Setiap isu yang berkaitan dengan "perpindahan" selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan, entah perpindahan tempat tinggal, perpindahan divisi, perpindahan jurusan kuliah, serta perpindahan perpindahan lainnya, sampai akhirnya karena sebuah "unek-unek" yang masih mengganjal di benak, tema mengenai "perpindahan" agama pun di bahas ulang di sebuah milist yang cukup populer.
Awal dari diskusi tersebut adalah sebuah email dengan judul "Peristiwa Sepupu Pindah Agama - Sebuah Pengalaman" yang berbunyi sebagai berikut:
OM Swastyatu,
Saudara sepupu saya yang pindah agama ke Agama A dan Agama B tidak kurang dari 4 orang dari cuma 15 orang saudara sepupu terkait. Pensentasenya cukup tinggi..sebagai anak tertua pada generasi saya, bukan saya tidak berusaha mencegah...tetapi benar-benar tidak berdaya oleh faktor-faktor diluar kendali saya. Gejala akan pindah dan berhenti menjadi orang Bali sudah saya tangkap mulai dari mereka usia SMA...cukup waktu sebenarnya mencegah..tapi ternyata sulit..
Hasil pengamatan saya faktor penyebabnya adalah:
1. Orang Tua si Anak, Bapak/Ibunya memang bermasalah...praktis mereka lahir dari orang tua yang bermasalah juga.. Yang fatal mereka semua saya tahu persis pemakai aktif Ilmu-Ilmu Hitam..Kebetulan pernah saya perhatikan mantra mengaktifkan Power Ilmu Hitam itu ternyata berapa kata Agama A di dalamnya.. Ini mungkin sebuah keberuntungan yang jarang, saya pernah melihat mantra jenis ini secara tidak sengaja waktu kecil..tertulis di Lontar.. Bahkan mendengarkan orang membacanya... Rupanya praktik seperti ini mempengaruhi kehidupan si anak kemudian..
FYI:
Saya pernah ketemu seorang Kakek berumur 80 tahun lebih punya istri 4 orang yang pernah menekuni berbagai macam Ilmu dari Mulai Banten di Barat sampai Sumbawa di Timur..
Saya konfirmasi soal ini...Hasilnya kata dia Ilmu khas Bali kurang ampuh untuk target-target material/duniawi...rupanya tujuan akhirnya tetap moksah. Kalau suka material maka Ilmu model di atas adalah pilihan terbaik.. Jadi kloplah apa yang terjadi kemudian...
2. Si anak dari awal terlihat pemberontak...susah diatur..terlalu mendewakan harta benda/ sikap materialis sudah terlihat dari awal...
3. Karena orang tuanya memang bermasalah..maka dia pasti tidak bisa mengajarkan prinsip hidup ke anak-anaknya..
Perpaduan hal itulah yang membuat saya tidak pernah berhasil mencegah. Ada beberapa yang berhasil saya cegah.. Semua yang berhasil saya cegah tidak memiliki masalah di atas..si Anak hanya mentok/bingung dalam pergaulan saja yang normal terjadi di lingkungan multi kultural..
Jika saya total, yang berhasil saya cegah dan yang gagal draw...
Jadi kalau anak pindah agama ..yang bertanggung jawab adalah orang tuanya...tidak ada yang lain...
Suksma,
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
=============================================================
Yang kemudian dijawab dengan sambil mengganti judul dengan "Pindah Agama, Apa Hukumannya" ::
Om SwastyAstu
Ikut Sharing........
Seseorang pindah agama biasanya disebabkan ole suatu perkawinan. Mereka memandang perkawinan itu terjadi karena jodoh. Cara pandang ini sangat-sangat keliru, mereka seolah-olah berlindung di bawah keagungan Brahman, padahal mereka tidak mempercayai Brahman. Kalau memang Jodoh kok tidak ada orang eskimo yang dapat gadis bali. Atau cowok ganteng dari bali dapet Gadis Uganda yang hitam kurus kering?.
Padahal menurut yang kami tahu, tidak ada mantram atau sloka dalam kitab suci veda yang mencantumkan tentang perkawinan karena JODOH. Brahman hanya mewahyukan hukum untuk dijadikan pegangan hidup umatnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan .
Jika tidak adanya pengawasan dari Orang tua, dan mereka terlanjur cinta, ditambah lagi adanya desakan keluarga maka orang yang memiliki lemah mental akan meninggalkan Dharma. Ditambah lagi UU perkawinan yang menyatakan perkawinan tidak boleh beda agama.
Dari sinilah pangkalnya orang-orang Hindu pindah Agama, karena lemahnya pemahaman Agama Hindu, sehingga karena cinta saja, tdk bisa menjawab pertanyan dari umat lain, mereka berani meninggalkan agamanya.
Biasanya, jika salah satu anggota keluarga pindah agama, orang ini akan berusaha mengajak keluarga lainnya untuk pindah agama. Gal ini akan membahayakan keutuhan keluarga. Ibarat naik satu kapal ada orang yang melakukan sabotase mengebor kapal maka lama kelamaan kapal itu akan tenggelam. Tidak ini boleh diibaratkan dalam rumah tangga jika semua keluarganya berbeda agama hanya tinggal orang tuanya saja yang Hindu, maka jika orang tuannya meninggal dunia akan tenggelam dalam alam kesengsaraan???,
Pindah agama kadang juga disebabkan kurang peduli orang tua terhadap anak gadisnya. Prinsip predana ikut purusa disalah artikan. Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu. Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Dharma. Gadis klungkung diambil pria Buleleng maka si gadis harus ikut tata cara yang ada di Buleleng.
Hukuman bagi yang meninggalkan Hindu (dharma) antara lain :
1. Setelah Ajal Tiba Atamannya Tidak akan pernah mencapai alam kebahagiaan, kesempurnaan, dan tujuan tertinggi yaitu moksa.
Kata-kata ini tersurat dalam Bhagavadgita Xvi.23
"Ia yang meninggalkan ajaran-ajaran kitab Suci Veda, ada dibawah pengaruh kama (napsu) tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi".
Mantram ini memberikan tuntunan agar kita jangan meninggalkan kitab suci Veda hanya karena menuruti nafsu (kama) maka ybs tidak akan selamat. Bisa jadi orang yang meninggalkan Hindu di dunia ini dia bahagia, tetapi dapat dipastikan kelak Atmannya akan terseret ke lembah Neraka. Dalam Bhagavadgita XVI.19 disebutkan juga : " Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling Hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan raksasa".
Kalau kita renungkan mantram ini menekankan orang yang pindah agama atau keluar dari agama Hindu sama artinya membenci Brahman, sehingga kelak atmannya patut dicampakkan lembah neraka. Itu akibat perbuatannya sendiri seperti tersirat dalam Atharwa veda II.12.6 " Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupannya tersiksa"
2. Setelah Ajal Tiba Atmannya akan tenggelam ke lembah Neraka.
Dalam Manawa Dharma sastra VI.35 " Kalau ia telah membayar 3 macam hutannya (Kepada Brahman, leluhur dan orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutannya akan tenggelam ke bawah.
Karena dia sudah meninggalkan agama Hindu berarti dia tidak bisa lagi membayar 3 macam hutangnya (Tri Rna) , karena mereka tdk mengakui adanya Tri Rna ini. Sering kita melihat orang yang pindah agama saat orang tuanya meninggal dia memakai pakaian adat, dia melakukan sembahyang Hindu saat orang tuannya di aben, padahal dia sudah bukan Hindu. Keluarga mereka menerima seolah-olah tidak ada beban, demikianpula masyarakat tidak perduli melihat hal tersebut. Kalau dikeluarganya mengerti Hindu tentunya yang pindah agama tersebut tidak akan diperbolehkan menyembah orang tuannya, karena akan menghambat jalannya Atman orang tua menuju alam Leluhur dan alam para Dewa (ini pendapat tiang).
3. Setelah Ajal Tiba Atmanya tidak akan ketemu jalan menuju Swargaloka.
Dalam Bhagavad gita III.35 " Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tiada sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain".
Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak Atman, Roh dan Jiwa diciptakan Brahman, bukan saat kita dilahirkan, karena kita percaya dengan reinkarnasi/ samsara punarbhawa. Berarti sejak Brahman menciptakan kita selama itu pulalah kita telah beragama Hindu. Bisa jadi kita atman telah berusia ribuan tahun, berarti karma wasana sudah melekat juga sejak ribuan tahun.
Kalau seseorang beragama Hindu sejak Atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana di agama lain tidak ada artinya, karena dikumpulkan dalam waktu singkat kendatipun dilakukan dengan disiplin dan ketat, sehingga atman akan gentayangan karena tidak tahu tempatnya. Buktinya datang lagi dalam bentuk mimpi minta diaben atau dihindukan kembali melalu upacara ngaben.
Sukseme
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==========================================================
Osa,
Menarik yang Pak Nengah paparkan. Terutama yang saya highlight adalah bahwa manusia telah beragama bukan Hanya ketika dia lahir sebagai manusia. Tetapi sudah beragama sejak Roh diciptakan oleh Brahman.
Kalau begitu pemahaman saya menjadi agama bukan hanya urusan duniawi, lepaspun dari dunia kita (roh) beragama. Bisa jadi di dunia sana roh telah berkelompok berdasarkan Dharmanya. Roh atau atman Hindu berkumpul dengan roh Hindu, yang A dan B pun begitu juga.
Ultimate goal kita setelah meninggalkan dunia adalah untuk bersatu dengan Brahman. Syarat untuk bersatu dengan Brahman adalah lepasnya seluruh ikatan dan atribut yang melekat dalam badan kasar. Apakah agama tidak merupakan atribut?
Sinampura,
Om Canti
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==========================================================
Dan kemudian dijawab sambil mengganti judul untuk yang kedua kalinya dengan "Pindah Agama, Apa Untungnya" ::
Om Swastyastu,
Saya lebih suka bila pertanyaannya diganti..., "Pindah Agama, apa Untungnya?"
Menurut saya, kepindahan seseorang ke Agama tertentu bukan hanya terjadi lantaran kurangnya pemahaman terhadap Agamanya, namun lebih pada tidak tersentuhnya nilai "RASA" pada agama yang dianut.
Tak ada hukuman [menurut saya] bila seseorang yang Hindu untuk kemudian meninggalkan Hindu, namun tentu akan mengalami kerugian yang teramat besar. Mengapa demikian?
Hmm..., dari pengalaman selama ini saat saya membaur dengan orang2 spiritual di luar Hindu, gaya berpikir mereka justru mengacu pada filsafat2 Hindu. Saya ambil contoh, ada seorang rekan dari Agama C yang menggunakan Gayatri untuk berjapa di sela-sela meditasinya. Ada juga rekan Agama A yang menggunakan aksara OM untuk berjikir [konon katanya itu didapat dari suara gaib saat meditasi-yang hingga kini diyakininya sebagai suara alam]...., lantas bagaimana dengan kita, sudahkah kita menggunakan apa yang sebenarnya telah kita kenal sejak kecil itu? sudahkah kita memanfaatkannya? atau udahkah kita memetik manfaat dari aksara2 itu, atau justru kita malah menyepelekannya?
Saudaraku, menanggalkan KeHINDUAN kita dan beralih ke agama2 lain hanya akan membawa kita kembali ke titik terbawah. Aksara OM, GAYATRI, TAT TWAM ASIH, TRI HITA KARANA, TRI KAYA PARISUDHA.... adalah teori awal yang kita dapatkan saat belajar Agama, namun teori2 itu justru dipakai oleh kalangan spiritual tertentu [di luar Hindu] sebagai acuan meniti kedalam diri. Bisa dibayangkan, betapa ruginya meninggalkan HINDU.
SELAMI HINDU..., dan RASAKAN PERUBAHAN DALAM DIRI....
Jayanya HINDU Jayanya PERADABAN
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==========================================================
Om Swastyastu....
Teman saya yang Berkasta bilang, mendingan pindah agama dari pada harus turun status (ex.brahmana ke sudra).
Teman saya yang orang Bali bilang, pindah agama berarti terbebas dari cengkaraman adat.
Teman saya yang lain bilang, pindah agama berarti karir yang gemilang.
Teman saya pernah bilang, pindah agama demi cinta.
Tapi saya bilang, menjadi Hindu berarti menjadi dewasa.....
OSS....
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
=============================================================
om svastyastu,
yang pindah agama (keluar dari Hindu), meninggalkan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik, mengingat belum tentu pada reinkarnasi
berikutnya ketemu badan yang juga beragama Hindu. masih banyak alasan kenapa jangan pindah agama lain selain Hindu. jangan melihat adatnya, kastanya, cintanya, karirnya dll...lihatlah qualitas di balik adat, di balik isi kitab sucinya, dibalik leluhur dsb. pelan2 menentukan pilihan, jangan sampai karena rayuan sesaat kita bisa terjerumus mundur beberapa kali reinkarnasi...capek buanget dah.
selamat merenung.
shantih
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
=============================================================
Om Swastyastu..
Pak dipa, sangat bagus...menjadi hindu berarti menjadi dewasa....
dewasa berpikir, berkata dan berbuat tentunya, astungkara semakin banyak orang hindu yang menyadari kedewasaan filosofi hidup yang diwarisi oleh orang tuannya
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
=============================================================
om svastyastu
atau kurikulum pelajaran agama Hindu direvisi agar ada muatan yang menyatakan keluhuran agama Hindu dibanding agama lainnya. guru2 agama Hindu mestinya ikut bertangung jawab terhadap muridnya atas pemahaman agama jangan hanya menghafal istilah2 Hindu melulu, juga sadar lingkungan, bahwa Hindu paling lengkap cakupannya. guru agama jangan seperti robot dan hanya tunduk pada kurikulum yang mungkin sudah tak layak mengemban jaman.
niki hanya ide saja.
rarisang
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==============================================================
Om swastyastu....
Pak Made....saya setuju dengan bapak...
Selama ini saya mencoba menjadi Hindu tanpa bergantung pada adat.....itu sebabnya saya masih bisa bertahan mjd Hindu hingga sekarang.
Pengalaman tinggal di kota-kota yang mayoritasnya agama lain (ex.jambi, garut n tasikmalaya) membuat saya makin yakin dengan Hindu.
Cuman kalo masalah kasta sampe skrg saya masih bingung atau mungkin lebih tepat jengkel plus mangkel
Mungkin bapak punya saran bagaimana menyikapi masalah kasta ini....
hatur nuhun..
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
===============================================================
usulan pak MSM saya kira sangat bagus sekali dan sangat masuk akal... dan mungkin juga solusi yang paling murah meriah tapi efektive...
sebenarnya perkembangan Hindu tidaklah mengkawatirkan, justru para agama lain yang kudu waspada akan bangkitnya Hindu...gaungnya sudah
menggema,,,cuma kita kita aja yang terlalu ketakutan karena maraknya pemberitaan yang menguntungkan mereka...
Krisna sudah menyabdakan di BG, bahwa kebodohan dan kebingungan akan mengakibatkan kehancuran dan penderitaan..sehingga solusi memperkuat
keimanan dan rasa percaya diri menjadi Hindu sangat mungkin sekali di mulai dari level sekolah... Semoga para guru pembina Hindu tidak terlalu terfokus pada kurikulum....
Masih inget, di SD ada pelajaran tri kaya parisuda, sad ripu, panca serada, dsb, masuk SMP pelajaran yang sama dapat lagi,,, masuk SMU masih juga dapat.....
menurut saya, yang paling penting dan paling utama adalah peranan orang tua ???
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==============================================================
pak dipa,
masalah kasta sebenarnya di Bhagawad gita sudah sangat jelas sekali dijelaskan bahwa tidak ada yang namanya kasta yang ada adalah pembagian manusia
berdasarkan tugas /pekerjaanya...
di kantor saya sendiri sering mendapat pertanyaan terutama masalah Kasta dan Sapi, kenapa sapi disebut binatang suci dan tidak boleh dimakan dagingnya??
pinter pinternya kita menjawablah, karena kadang mereka juga tidak tahu apa apa dan hanya ingin tes pengetahuan saja sebenarnya....
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==============================================================
om svastyastu,
pak dipa, kocap kasta yang ada di dunia adalah lahir dari rasa feodal sekelompok manusia, khususnya di indonesia lahir dan bikinan penjajah sekaligus sebagai alat untuk pecah belah adu domba kekuatan rakyat. kocap juga hindu menggariskan bukan "kasta" namun "warna", sayangnya kita2 sebagai manusia matah sangat senang bila diagung2kan, apalagi akhirnya sang ego demikian tinggi dipupuk lantaran ada manusia lain yang suka menjilat/menyanjung dengan menambahi nama sesuai dengan kosep feodal.
seorang anak agung betulan belum tentu anaknya berjiwa anak agung yang benar2 kesatria, banyak yang malah menjadi bebotoh. seorang gusti di desa mengganti namanya menjadi anak agung tatkala dia hijrah kekota, entah apa faedahnya mengganti nama seperti itu toh dia sendiri status sosial ekonominya masih tetap seperti di desanya yang dulu yaitu pedagang kecil.
konsep2 feodal ini sangat subur tumbuhnya bila tak ada kesadaran....apa dan siapa sesungguhnya seorang ksatria, brahmana dsb. banyak yang mengaku bernama ida bagus (brahmana), namun kelakuannya/alur kerja kesehariannya menjadi tukang parkir lebih sadis lagi kebiasaannya adalah meceki, sangat jauh dari spirit brahmana yang mendalami agama, manjadi pendeta.
menurut tyang yang masih matah begini, silahkan yang suka feodal itu mengagungkan family name, bagi tyang menjadi diri sendiri adalah yang utama,
karena yang saya cari adalah cepat2 bisa moksah (kira2 bahasa maduranya begitu)
beliau2 yang berjalan di tataran spiritual akan mengatahui siapa diri saya tanpa saya harus tempeli dengan mengaku-ngaku bernama mentereng peninggalan jaman dulu yang tak bermakna. lebih senang dipanggil nang lengar dibandingkan jero pande, karena saya belum mampu memakai atribut jero, karena saya masih jauh dari konotasi jero itu (kira2 begitu bablasannya nulis).
semakin senang memakai atribut yang tinggi2 namun tak bermakna, semakin kelihatan bodohnya, semakin jauh spirit menuju jalan pelepasan, semakin hoby bolak-balik lahir-mati dengan penuh kesakitan......kocap asapunike
tyang minta maaf nulisnya terlalu apa adanya, karena tyang juga masih terbatas pengetahuan ttg kasta ini. ambil baiknya, buang jeleknya. maafkan juga yang bila terkesan garamin laut, semata ingin sharing inggih.
rarisang
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==========================================================
Om Swastyastu...
orang Bali lama-lama memang kena sindrom "sakit jiwa", kasta di tentang habis-habisan... lalu berebut membanggakan klaim sorohnya yang paling baik.
kasta, atau pengkotakan manusia berdasarkan drajatnya pernahkah hilang... kasta adalah produk peradaban, manusia beradab membuat kasta...
meninggalkan hindu karena kasta??? masuk Agama A juga harus tunduk pada si A, keturunan si A n so'on
bukankah sekarang kita juga terjebak dalam kasta baru, kelompok kapital borjuis dengan segala komunitasnya, ada kasta orang kaya dan kasta orang miskin, ada kasta dalam pendidikan (bahkan kasta ini hingga dibeli pula, persis seperti jaman kolonial dulu, ada yang naik kasta ada yang turun kasta
ada penganut agama bumi ada penganut agama langit, ada kyai langitan ada lagit runtuh
ahhh, kasta, pengkotakan masyarakat, feodalisme selalu ada dari masa ke masa dalam bentuk dan rupanya sendiri... inilah yang di ilmu persahaman di sebut history repeat itself.. ini jg kalau ngga salah nulisnya
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
==========================================================
Demikian sekilas hasil diskusi yang sangat cukup memberi "pencerahan" dan ide-ide baru dalam menata kehidupan di jalan dharma. Selanjutnya.... apa pendapat Anda mengenai hal ini ???
-Redaksi-
















