Nama merupakan salah satu identitas yang dimiliki hampir setiap manusia di dunia, bahkan dianggap aneh bila ada seseorang yang tidak memiliki nama. Meskipun bukan merupakan identitas yang unik karena banyak orang yang menggunakan nama yang mirip bahkan sama persis, nama menempati urutan teratas dari deretan identitas seseorang. Meskipun dalam kegiatan sehari-hari interaksi lebih banyak menggunakan sebutan sebagai identitas, tetapi sebutan atau panggilan tidak dapat digunakan sebagai identitas resmi. Misalnya, seseorang dalam kesehariannya dipanggil dengan sebutan Si Botak karena kepalanya yang gundul, namun dalam penulisan formal (contoh: penulisan nama dalam sertifikat) tetap menggunakan nama aslinya, kecuali jika nama aslinya memang Si Botak.
Selain merupakan identitas yang sangat penting, nama juga mengandung makna suku atau bangsa bahkan agama penggunanya. Xi Mung Su, seorang atlet bulu tangkis, memiliki nama yang di telinga orang Indonesia cukup aneh. Dan dari namanya dapat kita ketahui biasanya pemiliknya berasal dari negeri tirai bambu, bukan dari Madura, apalagi tanah Batak. Memang hampir semua negara tidak memiliki aturan resmi dalam penggunaan nama. Seorang ayah bias saja memberi nama putra atau putrinya sesuai dengan keinginannya tanpa merasa takut akan berurusan dengan hukum. Meskipun demikian, ada aturan sosial yang tidak tertulis tetapi dipatuhi oleh kelompok masyarakat tersebut dan akan memberikan beban moral tersendiri bila seseorang di lingkungan tertentu tidak mengindahkan aturan tersebut. Apa jadinya bila seorang keluarga arab yang tinggal di Makkah memberi nama putri mereka Gusti Ayu Ketut Jegeg Mecaling atau keluarga Bali yang tinggal di Nusa Penida dan merupakan keluarga Hindu memberi nama putranya Ahmad Ketut Mecaling Khan.
Nama sebagai harapan dan doa
Di sepanjang zaman, orang tua selalu memilih nama yang baik untuk putra-putrinya. Nama dipercaya memberi masa depan yang baik bagi penggunanya. Bila di zaman kerajaan pemberian nama mengharapkan pemiliknya sekuat namanya, seperti Gajah Mada yang kemungkinan orang tuanya mengharapkan putranya sekuat binatang gajah, atau Kebo Iwa yang dalam cerita memang sekuat kerbau jantan. Kini tren sedang mengarah pada penggunaan nama-nama artis terkenal, mungkin orang tua mengharapkan putra-putrinya bisa sukses seperti pemilik nama sebelumnya. Bagaimana dengan nama-nama yang terlanjur diindentikkan dengan hal-hal yang buruk, sebut saja nama Sumanto. Mungkin tidak banyak orang tua akan memberi nama putranya Sumanto, karena pemilik nama tersebut sebelumnya melakukan hal yang dianggap kurang baik dan orang tua tentu tidak ingin putranya mengalami nasib yang sama.
Banyak juga orang tua yang mendoakan putra-putrinya dengan nama-nama klasik Weda, seperti Shanti, Saraswati, Wisnu, Laksmi,Yudhistira, Rama, Krisna, Paramita dan sebagainya meskipun keluarga mereka bukanlah keluarga Hindu. Entahlah, apakah orang tuanya berharap putra-putrinya kelak beragama Hindu atau karena hal lainnya. Jika nama Shanti diberikan agar si anak kelak membawa kedamaian dan keteduhan, maka nama Saraswati memberikan doa agar pemilik nama tersebut pandai bagai Dewi Saraswati. Begitupun dengan Krisna, tokoh pewayangan yang nasehat dan tauladannya begitu membumi, banyak diberikan untuk membawa harapan cerah bagi sang anak. Bagaimana dengan tokoh antagonis Rahwana? Nampaknya tidak banyak orang tua yang mengharapkan putranya memiliki tabiat dan keangkaraan seperti Prabu Rahwana.
Untung rugi menggunakan nama khas
Bali yang merupakan pulau dengan penduduk mayoritas beragama Hindu (meskipun cenderung menurun karena serbuan pendatang dan penduduknya yang pindah dari agama Hindu) juga memiliki nama yang unik. Selain memberi makna Hindu, karena mayoritas penduduk di Bali beragama Hindu, nama khas Bali juga menunjukkan urutan kelahiran dari sebuah keluarga. Jika seseorang menggunakan nama Ketut, sudah dapat dipastikan pemiliknya merupakan anak keempat, kedelapan, keduabelas dan seterusnya (kelipatan empat) dan jika seseorang menggunakan nama Putu atau Wayan sudah dapat dipastikan pengguna nama tersebut adalah anak pertama atau anak kelima dan seterusnya. Ada juga nama khas Bali yang dahulunya merupakan aturan dari Warna (Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra) seperti Ida Bagus, I Gusti, Dewa, Cokorda, Desak dan lain-lain. Meskipun saat ini aturan Warna lebih pada garis keturunan, bukan seperti konsep awal Warna yang berdasarkan atas Swadharma (Kemampuan dan pengabdian pada masyarakat/pemerintah), namun nama-nama tersebut tetap digunakan. Sehingga dapat ditemui seorang pencuri tetap menggunakan mana Gusti, meskipun ia telah melakukan tindakan yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan nama yang disandangnya, bahkan ada juga yang masih menggunakannya meskipun sudah tidak beragama Hindu.
Saat itu kami sedang meeting project yang nilainya sekitar lima ratusan juta rupiah, di awal rapat kami saling berkenalan antara pemilik proyek dan semua yang terkait termasuk pihak dari luar. Saya langsung akrab dengan salah satu pihak luar yang menggunakan nama khas sama denganku – Komang -- karena merasa dari daerah yang sama. Namun saya terperanjat saat istirahat siang dimana rekan saya tersebut menanyakan ruangan untuk melakukan ibadah, tentunya bukan ibadah Hindu. Sayapun segera menghapus perlahan-lahan keakraban yang terlanjur terjadi dan memilih bersikap biasa.
Di sebuah kantor yang megah mata saya berbinar setelah melihat tulisan nama yang ditempel di pintu masuk ruangan mewah. Segera saya melangkah dengan pasti mengetuk pintu dan membeberkan sebuah proposal kegiatan setelah diizinkan masuk. Namun binaran mata segera saja menjadi sayu setelah pemilik nama tersebut mengatakan bahwa ia sudah tidak Hindu lagi.
Beberapa tahun belakangan nasib baik selalu menghampiri, setelah diganjar dengan beberapa bonus saya pun mendapatkan kenaikan gaji yang cukup luar biasa. Di balik hati riang nan bersenandung sayapun mendapati kenyataan bahwa atasan saya menyukai hasil kerja saya. Bahkan ada kabar bahwa manajemen menyukuai karyawan yang satu suku dengan saya, karena memberikan kinerja dan kontribusi yang baik terhadap pertumbuhan perusahaan.
Sudah hampir sepuluh tahun saya bekerja di kantor ini, banyak sudah yang datang silih berganti. Namun karir saya tak jua berubah. Alih-alih ada peningkatan, saya bahkan beberapa kali didudukkan di meja panjang. Kontribusi dan kinerja pun tidak mengecewakan bahkan jika dibandingkan dengan rekan-rekan yang sekarang jadi atasan saya, saya lebih baik. Oh, ternyata penyebabnya nama saya. Nama saya identik dengan Agama Hindu. Meskipun sumir, namun sepuluh tahun merupakan penantian yang membawa kecewa
Demikianlah beberapa dongeng tikus got yang menceritakan untung dan rugi menggunakan nama khas, misalnya nama khas Bali. Meskupin mungkin tidak nyata, namun bisa dirasa. Beberapa orang yang menggunakan nama khas coba menonjolkan potongan namanya yang lebih umum sehingga bisa masuk ke kalangan tertentu tanpa harus menjelaskan sesuatu yang tidak seharusnya. Meskipun ada Dewa Budjana yang menjadi terkenal meskipun tetap menggunakan nama aslinya, tetapi tidak banyak yang percaya diri menggunakannya untuk meraih sebuah popularitas atau kedudukan tertentu.
Di sebuah kelompok diskusi elektronik pernah dibahas sesuatu yang ringan namun mendapat cukup banyak perhatian, yaitu tentang pemilik catatan pribadi online (blog) yang namanya khas Bali namun menggunakan busana khas sebuah agama tertentu. Ada juga forum diskusi yang mempertanyakan apa yang akan dilakukan oleh seorang calon legislatif daerah pemilihan Bali yang menggunakan nama khas Bali namun berbusana khas wanita dari agama tertentu, jika nantinya ia terpilih menjadi wakil Bali. Kemungkinan akan terjadi penggembosan terhadap warga Hindu. Perhatian dan keprihatinan semakin banyak muncul karena sang calon diusung oleh partai yang gencar menyiarkan agamanya yang merupakan agama minoritas di Bali. Demikian juga bila ada seorang calon wakil rakyat yang menggunakan nama khas Bali untuk daerah pemilihan Aceh. Meskipun sang calon menggunakan busana dan sikap seperti masyarakat Aceh, tetap saja nama khasnya akan memberikan efek yang kurang menguntungkan. Hal ini cukup jelas, dimana sudah mulai muncul gejolak menolak kehadiran seseorang di daerah tertentu, dengan alasan tidak sesuai dengan entitas mayoritas, meskipun demikian, Bali tidak seharusnya meniru dan mengusir mereka yang non-Hindu.
Nama Khas Bali yang tak diminati namun dirindu lainnya
Belakangan muncul tren baru pemberian nama di kalangan keluarga Hindu khususnya suku Bali. Dimana tidak terdapat lagi nama Wayan, Made, Gusti dan sebagainya pada nama putra-putrinya. Tren tersebut tidak hanya muncul di keluarga yang ayah atau ibunya bukan dari suku Bali, tetapi di keluarga yang kedua orang tuanya merupakan asli Bali. Jika dahulu ada Gusti Ayu Ketut Jegeg Mecaling, maka kini cukup Ayu Jegeg Mecaling. Nama tersebut terdengar lebih umum, dimana tidak terdapat pemaknaan yang mengarah pada daerah atau agama tertentu.
Selain memberi warna baru dalam dunia pergaulan, penggunaan nama dengan makna umum juga memberikan keleluasaan bagi pemiliknya. Ayu Jegeg Mecaling tidak perlu risau saat ingin menjadi calon legislatif untuk daerah manapun di Indonesia, ia juga tidak perlu khawatir kesulitan menjadi artis terkenal karena nama khas Bali yang terdengar kampungan. Keleluasaan Ayu juga dalam hal memilih agama, ia akan dengan mudah masuk dan bergaul dengan agama barunya. Bayangkan jika ia diberi nama Gusti Ayu Ketut Jegeg Mecaling, nama itu membawa kesulitan tersendiri saat pindah dari Hindu, dimana seringkali ia masih diidentikan beragama Hindu, dan dia harus menjelaskan bahwa ia tidak Hindu lagi. Sebagian kecil masyarakat juga akan mempertanyakan kridebilitas dan kemampuan orang tua Gusti Ayu Ketut Jegeg Mecaling dalam mendidik putrinya, saat ia tidak lagi Hindu dan mengenakan busana khas agama tertentu. Dengan nama yang umum, orang tua Ayu bisa tertawa lebar tanpa merasa gagal mendidik anak. Setiap orang tua memiliki alasan dalam memilih nama putra-putrinya, dan alasan di atas bisa jadi bukan merupakan salah satunya.
Lain lubuk lain pula ikannya, demikian pribahasa jadul yang bisa digunakan untuk antusias beberapa keluarga di negara tetangga bahkan Eropa. Dimana ada beberapa keluarga memberi nama khas Bali untuk putra-putrinya. Cukup unik dan lucu saat seorang dengan tubuh tinggi-besar berambut pirang lengkap dengan kulit putih berbintik kemerahan serta bermata biru memperkenalkan nama lengkapnya yang terselip nama khas Bali. Mereka menyukainya dengan alasan mereka sendiri, seperti sebagian etnis Bali yang enggan menggunakan nama khas warisan leluhurnya dengan alasan tersendiri pula.
by: Dane Bagus

written by I Wayan Sudana, June 29, 2010
written by kadek, June 21, 2010
pengen aku tahu wajahnya ?kalo berani nulis isi identitas yang lengkap dong ?kalo bermutu biar bisa langsung dikasih hadiah atau pijian,tp kalo kayak gini patut dikasih kematiaan.
===Dane Bagus===
Astungkara Pak Kadek, saya coba kontak via email, ternyata email bapak tidak bisa dihubungi.
written by I Made , June 20, 2010
termasuk juga bangga mengunakan seluruh atrributes yang menghiasi adat dan budaya, baik itu nama, pakain adat,seni, dll....
saya bangga menggunakan nama bali saya....karena saya memang orang bali jadi kenapa ente mesti nyaranin orang lain dengan judul artikel "Jangan beri nama khas Bali, agar mudah bila pindah dari Hindu " yg jelas2 lo itu mencerminkan orang yg tidak tetap pendirian.....mudah terombang ambing...dan mungkin lebih tepat y lo disebut penghianat leluhur lo!
terus terang lo membuat ane sakit hati ngebaca judul artikel lo yg ga bernutu ini.... :najis
written by Oman Ari Wisata, April 05, 2010
Semoga damai selalu.
written by Ajoes, March 30, 2010
semua orang memang berhak untuk berbicara tapi, dari judul artikel saja, terus terang saya sebagai umat hindu bali sudah merasa aneh membaca judul anda diatas.
Saya bangga darah saya darah hindu bali, saya bangga nama saya asli bali, saya bangga menjadi bagian dari ajeg bali.
written by Putu Indra Mahatrisna, March 22, 2010
Anda coba ke Singaraja... begitu biasa... banyak saudara kita suku lain yang memakai nama Bali.
Hidup pasti tidak dinilai dari nama kita... tapi dari Karma....
Kalo hidup anda gagal dan menyalahkan nama anda, terlihat begitu rendah pola pikir anda.
Salam,
written by wayan, March 18, 2010
yang jelas saya bangga lahir di bali dan menggunakan nama khas bali
I LOVE BALI
written by Dedey beis, December 01, 2009
written by weda, November 10, 2009
mungkin karena terbiasa dengan suasana jakarta ataw indonesianya.
nama bali itu penting, saya sangat bangga sebagai orang bali.
bali dengan agama, budaya dan adat istiadatnya. semua membau menjadi satu, keindahan dan kedamaian.
klo ada yang mempermasalahkan nama dan agamamu, keluar saja dari tempat itu. kaco itu kantor.
kebanyakan orang bali diciptakan menjadi orang sukses, dengan sikap kalem dan apa adanya.
klo anda rasa hidup atau karir anda ribet, coba cek lagi karma dan perbuatan anda.. bukan nama anda.
pertahankan adat dan budayamu, jangan karena kepentingan2 "sepele" harus anda korbankan budaya indah leluhur kita.
bali is bali, dia berbeda dengan pulau atau apapun lainnya.. dari dulu , saat ini sampe nanti.
keep love n jangan lupa maturan. kalem
written by Ketut Cecep Tambunan, November 09, 2009
written by Bagus Putra, October 14, 2009
jadi org bali jgn hanya 2 anak.. usahakan 4 sehingga nama ketut tdk akan hilang.
hehe...
written by Puts Sri ^^, June 02, 2009
semangat semangat hehehehe ^^
*yg penting action-nya.....
written by Gusti ayu, May 06, 2009
written by Putu Dianari, March 01, 2009
Lebih baik melestarikan Budaya Bali, karena Bali hanya ada satu di dunia, tetapi bukan menjadikannya lebih rumit, karena beda budaya, beda aturan. Just don't make it too complicated, simple and keep the culture.
written by awanbiru, February 23, 2009
written by eva, January 23, 2009
written by Puts, December 20, 2008
nanti di Bali banyak bermunculan orang2 bernama: Ohara, Robert, Hilton, Obama, Sadam. Terus nanti di Jerman, orang sana pakai nama: Luh Kanti, Geg Shanti, Gus Gede, dll.............

















1.Anda memberi kesan menghina. Mecaling itu bahasa Bali artinya bertaring (bergigi tajam) adalah sebutan yang biasa dilontarkan peduduk setempat untuk melukiskan sosok mahluk yang punya gigi taring, seram bergigi tajam bagaikan pemakan mahluk (hewan). Sedangkan Khan itu kata akhir dari pertanyaan seperti “bukan?” disingkat “kan”, kemudian anda samarkan dengan menambahkan huruf “h” ditulis Khan seolah nama dari kebangsaan Negara tirai bambu.
2.Saya yakin dan percaya dengan masyarakat di Bali sekalipun mereka tinggal di desa terpencil (karena saya pribadi juga orang Bali asli. Lahir, besar dan lama bergaul dengan masyarakat Bali umumnya), saya faham betul dengan karakter dan kesantunan orang Bali, terlebih dengan pergaulan internasionalnya masyarakat seantero Bali tidak mungkin memberi nama seperti Ahmad Ketut Mecaling Khan dan Gusti Ayu Ketut Jegeg Mecaling. Ini hanya ungkapan marah anda dalam bentuk penegasan kekesalan dan kekecewaan berdimensi pribadi. Paradigma rasio dan irasional saat ini belum dapat anda terima sebagai realitas hidup.
Bagaimana dengan nama-nama Bali muslim lainnya seperti: H. Nyoman Abdul Jalil, Gede Abdullah, Ketut Jamaluddin, Hj. I Gusti Ayu Putu Arini, Nyoman Syamsuddin, Ida Bagus Oka Syahril, H. Anak Agung Ketut Jelantik, H. I Ketut Muteran, Hj. Ida Ayu Mas Muteran dan sebagainya. Atau bagaimana anda menyikapi penduduk Indonesia yang tadinya mayoritas non muslim kini menjadi mayoritas muslim??. Dan selajutnya akan seperti apa kita kemudian, semua itu masih teka-teki dan menjadi rahasia Illahi yang wajib kita terima dan wajib kita syukuri.
3.Saya berpikir dan berdo’a mudah-mudahan anda sehat selalalu atas lindungan Yang Maha Kuasa (Allah SWT) menjadi cepat sepaham, hanya persoalan waktu, hal ini sudah terbukti sepanjang jaman. Amien…
===Dane Bagus===
Astungkara Pak Ahmad atas kunjungannya. Seperti itu yang saya temui terhadap Hindu diluar Bali, Saya berharap saya salah. Saya akan perhatikan petunjuk bapak. Suksme.