Om Swastyastu-Salam kasih
Pengertian umum
Pujian adalah semacam doa yang dalam sehari-harinya disebut mantra atau stuti. Mantra adalah ayat-ayat suci yang dipergunakan untuk melakukan pemujaan karena itu mantra itu juga dinamakan doa, tetapi sebagai alat doa itu adalah mantra. Kata lain yang sering dipergunakan yang sama artinya ialah stotra atau stawa. Jadi stawa atau stotra adalah ayat-ayat yang dipergunakan untuk melakukan pujian kepada Tuhan atau lainnya.
Di dalam kitab Atharwaweda XII,1.1 sebagai mana kita telah baca di atas, istilah yang sama artinya dengan kata doa atau mantra itu adalah “b r a h m a”. Sedangkan dalam ayat lain kita jumpai penggunaan istilah stuti untuk pujaan.
Adapun kata-kata yang telah disebutkan di atas itu, dalam penggunaan sehari-harinya sering kita jumpai dipertukarkan sehingga terjadilah kesalahan penggunaan dari pada kata-kata itu tanpa disadari. Dalam hal ini pemakai tidak dapat membedakan penggunaan antara stawa dan stuti di mana dengan kata stawa diartikan sama dengun pemujaan.
Kata stawa sebenarnya berarti pujian sedangkan kata stuti berarti melakukan pemujian. Dalam Upanisad terdapat kalimat “stunwanti devyai stawai”, yang artinya “memuja dengan lagu pujaan yang kudus.” Dari kalimat itu, kata stunwanti (stuti) adalah kata kerja, yaitu memuja sedangkan kata stawai (stawa) adalah kata benda, yaitu dengan lagu pujaan yang dipergunakan dalam pemujaan itu.
Dalam kehidupan beragama, unsur kepercayaan akan doa (brahma) merupakan bagian yang sangat penting sekali. Dalam setiap kejadian, doa selalu disampaikan untuk segala tujuan. Ini merupakan ciri khas dari tata kehidupan beragama. Tanpa percaya akan kedudukan dan penggunaan doa itu, maka tidaklah ada artinya doa itu. Oleh karena telah disadari bahwa doa itu penting, karena itu doa adalah merupakan bagian dari unsur keimanan dalam beragama menurut ajaran agama Hindu.
Pada mulanya istilah brahma berarti “pujian atau pemujaan,” tetapi dalam perkembangan selanjutnya istilah brahma itu berobah artinya dari yang semula dimaksudkan adalah ayat-ayat mantra yang dipergunakan dalam pemujaan menjadi gelar yang diberikan kepada yang dipuja, yaitu Tuhan yang disebut sebagai Brahma yang artinya “Lord of prayer”, yaitu Ia yang berkuasa atas sabda (pujian).
Fungsi dan tujuan doa
Telah dikemukakan bahwa doa adalah salah satu dari pada unsur keimanan dalam agama Hindu sebagaimana dijelaskan berdasarkan Atharwaweda, XII,1.1. Dengan fungsi kedudukan doa sebagai salah satu unsur sraddha dalam agama, menyebabkan kedudukan doa dalam agama sangat penting sekali artinya.
Fungsi lainnya dari pada doa tergantung pada tujuan dari pada penggunaan doa itu. Tujuan berdoa itu apa ? Banyak jawaban yang dapat diberikan mengenai tujuan berdoa itu. Seorang yang lagi susah, maka berdoa berarti bagi mereka sebagai permohonan untuk supaya Tuhan mau mendengarkan permintaan mereka, misalnya supaya beban deritanya dapat diringankan. Tetapi bagi mereka yang dalam keadaan biasa, doa bagi mereka adalah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Orang yang tengah melakukan upacara, doa mereka adalah memohon agar mereka dapat diberikan kesucian sehingga dengan demikian mereka dapat melakukan sembahyang mereka dengan sempurna. Permohonan kesucian ini diperlukan oleh mereka yang tengah melakukan upacara keagamaan itu karena di dalam Weda telah dinyatakan dengan tegas, bahwa Tuhan bersifat suci yang hanya dapat didekati oleh sifat-sifat yang suci pula. Karena itu dalam setiap upacara yang dilakukan terlebih dahulu diadakan upacara pensucian (prayascitta, atau melakukan pensuddhaan). OM SUDDHA MAM SWAHA atau OMKARA SUDDHA MAM SWAHA yang artinya “Tuhan sarwa sekalian alam jadikanlah hamba suci. Om atau Omkara adalah seruan kepada Tuhan sarwa sekalian alam.
Di samping itu orang yang tengah memperoleh rejeki atau kebahagiaan karena mendapatkan apa yang diharapkan, maka doa mereka adalah sebagai tanda terima kasih atas kebahagiaan yang diperolehnya. Demikian pula bagi mereka yang baru sembuh dari sakitnya, mereka akan menyampaikan doa yang isinya sebagai pernyataan terima kasih.
Telah menjadi kebiasaan, bahwa dalam setiap doa itu selalu dikemukakan sebagai pengharapan agar Tuhan selalu memberikan rakhmat kepada mereka. Dengan demikian maka kedudukan doa dapat dikatakan sangat luas. Fungsi dan tujuannya tidak selalu sama, tergantung dari mana kita melihatnya. Yang penting bahwa apapun fungsinya dan apapun juga tujuannya, bahwa doa itu mempunyai arti dalam kehidupan mereka yang iman. Karena itu dasarnya adalah keimanan atau percaya atas kebenaran isi dari pada doa itu.
Dengan adanya doa itu akan terlihatlah bagaimana hubungan manusia dengan yang disembahnya. Pentingnya unsur doa dalam kepercayaan agama Hindu karena didasarkan atas satu kepercayaan yang bersumber pada Weda pula, yang isinya antara lain :
a. Tuhan adalah juru selamat dari pada umat manusia (Rg Weda VI, 47.ll) sehingga dengan demikian layaklah kalau manusia akan minta kepada Tuhan untuk memberi perlindungan dan menyelamatkan diri mereka dari segala mara bahaya.
b. Tuhan yang harus didekati dengan penuh kesucian karena Tuhan bersifat suci (Yang Maha Suci) (Rg Weda IX, 73.6) sehingga dengan demikian untuk dapat diterima dalam pemujaan itu layaklah kalau sebelum melakukan pemujaan mereka memohon kesucian dengan menjauhkan dari segala godaan setan (Bhuta, Kala, dan sebagainya) yang beraneka jenis ragamnya yang menyebabkan kesesatan dan kekotoran.
c. Manusia pada dasarnya mempunyai kesadaran selalu berdosa dan tidak sempurna (Yajur Weda 8.12) sehingga dengan demikian selalu akan timbul perasaan dalam diri manusia itu untuk memohon agar mereka disempurnakan dan dibersihkan dari semua dosa yang ada pada diri mereka, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang terjadi karena hal-hal yang tidak sengaja. Kesadaran yang dirasakan bahwa dirinya tidak sempurna, sehingga menjadi dasar bagi mereka untuk selalu memohon agar diberikan kesempurnaan.
Untuk jelasnya perhatikanlah baik-baik mantra berikut ini :
OM SRIYAM BHAWANTU , OM SUKHAM BHAWANTU , OM PURNAM BHAWANTU
Artinya :
OM, SEMOGA DIJADIKAN BAIK ADANYA, OM, SEMOGA DIJADIKAN BAHAGIA ADANYA, OM, SEMOGA DIJADIKAN SEMPURNA ADANYA.
Demikian pula dalam mantra berikut :
Om, sarwa wighna winasayantu, sarwa klesa winasyantu, sarwa dukkha winasanya, sarwa papam winasaya, namo namah swaha.
Artinya :
Om, semoga semua halangan musnah, semua penderitaan musnah, semua kesedihan musnah,semua dosa musnah ,segala puji untukmu.
Cara pemujaan
Pemujaan atau melakukan doa dapat dilakukan oleh setiap orang, di mana saja, kapan saja, sendiri atau berjemaah (bersama). Di samping itu dikemukakan pula bahwa pemujaan atau doa dapat dilakukan tidak hanya dengan kata-kata atau dapat disampaikan dengan bahasa lain misalnya dengan menggunakan simbol atau alat-alat sebagai pengganti bahasa. Dengan demikian dibedakan :
1. Doa dilakukan dengan cara pengucapan kata-kata, misalnya dengan pengucapan mantra-mantra atau japa-japa balk menurut bahasa yang terdapat dalam Weda maupun menurut bahasa dan kalimat yang disusun terlebih dahulu menurut tujuannya.
2. Dengan mempergunakan sesajen atau alat-alat yang merupakan bahasa simbol.
3. Dengan mempergunakan doa mantra dan simbol misalnya sesajen, yang juga disebut yadnya.
Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tampak yadnya memegang peranan penting sebagai salah satu cara dalam pemujaan, namun ditegaskan pula bahwa pemujaan dengan yadnya bukanlah merupakan satu-satunya cara karena di dalam Rg Weda IV,25 dinyatakan doa tanpa sesajen dapat pula dilakukan. Ini berarti dalam melakukan pemujaan, menurut agama Hindu tidaklah mutlak syarat sesajen itu. Setiap saat orang dapat memujanya. Di dalam Rg. Weda VIII.70 dinyatakan :
“Bukan karena karma ia sampai kepada-Nya, Yang selalu aktip dan kekal ; bukan karena yadnya seseorang akan sampai kepadaNya, Ia yang patut dipuji oleh semua, Yang tak terkuasai, Yang berani dan kuat.
Dari contoh-contoh itu, jelas kepada kita bahwa doa itu mempunyai kedudukan tersendiri dan amat penting sekali artinya bagi kehidupan manusia dalam mencari Tuhan yang selalu dipuja dan disanjung.
 |