|
Om Swastyastu
Pengertian umum
Salah satu bagian dan merupakan aspek terakhir dari unsur keimanan (sraddha) di dalam agama Hindu, Atharwa Weda XII,1.1 adalah mengenai yajna (baca : yadnya). Dalam pengertian populernya istilah ini dipersamakan dengan pengertian rituil. Kalau kita perhatikan secara lebih mendalam lagi, istilah yadnya mempunyai arti yang sangat luas karena dengan kata yadnya dapat pula diterjemahkan dengan kata kurban atau berkurban. Dengan pengertian ini istilahnya mengandung pengertian yang sangat luas.
Menurut etimologi, Yajna berasal dari bahasa Sanskerta, dengan urat kata “yaj”, yang artinya memuja atau memberi penghormatan atau menjadikan suci. Kata ini juga diartikan mempersembahkan ; bertindak sebagai perantara. Dari urat kata itu timbul kata yajna (kata-kata dalam pemujaan), yajata (layak memperoleh penghormatan) yajus (sacral, ritus agama) dan yajna (pemujaan, doa, persembahan), yang kesemuanya berarti sama dengan Brahma. Di dalam Rg Weda VII1,40,4 kata yaja berarti kurban atau pemujaan. Dari istilah Yajus yang juga bersumber dari urat kata yaj, timbul pula istilah yajur weda, yaitu himpunan weda mantra yang menguraikan mengenai pokok-pokok ajaran tentang beryadnya atau hubungan antara manusia dengan yang disembah.
Di samping itu, kata yajna juga dihubungkan pula dengan konsepsi penciptaan alam semesta ini. Yajna adalah semacam simbol bahasa yang mengandung pengertian sebagai satu proses kejadian. Di dalam Rg Weda X.92 (Nasadiya Sukta) mengemukakan bahwa penciptaan ini terjadi dari yajna. Yajna adalah satu proses, satu phenomena yang dinamis mengenai penciptaan alam semesta.
Adapun pengertian yajna yang dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, kata yadnya dimaksudkan sebagai upacara keagamaan yang sama artinya dengan samskara atau sangaskara. Terjemahan arti kata yadnya menjadi samskara kurang tepat karena kata samskara itu sendiri masih sangat kabur pengertiannya.
Di dalam berbagai terjemahan yang dilakukan, kata samskara diterjemahkan dengan kata ceremony di dalam bahasa Inggris, sedangkan di dalam bahasa Latin disebut caerimonia. Kalau kata “ceremony” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata itu berarti “upacara”, sehingga dengan demikian kata samskara berarti upacara pula.
Di samping istilah yajna yang diterjemahkan sebagai samskara, terdapat juga pengertian lain, di mana kata itu diterjemahkan atau diganti dengan istilah “karman”. Kata karman berarti upacara keagamaan yang di dalam bahasa Jawa Kuno ditulis “krama”, misalnya dipergunakan dalam penulisan Wedaparkrama.
Dari semua istilah itu, kata yajna mengandung pengertian yang lebih luas dari pada istilah lain-lainnya, tetapi penggunaannya tetap dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu yang diartikan sama dengan samskara. Kata samskara itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang mempunyai arti yang luas pula. Dari berbagai terjemahan atas kata samskara itu, kata itu menurut beberapa penulis ada yang berarti melatih, mensucikan, membiasakan, menjadikannya sempurna, memberi bentuk, melengkapi, memperindah, membentuk, membudayakan, dan sebagainya. Kalau kita rumuskan dari berbagai terjemahan itu maka kata samskara adalah karman pula, yaitu semacam rituil yang bertujuan untuk membuat sempurna atau mensucikan badan ini sehingga layak untuk dapat memuja Tuhan.
Dengan dinyatakannya di dalam Atharwa Weda, bahwa yajna merupakan bagian dari pada dharma sehingga merupakan unsur ajaran keimanan yang penting, ini menyebabkan ajaran yajna merupakan bagian dari penghidupan beragama menurut agama Hindu. Yajna bukan sekadar ajaran formalistis, melainkan masalah ibadah yang hukumnya adalah wajib. Hanya saja di dalam melaksanakan ajaran yadnya itu terjadi variasi yang berbeda-beda menurut daya pemikirnya, karena dinyatakan bahwa ajaran yajna itu supaya dikembangkan dan disempurnakan.
Tujuan yajna atau samskara
Yajna merupakan aspek ajaran karma margha karena yajna adalah sama dengan karman. Di dalam Rg. Weda X,71 dikemukakan ada empat macam cara untuk mencapai tujuan atau pemujaan kepada Tuhan, yaitu :
1. Dengan melalui cara pengucapan mantra-mantra. Cara ini dikenal pula dengan istilah bhakti margha.
2. Dengan melalui cara menyanyikan lagu-lagu pujaan (hymn), misalnya melagukan mantra dan stotra. Cara ini dikenal dengan istilah wibhuti margha.
3. Dengan melalui cara keilmuan, misalnya mengamati dan mengamalkannya. Cara ini dikenal dengan jnana margha.
4. Dengan melalui cara melakukan yajna, yaitu yang disebut ajaran karma margha.
Jadi berdasarkan kitab Rg Weda di atas, yajna adalah salah satu di antara empat jalan yang dapat dipergunakan untuk memuja Tuhan. Dalam melaksanakan margha itu, dapat dilakukan dengan menggabungkan dari berbagai cara itu dan dapat pula dilakukan dengan hanya memilih satu di antara empat jalan itu. Di samping itu, peranan yajna dianggap penting di dalam agama Hindu karena di dalam Rg. Weda VIII, 19 ditegaskan bahwa yajna mempunyai peranan penting karena yajna adalah laksana kapal yang merupakan kapal yang suci yang akan mengantar manusia kepada tujuannya.
Setiap penyelenggaraan yajnya dilakukan untuk tujuan tertentu dan untuk memperoleh suasana kesucian alam lahir dan bathin. Kesucian ini dicapai karena dalam yajna tardapat pula salah satu disiplin mental yang disebut brata (wrata) sehingga dengan kesucian itu mereka dapat melakukan yadnya. Jadi suasana suci itu ditimbulkan karena melakukan yajna.
Kalau kita pelajari baik-baik tentang berbagai macam yajna yang patut dilakukan, tujuan yajna samskara dapat kita bagi atas dua macam, yaitu :
1. Tujuan yajna menurut pengertian populer dan bersifat ghaib .
2. Tujuan yajna menurut pengertian pembudayaan dan kesucian.
Di dalam pengertian populer dan yang bersifat ghaib, tujuan samskara adalah untuk menciptakan suasana suci sehingga memungkinkan seseorang yang melakukan yajna dapat memperoleh tujuannya sebaik mungkin. Dalam hal ini maka tujuan samskara itu mempunyai arti yang sangat luas dan banyak, yaitu :
a. untuk melenyapkan atau mengusir pengaruh jahat dari rokh-rokh jahat.
b. untuk menarik atau mendatangkan pengaruh yang baik dari pada rokh-rokh suci yang bersifat baik dan penolong.
c. untuk mencapai tujuan materiil.
d. untuk sebagai pernyataan tanda syukuran atau terima kasih.
Adapun cara pelaksanaannya tidak ada petunjuk-petunjuknya dan karena itu pengembangannya dapat bersifat lokal. Mengusir atau menarik rokh tergantung pada jenis rokh yang dihadapi. Untuk rokh-rokh yang bersifat tidak baik diadakan upacara pengusiran atau pemindahan atau pembersihan yang dapat dilakukan melalui pengucapan mantra atau lafal, pemberian sedekahan yang disebut caru atau lainnya seperti melakukan segahan, dan lain-lainnya. Sebaliknya bagi rokh-rokh yang baik, seperti dewa-dewa, Bidadari, Arwah leluhur seperti Pitara, dan lain-lainnya didatangkan untuk membuat suasana menjadi suci.
Di samping itu, yajna dalam arti dimaksudkan sebagai pembudayaan dan kesucian, karena tujuan yajna adalah sebagaimana artinya sendiri, yaitu untuk menjadikan lebih baik. Dalam hal ini kita lihat upacara pensucian (playascitta) dan lain-lainnya.
Pensucian yang merupakan tujuan dari pada hidup beragama dapat dicapai dengan berbagai cara. Di dalam kitab Manawadharma sastra dikemukakan berbagai cara untuk melakukan pensucian, yaitu, dengan cara mandi untuk mensucikan badan, dengan pengucapan mantra atau doa untuk pensucian pikiran, dengan cara membakar untuk mensucikan benda-benda metal, dengan mengendalikan tingkah laku untuk mensucikan diri. Dengan semua cara itu akan terwujud kepribadian yang menjadi sifat hakiki dari pada hidup beragama itu. Dengan kata lain, upacara menurut tujuan ini ialah :
a. untuk pembinaan dan pengembangan moral
b. untuk penumbuhan atau pengembangan kepribadian diri seseorang
c. untuk tujuan spirituil
d. untuk sebagai tanda peningkatan dari satu fase ke fase yang baru (diksa).
Adapun yang dimaksud dengan pembinaan moral yang menjadi dasar dari pada upacara yajna itu ialah karena didasarkan atas penumbuhan delapan sifat-sifat yang baik, yaitu suka memaafkan, gembira, tenang, suci, berprilaku yang benar, tidak serakah, tidak terikat, dan lain-lainnya. Kesemuanya itu akan menumbuhkan bentuk-bentuk pribadi tertentu pada diri manusia itu.
Di samping tujuan yang bersifat penumbuhan moral dan kepribadian itu, yajna juga merupakan dasar yang bertujuan untuk menanamkan rasa suci dan iman yang disebut sraddha dan sadhana. Upacara yajna adalah merupakan ajaran jalan tengah antara ekstrim materialisme dengan ekstrim spiritualisme yang banyak dilakukan oleh seorang sanyasi. Karena itu yajna itu merupakan jalan yang paling populer dan yang paling banyak dapat dilakukan oleh orang-orang awam dalam lingkungan masyarakat Hindu.
Macam-macam yajna samskara
Banyak buku yang menjelaskan mengenai macam-macam yajna itu. Kitab yang penting yang memuat ajaran Yajna dan samskara itu antara lain adalah kitab Manawadharmasastra, kitab Grihyasutra, dan lain-lainnya, kesemuanya merupakan kitab Wedasmriti.
Menurut kitab Dharmasastra, kitab ini memerinci adanya lima macam jenis upacara besar yang disebut Panca Maha Yajna. Adapun kelima macam yajna itu, masing-masingnya ialah :
a. Dewayajna
b. Rsi yajna
c. Pitri yajna
d. manusya yajna
e. bhuta yajna.
Penguraian dari pada masing-masing jenis yajna itu macam-macam. Tiap-tiap jenis itu merupakan kelompok jenis yang masing-masingnya terdiri dari berbagai macam jenis yajna dan samskara pula. Di samping cara penggolongan yang lima itu, kitab Dharma sastra itu membedakan pula cara pengelompokannya menurut cara pelaksanaan dari pada upacara itu sendiri, yang dibedakan menjadi lima macam pula. Adapun nama-namanya yang disebut di dalam kitab Manusmsriti itu ialah :
1. Upacara yang dinamakan AHUTA, yaitu upacara rituil yang dilakukan tanpa mempergunakan kesaksian api (Agni), misalnya bila upacara itu hanya dilakukan dengan cara pembacaan mantra-mantra pujaan saja. Dasar dari pada ajaran ini adalah bersumber pada kitab Rg. Weda IV.25.
2. Upacara yang dinamakan HUTA, yaitu upacara rituil yang dilakukan dengan mempergunakan api sebagai unsur yang penting, misalnya dengan mempergunakan dupa, dipa atau api iainnya (membakar kemenyan). Dalam upacara ini ada pula benda-benda upacara yang kemudian dibakar (dimasukkan ke dalam api upacara).
3. Upacara yang dinamakan PRAHUTA, yaitu jenis upacara rituil yang dilakukan dengan cara penyebaran benda-benda upacara di tanah, misalnya pada waktu upacara bhuta yajna dan lain-lainnya.
4. Upacara yang dinamakan BRAHMAHUTA, yaitu upacara rituil yang ditujukan sebagai penghormatan kepada para pendeta Brahmana, misalnya dengan mengundang para Brahmana dalam satu upacara dan kemudian dalam kesempatan itu kepadanya diberikan dana berupa apa saja. Umumnya upacara ini dilakukan pada waktu melakukan Pitra yajna atau Sraddha.
5. Upacara yang dinamakan PRASITA, yaitu upacara rituil yang diselenggarakan dengan cara penyuguhan jenis-jenis makanan, buah-buahan, kapur sirih, dan lain-lainnya, terutama ditujukan kepada yang meninggal. Prasita ini adalah semacam “tarpana”.
Di samping cara pembagian tersebut, ada pula cara pembagian yang lebih lengkap, yaitu dengan menyebutkan semua macam upacara yang harus dilakukan. Jumlah jenis macam upacara ini sangat banyak macamnya dan tidak sama antara berbagai buku. Umumnya jenis yang banyak itu dihubungkan dengan samskara, yaitu mulai dari melakukan upacara Brahmacari sampai pada upacara antyesti (kematian). Dari jenis-jenis upacara ini, yang penting adalah yang ada hubungannya dengan pembentukan diri pribadi seseorang, mulai dari garbhadana (upacara bayi dalam kandungan) sampai dengan anak itu lahir dan berakhir pada upacara kematian. Jumlah upacara ini sangat banyak dan tidak semuanya dapat dilakukan.
Di samping kitab Dharmasastra, kitab Grihyasutra memberikan berikan keterangan yang lain pula tentang berbagai yajna itu. Di dalam kitab ini kits jumpai istilah Panca bhusamskara dan paka samskara. Jenis paka yajna menurut Grihyasutra sama dengan jenis-jenis upacara yang digolongkan Huta, Prahuta, Ahuta dan Prasita. Jadi banyak istilah yang sama yang masih dipergunakan. Penggolongan berbagai jenis upacara itu hanya diperlukan untuk sistematisasinya saja sedangkan makna dan tujuannya tetap sama.
Yang berbeda dari semua kitab itu ialah masalah penulisan upacara yang mencoba menguraikan mengenai upacara kematian. Pada umumnya kitab-kitab itu memisahkan upacara kematian itu dari berbagai jenis upacara lainnya. Di samping itu masih banyak aspek dari pada yajna yang perlu kita ketahui seperti masalah bentuk serta unsur-unsur dalam yajna, ke semuanya itu merupakan unsur-unsur penting dalam memahami arti yajna, baik sebagai dasar keimanan maupun sebagai ritus dalam pembentukan kepribadian manusia itu sendiri. Kesemuanya itu akan dibahas dalam buku tersendiri, dalam buku pengantar agama Hindu V1. Yang terpenting dalam peninjauan kita ialah bahwa berdasarkan uraian yang telah kita lihat di atas, yajna merupakan unsur yang amat penting di dalam penumbuhan pengertian pokok-pokok ajaran Hindu itu sebagai salah satu dari pada unsur sraddha dalam agama Hindu.
Om Santih Santih Snatih Om
 |
Maaf ganggu bapak
Saya tanya tenteng
1. Makna filosofis bija
2. Arti dan fungsi bija
3.n Nlai-nilai pendidikan dalam bija
4. Apa kaitan bija dalam mahabrata dan ramayana
5. Sumber-sumber tentang bija