“.....sekalipun tapa itu kami gemari, namun kami tidak menganggap diri kami kaum tapasvin atau para pertapa. Kepercayaan kami adalah mengabdi kepada kebenaran, dan tugas kami adalah mengejar dan berpegang pada kebenaran.” ~ M. K. Gandhi ~
Ketika kita berjalan menuju sumber-cahaya, bayang-bayang kita jatuh di belakang, ia membuntuti kita dan semakin membesar bersamaan dengan semakin mendekatnya kita ke sumber-cahaya itu. Hal yang sebaliknya terjadi ketika kita bergerak menjauhinya. Demikian pula halnya di dalam perjalanan spiritual dari seorang penekun. Ketika kita tidak melihat adanya bayang-bayang di depan kita, yang juga berarti bayang-bayang kita —yang semakin besar dengan semakin mendekatnya kita kepada sumber-cahaya— itulah yang membuntuti kita, bisa dijadikan patokan bahwa kita sudah berjalan dalam arah yang benar. Sebaliknya, kalau setiap langkah kita senantiasa dihadang oleh bayang-bayang yang kian lama kian membesar dan menggelap, bisa dipastikan kalau kita bergerak menjauh dari sumber-cahaya.
Disini, Dia bisa kita andaikan sebagai sumber-cahaya yang dituju itu dan ego atau keakuan —dengan berbagai dorongan egoistis ikutannya— sebagai bayang-bayang. Secara ekperiensial, bayang-bayang ego mengambil wujud berbagai persoalan, tantangan dan hambatan, halang-rintang berbagai bentuk dan ragam di dalam menjalani kehidupan spiritual —dimana di dalamnya juga termasuk berbagai macam dan ragam godaan. Inilah tandanya kalau kita sedang bergerak kian menjauhi-Nya.

Memang benar kalau setiap langkah kemajuan punya bentuk-bentuk godaan, pun tantangan, hambatan serta halang-rintangnya sendiri. Justru disinilah seninya menjalani kehidupan spiritual ini. Seorang penekun boleh jadi teramat tangguh, punya ketahanan-mental luar biasa di dalam menghadapi tantangan, di dalam melampaui hambatan dan halang-rintang, namun sangat lemah kalau disodori godaan yang kecil saja. Atau sebaliknya, seorang penekun boleh jadi demikian tak bergemingnya terhadap berbagai godaan yang disodorkan kepadanya, namun sangat mudah frustrasi atau bahkan menyerah ketika dihadapkan pada tantangan, hambatan dan halang-rintang. Godaan itu sendiri bisa tak terhitung macam dan ragamnya; namun semuanya dengan sejenis karakter —yang amat kita sukai, gandrungi, idam-idamkan. Pendek kata, mereka ‘melambungkan’, memabukkan, membuat kita merasa ada di sorga.
Makanya, layaknya setiap bentuk perjalanan, terlebih lagi pendakian spiritual, butuh sebentuk mentalitas khusus —sebutlah ‘mentalitas-spiritual’. Untuk berhasil, untuk menjadikan setiap langkahnya sebagai kemajuan di dalam pendakian, seorang penekun mesti punya mentalitas ini.
Seorang penekun serius yang cerdas, sudah barang tentu akan menggembleng-dirinya, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada guna memperkokoh mentalitas-spiritualnya. Menggembleng-diri guna memperkokoh mentalitas-spiritual, guna membangun fondasi kokoh dari mercusuar kehidupan spiritualnya inilah ia menggelar sebentuk laku-spiritual —yang dalam tradisi spiritualitas Hindu dikenal dengan sebutan — tapa-brata.
Bali, Sukra Umanis Merakih¹, 23 Juni 2006.
~ Anattagotama (BeCeKa) ~
| Comments |
|















