badan halus (Suksmasarīra) dan badan wadag (Sthulasarīra) yang membungkus/membelenggu Atman dengan indrianya. Keadaan Atma yang terbelenggu oleh Suksmasarīra dan Sthulasarīra yang bersifat Maya ini menjadikan seorang sering berbuat tidak jujur dan tidak benar. Tentang kebenaran dan kejujuran harus dilaksanakan secara mutlak. Tentang kebenaran ini di dalam Mundaka Upanisad 3.6, dinyatakan :

"Satyam Eva Jayate Nantram, Satyena Vantha Vitato Devayānah, Yena Kramanty Rsayo Hyopta Kama Yatra Tat Satyasya Paraman Nidhanam"

Terjemahannya :
"Hanya kebenaran yang senantiasa jaya, bukan kejahatan. Dengan kebenaran terbukalah jalan menuju Tuhan. Kemanapun orang-orang bijaksana pergi, tercapailah keinginannya, mereka mencapai kebenaran yang tinggi".

Pada masyarakat maju, integritas seseorang yang didalamnya terdapat kejujuran, disiplin dan tanggung jawab merupakan syarat keberhasilan seseorang.

4. Tattwamasi (Solidaritas Sosial)

Menurut ajaran Hindu didalam semua makhluk ciptaan-Nya terdapat "Atman" yang merupakan asas hidup makhluk yang tidak lain adalah percikan dari Brahman. Brahman dan Atman adalah Tunggal (Brahmātma aikyam), sebenarnya Brahman adalah Atman ini (So va' ayam Atma Brahma) demikian dinyatakan dalam kitab Bhradaranyaka Upanisad 4.4.5. Demikian pula kalimat Tattwamasi (Chandogya Upanisad 5.8.7) yang artinya : Engkau juga adalah dia. So'aham Brahma (Aku juga adalah Brahma). Kesadaran akan tunggalnya Atma (roh) setiap makhluk menumbuhkan kesadaran bahwa manusia pada hakekatnya sama dengan manusia yang lain, sama dengan makhluk yang lain, yakni sama-sama merupakan ciptaan Brahman dan kembali kepada Brahman. Ajaran ini menumbuhkan cinta kasih, belas kasihan serta solidaritas sosial yang dalam sebagai diharapkan pula oleh Daisku Takeda dan Arnold Toynbee untuk menyelamatkan masa depan umat manusia.

5. Yajña

Kata yajña artinya korban yang tulus iklas atas dasar cinta kasih yang sejati. Menurut ajaran agama Hindu alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa (Prajapati) atas dasar yajña, karena itu manusia juga patut melakukan Yajña untuk memelihara dirinya. Penjelasan tentang yajña ini dapat dijumpai dalam Bhagawatgita III. 10 sebagai berikut :

"Saha yyajñahprajāh srtva puro'vāca prajāpatih, anena prasavisya dhavam esa vo'dtvista kāmadhuk".

Terjemahannya :
"Pada jaman dahulu Prajapati (Tuhan Yang Mahaesa) menciptakan manusia dan alam semesta atas dasar yajña, selanjutnya bersabda : "Dengan ini engkau akan berkembang dan menjadikannya sebagai Kamadhuk (yang memenuhi keinginanmu).

Berbagai bentuk yajña yang dapat dilaksanakan oleh umat manusia. Dalam bentuk upacara persembahan dikenal adanya 5 macam yajña (Pañca yajña : Dewa, Rsi, Pitra, Manusia, dan Bhuta yajña). yajña bukanlah pemborosan, sebab dengan Yajña kesejahtraan hidup jasmani dan kebahagiaan rohani akan dapat diwujudkan. yajña erat hubungannya dengan ajaran Karma, dan ajaran Karma merupakan Etos kerja umat Hindhu dalam mensukseskan pembangunan.

6. Dana-Punia

Dana punia berarti pemberian/materi kepada mereka yang memerlukan. Setiap orang wajib memberikan bantuan/dana kepada siapa saja yang memerlukan. Ajaran Dana punia ini tercantum dalam kitab suci Ṛgveda X.117.1b,3 dan 6 sebagai berikut :

"Uto Rayih Prnato Nopa Dasyatya Taprnam Marditaram Na Vindate".

Terjemahannya :
"Kekayaan orang yang dermawan tidak akan sia-sia, tetapi orang yang tidak mau memberikan dana punia, tidak akan ada penolongnya ketika ia memerlukan bantuan".

"Sa idbojo yo grhawe dadāti annakāmāya carate krarabhasmi bhavati yāma hūtā, uttaparisu krnute sakhāyam"

Terjemahannya :
"Sesungguhnya orang akan mendapat kesenangan jika kekayaannya dapat dipergunakan untuk berdana punia kepada orang yang lemah yang memerlukan nafkah. Jika seseorang mendapat harta, disumbangkannya pada saat yang tepat, maka ia akan mendapat bantuan pada saat ia memerlukan.

"Moghamannam Cindate Aperacetāh, Satyam Bravīmi Vada Itsa Tasya, Nāryamanam Pusyati Ni Sakhyam, Kevala Go Bhavati Kepalādi".

Terjemahannya :
"Orang yang tidak berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat baik, menyebabkan keruntuhannya sendiri. Sesungguhnya orang yang menikmati kekayaannya sendiri tanpa memberikan bantuan kepada orang lain, ia adalah penjelmaan dosa itu sendiri".
Tentang bagaimana seseorang mencari harta benda untuk selanjutnya dijadikan dana punia, dalam Panca Tantra (Pratanam Tantram Mitrabedham) dinyatakan sebagai berikut :

"Alabdham Artham Lipseta Labdham Raksed Aveksaya, Raksitam Vardha Yem Nityam Vrddham Patresu Niksipet"

Terjemahannya :
"Bila seseorang tidak memiliki artha, haruslah ia mencarinya. Bila ia telah mendapatkan artha, hendaknya ia memjaganya baik-baik. Setelah ia menjaganya, hendaknya ia mengembangkannya. Setelah menjadi banyak hendaklah ia berikan kepada siapa yang patut menerimanya".

Ajaran dana punia ini sangat mendukung kesederhanaan dan solidaritas sosial serta pembangunan di bidang ekonomi seperti koprasi dan sebagainya.

7. Ahiṁsa-Anṛsaṁsya.

Kata Ahiṁsa artinya tidak membunuh atau menyakiti hati sedang Anṛsaṁsya berarti tidak mementingkan diri sendiri. Kedua ajaran ini merupakan landasan tata susila Hindu. Ahiṁsa dikatagorikan sebagai perwujudan Dharma yang tertinggi sebagai disebutkan dalam Yoga Samgraha 1, berikut :

"Ahimsāyāh Paro Dharmah"

Terjemahannya :
"Kebajikan yang tertinggi pada Ahiṁsa". Demikian pula dalam naskah Pancasiksa :

"Ahiṁsa Sarvabhutanam Karnamam Manasa Gira"

Ahiṁsa tidak membunuh segala makhluk lebih-lebih manusia, memberi kata-kata yang tidak selayaknya dan tidak berhasrat jahat terhadap orang lain".

Di samping Ahiṁsa, Anṛsaṁsya juga digolongkan kebajikan yang tertinggi, dalam bahasa Jawa Kuno disebut Mukhyaning Dharma. Tentang Anṛsaṁsya ini Sarasamuccaya, 66 menyatakan :

"Anṛsaṁsya Paro Dharmah Ksamā Ca Parnam Balam".

"Tidak mementingakan diri sendiri itulah Dharma yang utama, sifat sabar dan tahan uji adalah kekuatan yang hebat". Ajaran Ahiṁsa dan Anṛsaṁsya ini sesuai dan relevan dengan butir-butir pengamalan Pancasila (P.4) yang patut dilaksanakan oleh setiap orang.

8. Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana berarti tiga hal (Karana) yang menjadikan bahagia (Hita). Tiga hal atau unsur tersebut adalah Prajāpati (Tuhan Yang Mahaesa), Prajā (manusia) dan alam lingkungan manusia. Hubungan ketiganya ini dilandasi oleh Yajña, sehingga menumbuhkan keharmonisan hidup (Lihat pula butir tentang Yajña di atas). Tri Hita Karana ini menjadikan landasan desa Sukertāgama (desa sejahtera karena kehidupan agama) yang lebih populer dengan nama desa Adat di Bali. Prajāpati diejawantahkan dengan Parhyangan (Kahyangan Tiga/tiga tempat pemujaan desa/tempat Memuja Hyang Tri Murti). Prajā diejawantahkan dengan Pelemahan (teritorial desa Adat).

Keharmonisan tiga unsur (Parhyangan, Pawongan, Palemahan) ini menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan desa adat di Bali. Ajaran ini juga merupakan landasan pelestarian lingkungan hidup, yang senantiasa mendapat perhatian di tingkat Nasional.

9. Abyasa dan Wairāgya.

Abyasa artinya membiasakan diri dan Wairāgya artinya mengendalikan diri. Pengendalian diri juga diamanatkan dalam pengamalan Pancasila (P.4) hendaknya selalu dibiasakan. Demikian pula membiasakan diri untuk berbuat baik, mengamalkan ajaran agama merupakan syarat berhasilnya meniti hidup. Tentang Abhyasa dan Wairāgrya dapat dijumpai keterangan didalam Bhagawatgītā VI.35 sebagai berikut :

"Asamsayam Mahābāho Mano Durnigraham Calam Abyasena Tu Kauntena Wairāgya Ca Grhyate"
Terjemahannya :
"Sudah dapat dipastikan, oh Arjuna, pikiran itu sulit dikendalikan, akan tetapi ia dapat dikuasai. Dengan membiasakan diri (melatih diri) untuk mengendalikan diri, ia dapat dikuasai".
Demikian, membiasakan untuk mengendalikan diri diamanatkan pula dalam ajaran agama Hindu.

10. Guru Bhakti sebagai landasan disiplin hidup.

Didalam naskah-naskah Sīlakrama (tata tertib menjadi Pendeta Hindu) dalan bahasa Jawa Kuno disebutkan adanya : "Tri kang sianggeh Guru lwirnya : Guru Rupaka, Guru Pengajian, muwang Guru Wisesa", yang terjemahannya : Tiga yang disebut Guru, yaitu : Guru Rupaka (Ibu Bapak), Guru Pengajian (pendidik), dan Guru Wisesa (Pemerintah).

Setiap umat manusia wajib hukumnya untuk hormat dan patuh (hawya dan bhakti ring guru) merupakan landasan dari disiplin hidup. Disamping Tri Guru diatas, Guru yang tertinggi adalah Sang Hyang Widhi, Ia disebut Paramesti Guru (Guru Swadyaya). Keempat Guru itu disebut Catur Guru. Bila setiap orang mampu melaksanakan Guru Bhakti niscaya disiplin hidup, disiplin pribadi, dan disiplin Nasional akan dapat diwujudkan.

11. Swadharma, Dharma Negara dan Dharma Agama.

Fritz Heinemann, seorang filsuf yang mempunyai nama melihat dalam dunia Barat adanya kecendrungan yang kuat untuk melihat manusia dari sukses yang dicapainya. Orang yang tidak berprestasi dianggap bukan manusia yang patut dinilai sebagai manusia baik. Akan tetapi apa bahaya dari kebiasaan ini ?. Dengan adanya kecendrungan untuk mengejar prestasi ini yang pada umumnya diukur dengan prestasi material, maka manusia menjadi budak benda-benda (yang dikejar) dan karenanya ia menjadi manusia yang kehilangan kebebasannya. Martabat diri yang agung diturunkan menjadi hamba sang majikan baru yang bernama pretasi atau sukses. Kita boleh telaah pandangan Heinemann. Apabila dirinya sendiri diturunkan, tentu saja ia tidak ragu-ragu menurunkan martabat manusia yang lain. Jadi, bahaya pertama dari kecendrungan Barat adalah bahwa nilai Intrinsik ditukar degang nilai Ekstirnsik, karena itu Heinemann mengingatkan kita akan kebenaran ajaran dalam Bagawadgita, sebagai berikut :

"Sreyān Svadharmo Vigunah Paradharmāt Svanusthitāt, Svabhāvaniyatam Karma Kurvan Nā' Pnoti Kilbhasam"

Terjemahannya :
Tunaikan tugas atau kewajibanmu tanpa keterikatan walapun tidak sempurna, dari pada melakukan tugas orang lain walapun dengan sempurna, sesungguhnya bila melakukan tugas kewajiban sendiri sesuai sifatnya (tanpa keterikatan) akan mencapai kesempurnaan.
Jadi menurut ajaran Agama Hindu, nilai seseorang diukur dari keberhasilan seseorang melaksanakan swadharma atau kewajiban hidupnya. Apabila setiap orang melaksanakan tugas dan kewajiban (swadharma) nya masing-masing, maka ketentraman hidup dan ketentraman masyarakat akan dapat diwujudkan.

Disamping swadharma yang berhubungan dengan tugas masing-masing, ketaatan kepada Pemerintah (Negara) dan ketaatan menjalankan ajaran agama merupakan swadharma yang merupakan tugas hidupnya. Kedua ketaatan ini dalam ajaran agama Hindu disebut Dharma Negara dan Dharma Agama.

12. Sama-Bheda-Dana Danda.

Pembangunan terutama dibidang ekonomi menurut Arthasāstra karya Kautilya disebut Warta dan Warta (perekonomian) akan berkembang bila Pemerintah menegakkan Hukum (Danda). Demikian pula hukum ditegakkan, semua kewajiban hidup bermasyarakat akan berjalan harmonis. Arthasāstra I.2.6 menyatakan :

"Catur varnāsramo loko rājnā dandena pālitah swadharmamaharmā vartate svesu vismasu".

Terjemahannya :

"Masyarakat yang terdiri atas Catur Warna dan Catur Asrama, bila diperintah oleh seorang raja dengan Danda (hukum), akan menuntun mereka pada swadharmanya masing-masing, bahkan juga mengakrabkan pengabdian mereka pada tugas dan pekerjaan mereka sehari-hari". Bila Pemerintah ingin menegakkan hukum dan keadialan hendaknya tetap berpegang kepada Catur Upaya Nayasandhi, yaitu :

a. Sama : melihat dam memandang sama (kedudukannya dalam hukum dan kedilan).

b. Bheda : melihat perbedaan atas baik buruk, benar dan salah, malas dan rajin pengabdian seseorang.

c. Dana : memberikan hadiah kepada yang patut menerimanya.

d. Danda : menghukum mereka yang patut dihukum (bersalah).

Demikian beberapa aspek teosofi yang dapat dipetik dari ajaran agama Hindu sebagai bahan kontribusi dalam pembangunan Nasional.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dayananda Sarasvati,1974 Maharishi, The Rg Weda, Vol.I, Sarvadeshik Arya Pratinidhisabha New Delhi, India.

2. Kajeng, I Nyoman :1988 Sarasamuccaya, PT. Daya Praza Press, Jakarta.

3. Prabhu, Pandharinath:1954 Hindhu Social Organization, Popular Book Depot, Bombay, India.

4. Puja, Gde :1982 Bhagawadgita, Mayasari, Jakarta.

5. Sura, I Gede :1982 Puja Trisandhya, PGA Hindu Negeri Denpasar, Denpasar.

6. -------------------------1989 Asas dan realisasi ajaran agama Hindu, Seminar Dharmatula, Denpasar.

7. Titib, I Made :1986 Mandukya Upanisad, Institut Hindu Dharma, Denpasar.

8. ----------------------- :1986 Weda Welaka, Dharma Nusantara Bahagia, Jakarta

9. Toynbee, Arnold, Daisaku Takeda, :1987 Perjuangan Hidup, sebuah Dialog, P.T. Indira, Jakarta.

10. Wesnawa, I B. S. : 1986 Perdamaian dunia dari sudut pandang ajaran agama Hindu, Stadium Generale Duta Wacana, Jakarta.

11. ---------------------- :1987 Beberapa aspek realisasi pengamalan Pancasila pada masyarakat Hindu di Bali, Institut Hindu Dharma, Denpasar.

12. Wiryatnaya, Usadi :1989 Umat Hindu Dharma menjawab tantangan jaman, Haraian Bali Post, 21 Juni 1989, Denpasar.




 

Comments (1)Add Comment
0
...
written by Vedasastra, April 05, 2010

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Friday, 22 January 2010 13:44
 

Your Hand On Works But Your Heart On God

Latest Comments