|
Om Swastyastu-Salam Kasih

Upacara ini di dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan upacara Manusa Yajna. Tujuan melakukan upacara Manusa Yajna adalah untuk membersihkan diri lahir dan bathin serta memelihara secara rohaniah hidup manusia, mulai dari terbentuknya wujud jasmani di dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.
Pembersihan lahir bathin ini dilakukan secara berkelanjutan selama manusia itu hidup, misalnya dalam hidupnya tidak menempuh jalan yang sesat, melainkan dapat berpikir, berkata, dan berbuat yang benar (di dalam ajaran agama Hindu disebut ‘Tri Kaya Parisudha’), sehingga nantinya dapat memperbaiki karmanya (perbuatan), sehingga nantinya ia bisa mencapai Tuhan (Brahman).
Seperti dikatakan didalam Bhagawad Gita XII.2-5
Mayy aavesya mano ye maam
Nityayuktaa upaasate
Sraddhayaa parayo’petaas
Te me yuktatamaa mataah
Arti :
Mereka yang menyatukan pikiran, berbakti kepada-Ku, menyembah Aku dan tawakal selalu, memilih kepercayaan yang sempurna, mereka Kupandang lebih baik sebagai bhakta.
Di dalam agama Hindu, upacara Manusa Yajna yang menyangkut tentang kelahiran dilakukan secara bertahap, dimana upacara yang dilakukan sebelum bayi lahir (masa hamil) & setelah bayi lahir.
1. Masa hamil
Upacara ini disebut dengan upacara Pagedong-gedongan (upacara Garbhadana). Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan si bayi yang ada dalam kandungan ibu. Biasanya upacara ini dilakukan setelah bayi dalam kandungan si ibu berumur 5 bulan atau 6 bulan kalender, karena pada umur ini bayi dalam kandungan telah berwujud manusia secara utuh dan dapat diketahui jenis kelamin yang dimilikinya baik itu laki-laki maupun perempuan. Selain itu tujuan upacara ini dilakukan adalah agar kedudukan janin dalam kandungan ibu kuat dan tidak mudah keguguran. Dimasa kehamilan ini seorang ibu yang mengandung agar selalu menjaga segala ucapan, perbuatan dan pikirannya, karena pada saat hamil ini seorang ibu yang mengandung memiliki emosi yang labil. Selain itu seorang ibu yang hamil dianjurkan membaca buku-buku keagamaan, serta seorang suami harus selalu memberikan cinta kasih yang lembut, sehingga seorang ibu yang sedang mengandung merasa nyaman. Dengan dilakukannya semua itu maka sifat-sifat yang positif itu akan menurun pada si bayi setelah ia lahir.
Dalam upacara ini sarananya adalah byakala pagedong-gedongan, sesayut pengambyan, canang daksina dan tirtha.
Mantranya : Om, Sanghyang Ibu Prthivi, Bhatari Savitri, Bhatari Suparni, Bhatari wastu, bhatari kedep, bhatari angukuhi, bhatari kundang kasih, bhatara/I kamajaya kamaratih, hyang widyadhara widyadari, hyang kuranta-kuranti, samadhaya; iki tadah sajinira aturan manusanira, si Anu, ajaken sarowanganira amangan anginum. Asing kirang asing luput denagung pangampuranen manusanira. Mangke anghulun aminta sihanugraha ri sira samuha, aja sira lawanganira salacak dana, den alon, sepungana anut anaken depun, den apekik, dirghayusa yowana awet hurip.
2. Setelah bayi lahir
Banyak rangkaian upacara yang dilakukan setelah si bayi lahir, diantaranya :
a. Upacara Mapad Rare
Upacara ini dilakukan saat bayi baru lahir dimana tujuannya adalah mengucapkan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi karena bayi itu telah lahir dengan selamat. Setelah bayi dibersihkan dan dimandikan ayah dari si bayi membacakan Gayatri Mantram di telinga kanan dan kiri masing-masing tiga kali,
mantranya: “Om bhur bvah svah,
tat savitur varenyem,
bhargo devasya dimahi
dhiyoyonah prachodayat”
Setelah itu membersihkan ari-ari menggunakan air kumkuman, kemudian ari-ari dibungkus dengan kain putih setelah itu dimasukkan kedalam sebutir kelapa gading yang telah dibelah dua, dimana dibawahnya diberi Rajahan “AHKARA” diatasnya diberi Rajahan “OMKARA”. Di dalam kelapa tersebut juga dimasukin duri dan dilengkapi dengan sirih lekesan. Setelah itu kelapa dibungkus dengan kain putih lalu dipendam dimuka pintu,
mantranya : Om Sanghyang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amrta sanjiwani, amrtani sarwa tumuwuh, nama si bayi si Anu, lamakane hurip warna dirghayusa.
b. Upacara Kepus Puser
Upacara ini disebut juga upacara mepenelahan. Setelah puser itu diputus maka dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat yang diisi rempah-rempah, lalu digantung di tempat tidur si bayi. Disini si bayi dibuatkan banten sebagai sarana memohon agar si bayi selalu selamat.
c. Upacara 12 hari
Upacara ini disebut juga dengan Ngelepas Hawon. Upacara ini bertujuan untuk memperkuat dan memperteguh jiwatman dalam tubuh si bayi. Pada saat itu bayi dilukat dengan tirta penglukatan. Selain itu dilakukan upacar mepejati dan memohon penglukatan di dapur, di sumur dan di pemerajan. Pada saat itu juga dilakukan mapituun dengan maksud menanyakan kepada Paranormal siapa yang menjelma pada si bayi dan apa yang diminta agar si bayi hidup sehat dan tak diganggu oleh bhutakala.
Mantranya : Om, pakulun Bhatara Brahma Wisnu Iswara, manusanira si Anu anglepas awon ipun ri Bhatara Tiga, Pakulun anyudha mala letuh ipun, teka sudha (3x) lepas malam ipun.
d. Upacara Kambuhan
Upacara ini dilakukan saat bayi sudah berumur 42 hari. Upacara ini bertujuan membersihkan jiwa raga si bayi dengan memberikan upacara pada “nyama bajangnya” karena telah membantu ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Selain itu untuk membersihkan ibu dan ayah si bayi, karena setelah berumur 42 hari dan si bayi sudah diupacarai maka orangtua si bayi dapat memasuki tempat-tempat suci.
e. Upacara Nyambutin
Upacara ini dilakukan setelah si bayi berumur 3 bulan. Tujuannya adalah untuk penyucian pada jiwa raga si bayi. Bersamaan dengan upacara ini juga dilakukan upacara turun tanah yang bertujuan memohon kepada Tuhan agar si bayi tidak kurang amrta dan keselamatan. Setelah terlaksanaya upacara nyambutin ini barulah si bayi diperkenankan diajak keluar rumah.
Mantranya: Om Pakulun Kaki Sambut Nini Sambut, tan edanan sambut agung sambut alit. Yan lungha mangetan, mengidul mangulon, mangalor mwang Madhya, atma jiwitane si jabang bayi tinuthing para Dewata, pinayungan Kala Cakra, pinageran wesi. Sambutana ulihakena atma bayu pranane si jabang bayi maka 108, amepeki raga sariraniya.
f. Upacara Satu Oton
Upacara ini dilakukan saat bayi berumur 210 hari atau enam bulan. Upacara ini bertujuan untuk memperingati hari kelahiran si bayi yang bersangkutan. Dasr untuk menentukan hari lahir adalah pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara dan Wuku. Upacara oton ini juga bertujuan agar kesalahan dan keburukan yang ada pada diri pribadi si bayi yang bersangkutan dapat dikurangi sehingga dalam kehidupan berikutnya dapat diperbaiki dan meningkatkan diri untuk mencapai kesempurnaan hidup. Bersamaan dengan upacara ini juga dilakukan upacara pemberian makanan pertama terhadap si bayi dan pemotongan rambut pertama pada si bayi.
Mantranya : Om Pakulun Paduka Bhatara Surya Chandra, makadi Hyang Siwa Guru Reka, Sanghyang kumaragana kumaragani, kajenenganan sira anyaksyana manusanira amuja treptinning si jabang bayi, anyambuti tata titi sapratekaningpun dadi jadma, ipun aweh tadah saji sanggrahaning angjadma, miwah rare bajang tekeng babunira kabeh, palaning aweh dalan, marganira dumadi jadma, angelingi warga santananipun. Mangkana matangniya pangjadmanipun anutugaken tuwuhipun, amanggih suka sadhya rahayu, Om, Na Ma Si Wa Ya
3. Upacara meningkat Dewasa
Upacara ini dilaksanakan setelah seseorang meningkat dewasa. Bagi laki-laki ditandai dengan membesarnya suara dan bagi wanita ditandai dengan datang bulan untuk pertama kalinya. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon kepada Sang Hyang Smara Rati agar beliau selalu berkenan memberikan petunjuk dan mengendalikan diri dalam menghadapi masa pancaroba.
4. Masa menopause seorang wanita; biasanya sekitar umur 45 tahun keatas. Didalam agama Hindu, masa menopause ini adalah masa kelahiran dua kali, dan dikatakan suci kembali, Karena kalau sudah mencapai tingkat menopause ini, seorang wanita memiliki emosi yang terkendali dan terarah. Biasanya kalau umat Hindu merayakan hari raya Piodalan dan Upacara Dewa Yadnya biasanya menggunakan tari Rejang, yaitu tarian sakral (suci) untuk dipersembahkan kepada Hyang Widhi (Brahman). Tarian ini dibawakan oleh anak-anak yang masih suci dan ibu-ibu yang sudah melewati masa menopause (yang dianggap suci).
 |