|
Om SWastyastu

a. Evolusi
Menyamakan Purusa dengan Prakrti akan menyebabkan adanya kelahiran dan kematian. Inilah sifat Aviveka, tidak mampu membedakan tidak bijaksana, tidak berpengetahuan atau bodoh. Apabila kita dapat membedakan antara purusa dengan prakrti dapat memberikan kebebasan atau mukti. Prakrti adalah substansi yang fundamental, yang mendasar dari mana Dunia berkembang. Dalam keadaan keseimbangan (samyavastha), maka tidak ada gerakan. Keadaan istirahat seperti ini merupakan keadaan yang hakiki dari Prakrti. Menurut Samkhya seluruh alam ini terbentuk sebagai akibat dari interaksi prakrti dengan purusa. Interaksi ini tidak seperti halnya hubungan antara laki dan perempuan dalam dunia materiil, tapi hubungan sebagai akibat pengaruh purusa pada prakrti, seperti halnya badan manusia bergerak karena adanya pikiran. Evolusi tidak akan terjadi hanya adanya sang diri atau purusa, yang pada dasarnya tidak aktif, ataukah hanya adanya prakrti, karena ia tidak sadar. Aktivitas prakrti harus diarahkan oleh purusa yang cerdas.
Kerja sama antara keduanya, purusa dan prakrti, barulah memungkinkan terjadi evolusi. Walaupun tidak ada aktivitas tetapi ia memiliki kecenderungan untuk beraktifitas. Aktivitas terjadi pada saat tri guna dalam keadaan tidak seimbang yang mempengaruhi prakrti. Prakrtilah yang merupakan pelaku dan merupakan sumber segala yang ada di alam semesta ini termasuk diri kita sebagai manusia. Badan adalah milik dari ahamkara, lewat manas (pikiran) ia membuat kegiatan lewat organ-organ kegiatan (karmendrya). Ahamkara bersama sama dengan tri guna yang berpengaruh dominan terhadap badan, menentukan karakter keperibadian seseorang.
Filsafat Samkhya adalah Nir Isvara Samkhya artinya Samkhya tanpa Isvara. Ajaran Samkhya tidak mempercayai adanya Tuhan. Penciptaan berasal dari Prakrti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan Purusa. Jadi tak perlu adanya pencipta yang cerdas. Prakrti merupakan sumber dari alam semesta (pradana = pokok) karena semua akibat ditemukan padanya. Prakrti merupakan penyebab dari semua akibat, meresapi segalanya, tak dapat digerakkan dan cuma satu adanya. Prakrti hanya tergantung pada tri guna. Tri gunalah yang membentuk substansi prakrti. Disamping itu prakrti juga berkembang dibawah pengaruh Purusa. Lewat interaksi antara purusa dan prakrti terjadi gangguan keseimbangan pada guna yang merupakan tahap awal dari manifestasi itu. Pada saat pertemuan antara Purusa dan Prakrti terjadi ketidak seimbangan tri guna, sehingga menimbulkan evolusi pengembangan dan penyusutan.
Perwujudan produk awal dari evolusi adalah Mahat (Kecerdasan Utama). Mahat merupakan benih alam semesta, dimana bersatunya purusa dengan prakrti. Sebagaimana kita ketahui bahwa prakrti merupakan substansi material yang tidak sadar, namun menjadi sadar dan sadar akan dirinya sadar sebagai akibat mendapat penerangan dari purusa yang memancarkan cahaya dan melihat dirinya sendiri. Proses melihat ini merupakan awal terciptanya alam semesta. Rekan pendamping dari mahat yang merupakan unsur psikologisnya disebut Buddhi. Buddhi merupakan azas kejiwaan dan Mahat adalah azas kosmis. Azas Kejiwaan (buddhi) merupakan unsure halus dari manusia yang mempunyai kemampuan untuk tahu keseluruhan personalitas yang murni. Buddhi merupakan hasil yang langsung dan segera dari prakrti yang merupakan hasil dari pengarahan purusa sehingga buddhi merupakan hasil evolusi yang paling dekat dengan purusa. Buddhi dimanifestasikan dari unsur sattvika dari prakrti yang pada hakekatnya, tanpa bobot, jelas dan terang sehingga dipengaruhi lebih cepat oleh kekuatan aktif dari penciptaan, bila dibandingkan dengan tamas yang pada hakekatnya berat dan tidak jelas atau gelap. Oleh karena sifat sattvika dari buddhi cahaya dari sang diri memantul ke dalam intelek seperti halnya obyek-obyek eksternal dipantulkan oleh permukaan yang jernih dari sebuah cermin. Sang diri melihat pantulannya di dalam cermin buddhi dan menganggap dirinya sama dengan bayangan di cermin itu sehingga lupa dengan hakekat dirinya yang benar. Perasaan keakuan dipancarkan oleh buddhi, dimana buddhi mulai tidak sadar yang merupakan prinsip ketidak sadaran selanjutnya.
Menurut filsafat Samkhya, buddhi memiliki delapan sifat-sifat : Kebajikan (dharma) – Pengetahuan (jnana) – Ketidakterikatan (vairagya) – Kesempurnaan (aisvarya) – Ketidakbajikan (adharma) – Kebodohan (ajnana) – Keterikatan (avairagya) – Ketidaksempurnaan (anaisvarya). Empat pertama merupakan bentuk sattvika daro buddhi dan empat yang terakhir merupakan bentuk penguasaan dari kebodohan atau tamas. Semua sifat-sifat di atas kecuali pengetahuan, mengikat prakrti dan melibatkan sang diri ke dalam buddhi, sehingga mengikatnya dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat duniawi yang menyengsarakan. Sang diri yang murni keliru mengidentifikasikan dirinya sebagai buddhi sehingga ia mengira bahwa apa yang dialami oleh buddhi merupakan pengalamannya sendiri. Tetapi dengan mempergunakan delapan sifat dari buddhi, pengetahuan (jnana), memantulah pengetahuan murni yang sudah disaring dengan baik ke dalam purusa lewat cerminnya sehingga purusa menjadi sadar akan kekeliruan tentang dirinya yang menidentifikasikan dirinya sama dengan obyek-obyek dari buddhi dan mengenal hakekatnya yang transenden penuh dengan kemurnian. Dengan demikian buddhi yeng berfungsi sebagai decision maker berada paling dekat dengan sang diri dan berfungsi langsung sebagai sang diri yang memungkinkannya membedakan antara dirinya sendiri dengan prakrti dan dengan demikian mencapai tingkat kesadaran akan hakekat kebebasannya.
Buddhi merupakan tempat dimana kecakapan mental, pertimbangan dan keputusan-keputusan dibuat, baik keputusan moril maupun intelektual. Buddhi menimbulkan ahamkara yang merupakan azas ke akuan, yang menyebabkan segala sesuatu memiliki latar belakang kepribadiannya sendiri.
Ahamkara muncul dari mahat atau buddhi, merupakan peralatan duniawi dari keindividuan yang menghasilkan batas materiil dari keakuan. Kekeliruan identitas ini memisahkan seseorang dengan orang lainnya dimana focus pikirannya pada materi dan berfikir bahwa “ Aku adalah badan ini, ini adalah milikku dan ini adalah untukku”. Ada tiga jenis ahamkara yaitu, ahamkara sattvika, ahamkara rajas dan ahamkara tamas yang tergantung dari triguna yang mana yang mendominasi ahamkara itu. Sebelas indra muncul dari ahamkara sattvika, yang terdiri dari lima indra persepsi (mendengar, menyentuh, melihat, mencicipi/merasa, mencium), lima indra pelaksana (action) (verbalization, apprehension, locomotion, excretion, dan procreation) dan satu indra pengatur atau pusat dari indra yaitu pikiran (manas). Ahamkara tamas menghasilkan lima unsur halus (panca tanmatra) yang merupakan sari-sari yang diterima oleh panca indra persepsi kita (sari suara, sari sentuhan, sari warna, sari rasa, dan sari bau). Fungsi dari ahamkara tamas ini adalah untuk memotivasi dua guna lainnya yang menyebabkan penciptaan berlangsung melalui dua aspeknya yaitu : Unsur-unsur indra dan lima unsur halus atau tanmatra, namun pendapat para komentatornya yang beragam. Penjelasan ini dapat kita temukan pada Samkhya-Karika yang merupakan sebagian besar tulisan dari filsafat Samkhya. Semua para sarjana setuju bahwa hidung, lidah, mata, kulit dan telinga adalah organ-organ fisik yang merupakan pembungkus dari indra pengenalan (cognitive senses). Begitu pula mulut, lengan, kaki, excretion dan reproduksi yang sesuai dengan lima indra pelaksana atau lima indra penggerak (verbalization, apprehension, locomotion, excretion dan procreation). Organ-organ fisik ini bukanlah indra tetapi unsure fisik yang diberikan kekuatan dari indra. Dengan demikian indra tidak dapat diketahui lewat persepsi tapi hanya dapat dikenal lewat penyimpulan dari aktivitas organ-organ fisik yang diberikan kekuatan oleh indra itu.
Ahamkara menghasilkan Manas (pikiran), yang merupakan pusat dari indra. Pikiran mengkoordinir rangsangan-rangsangan dari indra, mengaturnya sedemikian rupa sehingga terjadi petunjuk-petunjuk yang kemudian diteruskan kepada Ahamkara dan Buddhi. Pikiran adalah boss dari semua indra eksternal, artinya bahwa tanpa pengaturan dan pengarahan dari pikiran indra eksternal itu tidak berfungsi. Pikiran adalah merupakan indra yang sangat halus dan memiliki banyak aspek sehingga dapat berhubungan dengan beberapa indra pada waktu yang bersamaan. Menurut filsafat Samkhya pikiran bukanlah sebuah atom dan tidak kekal. Pikiran merupakan hasil dari prakrti, dengan demikian ia merupakan hasil ciptaan sehingga pada suatu saat ia akan musnah. Indra cognitive kontek langsung dengan obyek-obyek dan meneruskan pengetahuannya kepada pikiran yang kemudian data-data itu diinterpretasikan sebagai persepsi yang dibutuhkan atau tidak dibutuhkan. Selanjutnya ahamkara menghubungkan dirinya dengan obyek-obyek persepsi itu dan mengidentifikasi dirinya sebagai yang menginginkannya atau yang tidak menginginkannya. Intelek atau buddhi memutuskan bagaimana caranya menghadapi atau menyikapi obyek-obyek eksternal itu. Buddhi, Ahamkara dan Manas secara bersama-sama disebut sebagai peralatan batin (Antah Karana) atau juga disebut sebagai indra internal. (Harun, Hal.66).
Pengembangan Panca Indra Persepsi (Panca Buddhendriya atau Panca Jnanendriya) yang terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Panca indra persepsi pengelihatan dapat menangkap kesan warna, apakah warna itu merah ataukan biru dan sebagainya. Panca indra persepsi pendengaran menangkap kesan dari suara apakah suara itu suara ledakan atau suara berupa nyanyian yang mendayau-dayau, sedangkan kesan bau yang ditangkap apakah busuk atau wangi dilakukan oleh panca indra persepsi penciuman. Panca indra persepsi perasa menangkap kesan pedas ataukah pahit, manis, sedangkan kesan halus dan lembut seperti sutra, keras, kasar ditangkap oleh panca indra persepsi peraba. Panca indra persepsi ini merupakan alat bantu kejiwaan dari badan halus (Antah karana).
Pengembangan Lima Organ Penggerak Indra (Panca Karmendriya) yang terdiri dari Daya untuk Berbicara, Daya untuk Memegang, Daya untuk Berjalan, Daya untuk Membuang Kotoran dan Daya untuk Mengeluarkan Benih (sperma dan ovum). Panca indra penggerak ini mempunyai kepampuan melakukan aktifitas merupa gerakan sehingga manusia dapat berbicara, dapat memegang sesuatu, melakukan aktifitas berjalan, berak maupun mengeluarkan air mani ataupun ovum. Ia juga merupakan alat bantu kejiwaan dari badan halus (Antah karana) Kesepuluh Indra ini tak dapat dilihat, semuanya berada di dalam alat masing-masing. Hal-hal yang bisa kita lihat hanyalah alat-alatnya saja. Lewat perantaraan alat-alat yang tampak tadi itulah kita dapat mengamati dan mengenal obyek-obyek diluar diri kita.
Kelima unsur indra ini dapat diketahui lewat penyimpulan, yang berkembang setelah sepuluh indra ada dan kelima unsure ini merupakan penyebab munculnya unsure-unsur kasar yang diturunkan secara gradual dalam suatu proses tahap demi tahap. Pertama yang berkembang adalah tanmatra yang merupakan hakekat dari bunyi (sabda) dan berikutnya adalah ether (akasa) dan unsure ruang. Maka dari itu unsur ruang mengandung sifat bunyi yang dapat ditangkap melalui telinga. Unsur udara yang diturunkan dari hakekat sentuhan (sparsa tanmatra) yang berkombinasi dengan bunyi. Maka dari itu unsur udara mengandung sifat bunyi dan sentuhan, walaupun sentuhan merupakan sifat yang khusus dari udara yang dapat ditangkap atau dirasakan melalui kulit. Unsur api diturunkan dari hakekat warna (rupa tanmatra). Ia mengkombinasikan sifat suara, sentuhan dan warna alatnya yang khusus adalah pengelihatan, yang dapat ditangkap dengan mata. Unsur air diturunkan dari hakekat kecapan atau rasa (rasa tanmatra). Ketiga ciri yang terdahulu yaitu suara, sentuhan dan warna ditemukan di dalamnya termasuk juga sifatnya yang khusus yaitu kecapan atau rasa yang dapat ditangkap dengan lidah. Hakekat dari penciuman (gandha tanmatra) menghasilkan unsur tanah yang peralatan khususnya adalah bau yang dapat ditangkap oleh lubang hidung. Unsur terbesar ini mengandung keempat sifat sebelumnya.
Semua ini masuk tahapan kedua yaitu pembentukan lima unsur-unsur kasar (Panca Maha Buta) yang timbul dari kombinasi lima unsur – unsur halus dan mempunyai sifatnya sendiri-sendiri sebagai berikut : (Maswinara, Hal.46)
1. Unsur suara menimbulkan ether atau ruang (akasa) dengan sifat suara
2. Unsur suara+raba menimbulkan udara (vayu) dengan sifat raba
3. Unsur suara+raba+warna menimbulkan api (tejah) dengan sifat warna
4. Unsur suara+raba+warna+rasa menimbulkan air (apah) dengan sifat rasa
5. Unsur suara+raba+warna+rasa+bau menimbulkan tanah (prthivi) dengan sifat bau.
Dari lima unsur kasar inilah alam semesta beserta isinya (jagat) berkembang, seperti bumi, gunung-gunung, sungai, pepohonan dan mahluk hidup lainnya. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa alam semesta beserta isinya merupakan perubahan secara evolusi dari Prakrti. Unsur-unsur kasar yang ada pada suatu pohon akan selamanya ada di dalam pohon itu. Tetapi kalau pohon itu mati maka unsur-unsur kasar yang membentuknya akan terurai kembali ke unsur-unsur yang membentuknya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses evolusi berjalan dalam duapuluh empat langkah, yang bermula dari akar penyebab yaitu prakrti dan berakhir pada unsur tanah yang merupakan unsur yang terkasar. Proses ini dapat dibagi menjadi dua proses besar yaitu : Katagori pertama, perkembangan prakrti menjadi buddhi, ahamkara, dan sebelas unsur-unsur indra, katagori kedua, evolusi dari lima unsur halus dan lima unsur kasar.
Katagori pertama dapat dibagi menjadi dua yaitu pembentukan indra-indra internal atau indra yang halus (antahkarana) dan pembentukan indra-indra eksternal (bahyakarana). Katagori kedua juga dibagi menjadi dua bagian yaitu sifat-sifat yang tidak spesifik, tidak khusus seperti sifat dari lima unsure-unsur halus yang tidak bisa dikenal dan dinikmati oleh manusia biasa dan sifat spesifik, khusus (visesa) yaitu sifat lima unsure kasar yang memiliki sifat-sifat khusus yang dapat dinikmati, menyakitkan atau membuai. Manifestasi khusus ini dapat diuraikan menjadi dua yaitu unsur-unsur kasar eksternal dan tiga jenis badan (badan fisik, badan halus dan badan penyebab).
b. Involusi (Pengkerutan).
Pada suatu saat nanti alam semesta yang telah terbentuk ini akan dilebur kembali atau mengalami pralaya, maka apa yang telah terbentuk itu akan dilebur kembali dengan gerakan yang berlawanan dengan tahapan-tahapan gerak pada waktu pengembangannya dan terakhir ia akan lebur kedalam Prakrti. Itulah proses penyusutan atau penguncupan yang tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir.
Om Santih Santih Snatih Om
|