Menikah merupakan kata yang begitu menjadi idadalam oleh banyak orang terlebih muda-mudi yang sudah memiliki pacar. Meskipun menikah juga diminati oleh beberapa orang yang telah memiliki pasangan, namun tidak banyak yang merealisasikan. Menikah yang awalnya disebut dengan kawin, seringkali di sambut dengan debaran yang begitu besar, utamanya sejoli yang menjalinya. Penetapan hari dan kemeriahan acara perkawinan membawa debaran tersendiri bagi sejoli, namun kali ini milik KMHDI ikut berdebar tatkala mendapat pernyataan dan pertanyaan tentang rencana pernikahan yang di hindu sering di sebut pawiwahan diselenggarakan pas di hari H hari Nyepi. Berikut email dari This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it :
osa. bagaimana menurut kawan-kawan semua di daerah saya tinggal di sulawesi tenggara kabupaten kolaka desa tawainalu ada rencana acara pernikahan warga umat hindu kita yang akan melangsungkan acara pernikahan. Apakah ini diperbolehkan mengingant tradisi umat hindu bahawa ketika nyepi kita melakukan catur brata penyepian. tentunya hal ini sdangat bertentangan dengan tradisi umat kita. tapi yang aneh, entah siapa yang meberi izin dan dewasa ayu sehingga pas hari nyepi dipilih untuk melangsungkan acar4a tersebut. Hal ini tentu akan menjadi pertanyaan besar bagi umat kita. Sebernarnyan bagaimana kekonsistenan umat hindu kita melaksanakan ajaran agama. Belum lagi jika pertanyaan tersebut diajukan oleh umat lain.
Ya, ada rencana pawiwahan antara muda-mudi Hindu yang di selenggarakan di hari Nyepi. Berondongan tanggapan muncul, mulai dari yang mendukung, menasehati hingga yang mendorong untuk mencari hari baik lain dan menolak pawiwahan di hari Nyepi. Banyak umat sedharma telah berkontribusi untuk topik ini dengan memberikan tanggapan, pendapat dan saran, bagaimana dengan anda? Atau anda sedang merencanakan menikah, simak dulu yang tanggapan berikut:
OSA,
Saya pernah mendapat beberapa kali pertanyaan serupa dan pernah mendapat undangan dari teman Hindu persis di hari nyepi.
Selidik punya selidik, ternyata si Hindu telah berpaling muka (kemungkinan karena lama tidak laku. ya, dari pada nggak laku? hayooo) namun acara dibuat dengan adat Bali. Kalau seperti ini mah tidak jadi masyalahh... meskipun menimbulkan masyalah yang ruarr biasa di belakangnya, terutama pandangan orang luar terhadap kesakralan makna Nyepi.
jikalau orang Hindu melakukan hal ini pun rasanya tidak masalah, sejauh tidak melibatkan orang lain dalam pelaksanaannya. Karena, orang pasti akan ewuh pakwuh kalau tetangganya ada hajatan, akhirnya terpaksa datang. Agama itu kan masalah rasa, kalau kita ga merasa harus menghormatinya, ya monggo atuh.
Tapi kalau bisa ya di hindari, kalau bukan kita (penganutnya), siapa lagi? tapi kalau sudah kebelet banget dan kalau tidak dilaksanakan ada hal buruk yang menimpa, saya lebih setuju di laksanakan meskipun di hari nyepi [
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
]
Comment saya: Kalau yang menikah itu beragama Hindu, sampaikan aja BATALKAN, bikin malu umat Hindu se Indonesia. Atau terapkan sanksi sosial aja ke YBS, sebaiknya PHDI disana kasi nasehat lah, dan siapa itu yang memberikan IZIN?, dan Pemangku or Pedanda siapa yang mau muput???, kok MAU?, dibayar mahal ya?....sinis nih gw ....
Jadi kalo ada umat kita yg kurang atau tidak paham tentang apa dan bagaimana Hindu Indonesia yaaa mbok berusaha cari tahu dan belajar pada para ahlinya atau rajin rajin membaca buku-buku agama jangan pas nyepi lalu neko-neko kluyuran ke tetangga atau main-main judi atau menikah dsb dsb....jelas banget kita bakal jadi bahan tertawaan umat beragama lainnya. Umat Islam saja mungkin tidak semuanya paham ttg ajaran2 agamanya tapi contohnya pada bulan Puasa saja umumnya mereka berusaha keras untuk berpuasa walaupun tidak full 100%.
Ah kawan xxxx, siapakah orang yang ahli dengan agama ?
Adakah satu orang di dunia ini yang paham dengan Tuhan ?
Pertanyaan terlalu jauh ?
Oke, siapakah orang di dunia ini yang memahami Atman (yang katanya ada dalam diri kita dan menghidupi kita) ?
Masih terlalu jauh ?
Oke, bagaimana dengan Karmapala, adakah satu orang di dunia yang mengerti Karmapala ?
Lanjutkan dengan semua konsep keagamaan yang lain, baik Hindu, Islam, Kristen dll
Jawabannya adalah :
Tidak ada satupun orang yang bisa mengerti semua konsep agama yang katanya mereka anut
Â
Agama yang transenden tidak berhubungan dengan siapa orang yang kita tanya atau dengan berapa banyak jumlah bacaan keagamaan kita.
Beragama adalah tentang perilaku yang imanen
Tentang mengerti orang lain dan dimengerti oleh orang lain
Â
Apa yang ada di pikiran orang lain tidak pernah kita tahu, tapi apa yang dilakukan orang lain dapat kita ketahui
Motif seseorang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan keyakinannya bukanlah urusan manusia lain, tindakannya yang menyebabkan pengaruh pada manusia lainlah yang harus direaksi
Tidak ada pengadilan terhadap pikiran
Tidak ada pengadilan terhadap motif
Pengadilan dan hukum hanya mengatur tindakan dan perilaku.
Â
Ah, bumi rasanya berguncang, tidak ada lagi tempat berpijak ketika semua yang kita yakini terasa tanpa makna dan tanpa arti, ketika semua yang kita kira bahwa kita mengerti ternyata tidak sedikitpun kita mengerti
Dimana kita harus berpijak ?
Â
Berpijaklah pada apa yang ada
Ayah, Ibu, Nenek, Anak, kawan, sahabat dan semua manusia lainnya, merekalah tempat kita berpijak seperti halnya kitalah tempat mereka berpijak
Â
Kawan xxxx, kenapa harus takut ditertawakan oleh orang yang beragama lain ?
Apakah anda benar-benar yakin dengan apa yang anda yakini ?
Kalau anda memang yakin, kenapa harus malu ?
Kenapa takut ditertawakan orang lain ?
Atau mungkin anda sesungguhnya tidak yakin dengan apa yang anda yakini ?
Berbanggalah dengan apa yang anda punya, jujurlah mengakuinya dan dunia akan terasa lebih ringan
Â
Dalam hubungannya dengan kepercayaan, bukan dengan dunia materi, tidak ada ukuran apapun yang dapat digunakan untuk mengkuantifisir kepercayaan, tidak kitab suci, tidak juga orang suci, apalagi orang-orang yang mengaku suci. Kepercayaan adalah masalah rasa, masalah selera. Dalam perspektif ini, pilihan atas kepercayaan adalah sama dengan pilihan atas makanan.
Ada orang yang suka dengan taluh bekasem, yang bagi saya sungguh-sungguh tidak layak dimakan karena baunya yang menusuk hidung
Ada orang yang suka dan siap membeli sup sirip ikan hiu, yang bagi saya tidak layak dibeli karena terlalu mahal harganya
Mereka suka dengan apa-apa yang saya tidak suka
Tapi apakah karena itu saya berhak menghakimi mereka ?
Tidak kawan, saya harus menghormati pilihan mereka
Bedakan betul-betul antara masalah di dunia materi dengan masalah di dunia kepercayaan
Sekali saja kita mencampuradukkan masalah ini, maka kita akan kehilangan hubungan dengan realitas
Â
Kawan xxxx, kenapa anda merasa berhak untuk menyuruh orang lain keluar dari agama Hindu ?
Apa yang sudah anda kontribusikan pada orang itu sehingga anda merasa berhak menyuruh-nyuruh ?
Otoritas apa yang anda punya sehingga merasa berhak untuk menghakimi bahwa orang itu telah "neko-neko" terhadap agama Hindu ?
Kawan xxxx, berhati-hatilah, karena pada saat kita menuding orang lain dengan jari telunjuk, empat jari yang lain sedang menunjuk ke arah diri kita sendiri
Â
Kawan xxxx, dengan segala hormat ijinkan saya mengajak anda untuk berhenti menghakimi dalam masalah kepercayaan
Dalam dunia materi yang memang terukur dan dapat diukur, silahkan saling menghakimi, bahkan kita harus saling menghakimi karena hanya dengan cara demikian kebudayaan dan peradaban akan bergerak maju
Namun dalam masalah keyakinan, jangan pernah menghakimi, kembali ke diri sendiri
Bangga dengan apa yang kita miliki
Karena tanpa kebanggaan itu, sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa [
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
]
Soal benar dan salah, saya sepakat tergantung dari sudut apa menjawabnya
1+1=1, berlaku bagi dua perusahaan yang dimerger
saya setuju, janganlah kita meniru gaya-gaya dari umat lain, yang dengan gampang meng"kafir"kan pihak lain yang tidak sejalan dengan aliran mainstream dlam suatu agama....
Ber-agama adalah urusan pribadi antara satu individu dengan sesuatu yang dia yakini, bukankah upacara/upakara hanyalah kulit terluar dalam beragama? lalu atas dasar apa kita bisa menyuruh orang lain keluar dari suatu agama (Hindu)? dan sepertinya tidak ada dalam Hindu, cara-cara seperti ini? bahkan  aliran yang tidak mengakui otoritas weda pun tetap diakui dalam Hindu.....[ This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ]
Salam hormat untuk semua anggota milist KMHDI….
Membahas "kasus" perikahan Nyepi adalah sesuatu yang menarik, terutama bagi kami di Sultra yg kalo gak salah adalah kasus yg baru kami dengar…
Nah… untuk orang awam seperti kami… wajar ingin tahu bagaimana sih hukumnya menurut Hindu… apakah dari segi agamanya, aturannya, atau efek sosialnya…?
Jadi memang murni pertanyaan yg ingin tahu…
1. Apakah hal ini diperbolhkan???
2. Apakah dilarang oleh agama Hindu??
3. Ataukah terganung keyakinan si empunya acara, keluarga, sampai pada para tokoh umat yg meberi restu? Kenapa kok tidak nyari hari lain? Kok harus pas di hari nyepi?
Pertanyaaan terakhir mungkin hanya bias dijawab oleh oknum2 yg saya tuliskan diatas…
Tetapi untuk pertanyaan pertama dan kedua adlah pertanyaan yg bertentangan tapi boleh jadi satu jawaban, kalau diperbolehkan, berarti tidak dilarang. Sebaliknya kalau dilarang berarti tidak boleh dilaksanakan, demikian kurang lebih analisa terbatas saya…
Tapi yg ingin kami ketahui dari sini adalah bagmn hukumnya menurut Hindu yang ada di Indonesia..
(Hindu yang Umum…. Maksu saya bukan dari aliran sampradaya manapun, karena saya dan adik saya, Wayan Trimawiasa (Cawek) adalah penganut ajaran Hindu yang umum… - - maaf kalau istilah yg saya pakai keliru…)
Suksme…
Salam Kemajuan Hindu…
Satyam Eva Jayate…[ This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ]
Â
Aku setuju dengan mbok putu,...
Â
Ga kebayang gimana konsep acaranya, apa tamu dateng di tengah malam dan kemudian "mekemit" (menginap lebih tepatnya)
Â
selanjutnya bagaimana dengan catur brata penyepiannya,"mungkin" ga masalah kalo ga ada yang bepergian (krn semua tamu menginap)"mungkin" ga masalah juga kalo ga bekerja karena nyepi tanggal merah tapi gimana ada perayaan tanpa penerangan (Api), gimana perayaan tanpa huran???
Â
ato mungkin ada terobosan baru dalam acara pernikahan dimana pada acara tersebut dilakukan
"Samadhi", tanpa kemeriahan....
Â
hm...
apa mungkin ini saatnya ajaran hindu dilakukan dengan melihat apa esensi tiap ritual yang dilaksanakan. Apa makna dari tiap brata yang dikupas secara lebih dalam, bukan hanya pada kata-2 bahwa "brata itu hanya untuk dilakukan karena itu ada dan dilaksanakn dari jaman dulu... tanpa menyadari untuk apa itu dilakukan
Â
lalu, yang sangat menarik dari Nyepi adalah sebuah ajang istirahat yang dapat dimanfaatkan
oleh Bumi (walopun ga semua merayakan) dalam aktivitas yang terus menerus tanpa henti.
Kasian nok bumine sampun tua. apalagi kalo berhasil tersepakati ada 1 hari raya nyepi
dan dirayakan oleh seluruh Umat manusia.
ampura niki tyang hanya skedar belajar berpendapat dan tyang nunas ampura banget kalo ada kata-2 yang salah karena tyang semata mata orang yang awidya [ This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ]
| Comments |
|















