Memberi Makna Universalpada ragam Ritual

E-mail Print PDF

India Cilik, hindustantimes.com“Apakah Hindu di India sama dengan Hindu di Bali?” Pertanyaan ini beberapa kali diajukan kepada saya baik oleh rekan Hindu yang berasal dari atau keturunan India, maupun teman-teman di Bali. Biasanya saya memberikan jawaban klise “falsafahnya sama, ritualnya berbeda”. Setelah beberapa bulan tinggal di Denpasar, rasanya jawaban tersebut ada benarnya.

Kita ambil contoh perbedaan dalam merayakan Hari Raya. Masyarakat Hindu India merayakan Hari Raya utama, yaitu Deepavali (atau Diwali) dengan menyalakan lilin, lampu, dian dan pelita di berbagai tempat. Cahaya yang timbul diartikan sebagai penerangan untuk menghancurkan kegelapan, yaitu ego dan sifat buruk. Sebaliknya, masyarakat Hindu di Bali merayakan hari Raya Nyepi justru dengan pantang menyalakan api. Tetapi tapa brata Nyepi juga dimaksudkan untuk menghancurkan ego dan kegelapan melalui kontemplasi diri dengan pantang berkegiatan.

Ada persamaan lain. Sekitar 20 hari sebelum Deepavali, masyarakat Hindu India merayakan Dusehra atau Vijaya Dasami, yaitu Hari Kemenangan, yang dipercaya adalah hari ketika Rahwana dibunuh oleh Rama. Hari ini dirayakan dengan membuat boneka Rahwana, lalu membakarnya, yang menandakan kemenangan dharma atas adharma, pencerahan atas kegelapan. Biasanya ritual ini dilakukan di kuil. Ritual ini mirip dengan Ogoh-ogoh, sehari sebelum Nyepi. Hanya saja perayaan ogoh-ogoh kini direduksi menjadi atraksi pariwisata, sementara makna sesungguhnya sudah mulai dilupakan bahkan diselewengkan.

Namun juga ada beberapa perbedaan dalam melaksanakan ritual. Salah satu perbedaan utama adalah menyajikan persembahan (sesajen). Masyarakat Hindu India hampir selalu memberikan persembahan yang bersifat Satvik, yaitu bunga, buah dan masakan yang bersifat vegetarian. Bahkan makanan yang disantap bersama di kuil atau di rumah setelah acara persembahyangan juga vegetarian. Sejak kecil saya dibiasakan makan makanan vegetarian setiap bulan purnama dan juga pada hari-hari besar keagamaan. Karena itu saya sempat terkejut melihat persembahan sapi, kambing dan ayam ketika menghadiri odalan salah satu pura di Karangasem beberapa tahun yang lalu. Setelah tinggal di Denpasar, saya baru mengerti bahwa bagi masyarakat Bali, persembahan tidak hanya dihaturkan kepada para dewa, tetapi juga kepada buta kala dan wong samar. Bahkan seorang teman mengatakan kadang-kadang persembahan bagi buta kala lebih penting, agar mereka tidak mengganggu manusia. Konsep demikian tidak terlalu dikenal di kalangan masyarakat Hindu India, paling tidak yang ada di Indonesia.

Kompleksitas ritual juga berbeda. Di Bali, ritual keagamaan terkesan rumit dan seolah-olah wajib dilakukan. Bagi sebagian masyarakat Hindu India, ritual dapat disederhanakan dan fleksibel serta tidak wajib, kecuali seseorang memang mempunyai kepercayaan penuh akan pentingnya suatu ritual di suatu hari tertentu. Misalnya para penganut dewa Siva biasanya bersembah-yang sederhana dan berpuasa (makan sekali dalam sehari) pada hari Senin. Tetapi hal ini tidak wajib dilakukan. Banyak ritual hanya melibatkan pantang makan daging, berpuasa atau persembahyangan sederhana dengan bunga, dupa, buah dan kidung (aarthi).

Kedua masyarakat mempunyai banyak hari raya keagamaan dan beragam ritual. Sayangnya banyak anggota masyarakat tidak memahami makna dari ritual. Akibatnya ritual, apalagi bila banyak sekali, dianggap sebagai beban sosial dan ekonomi. Di satu sisi ada rasa tidak tenang dan bersalah jika tidak melaksanakan ritual. Di sisi lain, orang kemudian menjalankan ritual dengan terpaksa. Seorang rekan di Bali pernah mengatakan, “membuat banten sambil kesal hati dan mengomel, toh akan mengurangi nilai bhakti dari ritual itu sendiri”. Demikian pula para orang tua saya dulu selalu menjalankan ritual walaupun dengan rasa kelelahan karena punya sugesti bila tidak menjalankan mereka akan menghadapi berbagai masalah.

Seperti yang telah disebutkan, persoalan utama terletak pada ketidaktahuan dari makna ritual yang dilakukan. Di Bali misalnya, ada ungkapan mule keto (ya sudah begitu) apabila ada pertanyaan mengapa harus melakukan langkah tertentu dalam ritual. Demikian pula generasi muda di kalangan masyarakat India juga mulai mempertanyakan arti dari ritual yang dijalankan turun temurun itu. Kita ambil contoh lagi bulan Purnama. Sejak kecil kita diberitahu bahwa hari saat bulan Purnama dianggap suci, karena itu ada persembahyangan khusus, puasa dan pantang makan daging. Tetapi apa istimewanya bulan purnama? Apakah hari itu bulan dipuja, disyukuri atau ditakuti sehingga harus ada sembahyang khusus?
Baru beberapa tahun yang lalu saya mengetahui penjelasan ilmiah mengapa orang dianjurkan berpuasa dan bersembah-yang khusus pada saat purnama. J. Jagadeesan, salah satu tokoh Hindu di Malaysia, dalam salah satu ceramahnya di Jakarta beberapa tahun lalu memberikan penjelasan berikut. Pada saat purnama, pengaruh daya gravitasi bulan atas bumi mencapai puncaknya, yang terutama terjadi di laut yang menyebabkan air pasang. Tubuh kita terdiri dari 75% air, sama seperti bumi. Karena itu logikanya, daya gravitasi bulan juga akan mempengaruhi tubuh dan mental kita. Hal itu menjelaskan mengapa pasien sakit jiwa dan banyak orang kehilangan kendali pada saat bulan purnama sehingga menjadi emosional. Berpuasa dan makan makanan satvik membantu tubuh kita untuk mengatasi sebagian dari pengaruh bulan tersebut. (Chugani, 2001).

Dengan demikian seyogianya ritual dipahami sebagai langkah awal menuju pemahaman dan kesadaran akan Kebenaran dan Kenyataan absolut, bukan sebagai penampakan fisik dari kehidupan beragama. Hal ini jelas tertera dalam kitab veda. Pokok pembahasan dalam kitab Veda dibagi menjadi tiga bagian: karma kanda (bagian ritualistic), upasana kanda (bagian pemujaan) dan jnana kanda (bagian pengetahuan). Bagian pengetahuan dimaksudkan untuk mencapai Kebenaran. Untuk itu diperlukan benak yang murni dan siap. Karma kanda adalah sarana untuk mencapai ketenangan benak agar bisa mencapai pengetahuan tentang diri dan kebenaran (Tejomayananda, 1993).

Selain itu, ritual seyogianya berfungsi melatih kesabaran, mengembangkan kehalusan budi pekerti dan mengembangkan rasa kesenian serta rasa memiliki kebudayaan atau identitas. Karena itu, di Bali maupun di India, tarian dan musik (tembang di Bali, atau kidung di Jawa, misalnya) adalah salah satu bagian dari ritual keagamaan. Di Bali, terutama, ritual diwarnai dengan cita rasa seni, misalnya ketika menghias banten. Mengingat hal itu, maka ritual yang berlebihan hingga menimbulkan beban sosial dan ekonomi perlu ditransformasikan menjadi ritual yang mengembangkan kesenian dan budi pekerti, melalui pemberian dan penggalian makna.

Keanekaragaman ritual hendaknya dilihat sebagai keindahan dan penghormatan pada tradisi setempat. Tetapi keanekaragaman itu seyogianya juga bermuara pada satu tujuan yaitu kesadaran diri (self-realization), sehingga membuka jalan pada Kebenaran Abadi. Dan, kebenaran abadi inilah makna universal dari Sanatana Dharma.


Bahan bacaan: 1. Chugani, V., 2001. Understanding Hinduism. Trac 1-2. Edited by J. Jagadeesan. Jakarta.; 2. Swami Tejomayananda, 1993. Hindu Culture An Introduction. Central Chinmaya Mission Trust. Mumbai

Penulis adalah aktivis lingkungan, yang telah banyak menulis makalah tentang lingkungan hidup. Ini adalah tulisan yang pertama tentang agama.

oleh : Hira D. Ghindwani

Terimakasih untuk mbak Prapti yang telah memposting tulisan diatas

Comments
Add New Search
eka putri   |125.167.177.xxx |2010-07-26 20:19:03
setuju.. hendaknya sebuah tradisi janganlah dijadikan beban, jalankan sesuai kemampuan asal jgn dilupakan saja
Putu  - nice article     |120.160.214.xxx |2009-10-17 01:43:09
very nice article Ibu Hira...

namaste,
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Banner

Member Login



Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday500
mod_vvisit_counterYesterday613
mod_vvisit_counterThis week3639
mod_vvisit_counterLast week4844
mod_vvisit_counterThis month22392
mod_vvisit_counterLast month31995
mod_vvisit_counterAll days142378

Online (20 minutes ago): 15
Your IP: 38.107.191.106
,
Today: Jul 30, 2010