CyberDharma Indonesia (CDI) merupakan media yang dibangun atas dasar keinginan untuk berperan dalam pembangunan Hindu. Menyadari bahwa pembangunan Hindu bukan hanya tanggung jawab Negara Republik Indonesia, lembaga dan organisasi Hindu, maka muncul pemikiran untuk turut berperan aktif meskipun dalam hal kecil. Sebaran peduduk yang beragama Hindu dan wilayah Indonesia yang luas dengan ribuan pulau merupakan permasalahan tersendiri bagi organisasi dan lembaga Hindu Indonesia. Belum lagi tingkat ekonomi umat Hindu yang tidak merata, merupakan tantangan lain yang dihadapi lembaga dan organisasi Hindu dalam pembangunan Hindu.
CyberDharma Indonesia (CDI) dibangun dan dikembangkan dengan semangat berbagi, peduli dan ngayah, sehingga seluruh umat Hindu dapat berperan serta di dalamnya. Banyak diantara umat yang memiliki semangat berbagi dan kepedulian yang begitu tinggi namun terkendala akan sempitnya waktu karena kesibukan kerja yang sangat tinggi; banyak pula umat Hindu yang memiliki semangat berbagi dan kepedulian sangat tinggi namun terkendala oleh keterbatasan hal yang ingin dibagi; mungkin juga ada umat Hindu yang begitu tinggi perhatiannya untuk barbagi dan peduli namun terkendala oleh terbatasanya kemampuan untuk membagi apa yang dimiliki. Mungkin hal-hal ini menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Hindu Nusantara dalam membangun Umatnya, sehingga banyak umat yang memilih agama lain; sehingga banyak kantong-kantong umat tergerus jumlahnya karena merasa tidak diperhatikan dan merasa berjuang sendiri; sehingga banyak umat yang ber-Hindu hanya karena keturunan tanpa memiliki dasar pengetahuan Hindu yang mantap sehingga dengan mudahnya dikonversi ke agama lain.
CyberDharma Indonesia (CDI) mengajak seluruh umat Hindu untuk berbagi, peduli dan ngayah demi pembangunan Hindu Nusantara dimulai dari diri sendiri dan dari hal sederhana/kecil, salah satunya dengan mencetak Lembar CyberDharma Indonesia (LCDI) yang tersedia di menu donwnload kemudian membagikannya di Pura/lokasi peribadahan secara cuma-cuma setiap hari suci Purnama, Tilem atau hari suci/besar Hindu lainya. Jumlah lembaran yang dicetak pun disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan sehingga tidak menjadi beban baru bagi dermawan. Mengapa berbentuk lembaran? Karena tidak semua Umat Hindu berkesempatan membeli buku-buku atau berlangganan Majalah Hindu. Selamat berbagi, peduli dan ngayah!
















