|
Om Swastyastu
Entas-entas yaitu istilah menaikan atau penyucian para arwah roh leluhur agar bisa naik ke alam ketenangan (kahyangan). Upacara Entas-entas adalah upacara khusus bagi orang yang meninggal dunia. Upacara Entas-entas tidak harus dilaksanakan pada saat ada kematian, namun dapat dilakukan sambil menunggu kemampuan pihak keluarga yang bersangkutan. Akan tetapi upacara ini wajib dan harus dilaksanakan. (Wawancara dengan: Bapak Suparman dukun di Desa Nagdiwono,Tengger, 2006).
Menurut keyakinan Wong Tengger, upacara Entas-entas merupakan upacara yang paling ditakuti. Karena apabila dalam acara Entas-entas ini ada arwah yang terlupakan untuk di entas, maka keluarga yang menyelengarakan Entas-entas akan mendapat musibah. Oleh karena itu sebelum acara Entas-entas diselenggarakan, seorang dukun berkali-kali mengadakan pengecekan terhadap keluarga orang-orang yang meninggal yang sengaja mau di entas. Lebih-lebih terucap atau bernazar akan menggentas arwah seseorang. (Wawancara dengan: Sudirahma).
Makna Entas-entas adalah mengembalikan kelima unsur penyusun tubuh manusia yaitu yang dari tanah, manusia kalau mati di kubur di dalam tanah. Sedangkan kayu manusia kalau mati ditancapkan kayu sebagai nisan. Sedangkan unsur air manusia kalau mati pasti dimandikan dulu sebagai pembersih, ini merupakan simbol penghormatan kepada penguasa air yaitu deva Baruna. Sedangkan panas atau cahyo, yaitu manusia kalau mati di bakar prtranya yaitu mengembalikan unsur panas yang ada di alam tubuh kepada asalnya yaitu dengan cara di bakar petranya. Sedangkan ketiga unsur utama yaitu bapak-ibu dan pangeran yang memberikan kehidupan ini di kembalikan atau di simbolkan manusia kalau mati pasti diikat tiga sebagai perlambang pengikat. Bapak, ibu dan pangeran yang memberikan kehidupan. Penjelasan ini merupakan konsep keyakinan yang dimiliki msyarakat Hindu di sekitar Pegunungan Tengger.
Rangkaian upacara Entas-entas dimulai dari upacara Semeningga, ini berlangsung antara tiga bulan sampai satu minggu sebelum upacara Entas-entas. Acara ini bertujuan memohon izin dan mohon restu kepada leluhur yang telah mencapai alam ketenangan dan Ida Sang Hyang Widhi. Untuk mengadakan upacara Entas-entas bagi para leluhurnya yang masih berada di kawah Candradimuka (tegal penangsaran) yang masih berada di lautan pasir.
Sedangkan puncak acara Entas-entas berlangsung selama tiga hari. Hari pertama meliputi Rakantawang, Mepek (mangil roh yang akan di entas), Ngisi Kulak, Kayopan Alit, Amras. Hari kedua meliputi Beduduk, Nurunen atau Prepekan. Hari ketiga Nurunen, Kayopan Agung, Tebusan, Melukat atau Entas-entas, Penghormatan Petra di balai banjaran sari oleh keluarga, ngiring petra ke pedanyangan atau pesetran, Amras dan Bawan merupakan acara terakhir dalam upacara Entas-entas. (Wawancara dengan: Romo Astobroto,).
Om Santih Santih Santih Om
|