Tentang mendidik anak

E-mail Print PDF

Om Swastyastu, mbah Kakung dan rekan-rekan sedarma yang saya banggakan.
Perkenalkan nama saya Bud seorang pegawai swasta dan tinggal di kota Kembang. Dari hasil kerja keras akhirnya saya mencapai karir yang cukup baik di perusahaan, namun waktu saya pun semakin sempit untuk bersama keluarga, bahkan dua tahun belakangan ini saya lebih banyak berada di luar negeri. Saya termasuk golongan yang telat kawin (TeKa), karena di usia 30 tahun barulah memiliki keberanian untuk mepersunting pacar saya. Kami merupakan alumnus dari kampus yang sama di kota Kembang dan istri saya lebih muda 2 tahun. Istri masuk Hindu saat kami menikah dan akibat TeKa, putri bungsu (anak ketiga) kami baru berusia empat tahun padahal saya sendiri sudah berusia 43 tahun, ada kekhawatiran saat saya sudah tidak produktif si bungsu belum mandiri.

Beberapa minggu lalu saat berada di Indonesia saya menyempatkan untuk bersama keluarga. Kehangatan dan kebanggaan begitu besar saya rasakan, setimpal dengan keringat yang mengucur. Namun ada hal kecil yang terjadi dikebersamaan kami yang justru membuat saya sulit tidur dan cenderung merasa bersalah. Saat itu sore menjelang malam setelah makan malam bersama, putra sulung yang duduk di bangku SMP kembali melanjutkan kegemarannya bermain PlayStation. Sudah dua kali saya memintanya untuk menghentikan sejenak game-nya dan melakukan Trisandya. Karena tidak diindahkan, saya pun menegurnya lagi dengan nada yang cukup keras. Dengan nada kesal ia mematikan gamenya sambil berkata "papa bisa ngomong aja, ngelakuin juga nggak". Saya cukup tertegun mendengar ucapan putra kebangaan saya itu.

Bagaimana ia bisa mengucapkan kata-kata tadi, apakah ada yang salah dari cara kami mendidiknya, apakah ada yang kurang dari kasih sayang kami. Berbagai pertanyaan muncul di pikiran saya. Jika saat ini saja ia sudah berani berkata demikian, bagaimana nanti. Harus saya akui bahwa saya jarang mengerjakan Trisandya, karena kesibukan saya pun memang jarang membawanya ke Pura dan berkenalan dengan keluarga Hindu lainnya. Saya merasa di telanjangi oleh darah daging sendiri, tetapi saya juga merasa tidak tepat kalau memarahinya. " Tahukan kamu nak, papa bekerja banting tulang agar kalian bisa sekolah, bisa menikmati makanan begizi dan kebutuhan kalian bisa tercukupi semuanya" gumamku dalam hati.

Mbah Kakung dan rekan-rekan sedarma yang saya banggakan, mohon tanggapan, saran serta sharingnya. Apakah ada yang salah dari cara kami mendidik anak, apa ada yang salah dari cara kami memberikan perhatian dan kasih sayang?

Om Santi santi santi Om

Note: Terimakasih telah memuat keluh kesah ini. Juga terimakasih atas photo-photonya, jadi salah satu obat kangen saat ada di luar negeri

Bagi umat yang ingin berkonsultasi dengan Mbah Kakung, silahkan kirim permasalahan, pertanyaannya dll ke This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Comments
Add New Search
Fajar Dewi  - Contek cara yg ini   |Administrator |2008-12-17 22:55:51
Om Budi,

Ini pengalaman pribadi saya,
dulu waktu kecil saya juga sempat berpikir begitu terhadap ortu.
Disuruh-suruh tapi kok sy jarang melihat yg nyuruh untuk melakukan.
Waktu itu alasannya:

"iya, kami memang sibuk.
tapi kami tidak pernah lupa untuk melakukan trisandya / mantram gayatri sebelum pergi dari rumah,
sebelum kamu berangkat sekolah,
kami selalu berdoa dan bekerja untuk
kalian.
Untuk berkonsentrasi seperti itu (konsentrasi sembahyang dalam hati), anak kecil belum bisa.
Jadi anak kecil harus langsung sembahyang menghadap Tuhan."


ps: secara logika ini bener
kan? Om Budi nggak mungkin lupa sembahyang tapi kesal karena anak2 gak sembahyang.
cuma, kita memang tidak meluangkan waktu secara "full".


Semoga bisa membantu..
Shanti,
Putu Wisastra Inggas   |202.155.93.xxx |2008-11-25 22:45:20
Om Swastyastu..
Ah, si Bud itu siapa sih.. kok disembunyikan namanya. Namun karena postingan ini bernuansa umum-umum saja, saya coba sharing. Anak yang dididik ketat dengan ritual sembahyang memang
cocok untuk sebuah identitas yang kasat mata. Namun yang lebih penting adalah identitas Hindu yang tidak terlihat, tapi bersemayam kuat didalam nuraninya. Apakah Hyang Widhi akan mendengar dan
merespon doa seorang baktanya? Tidak ada yang tahu, yang tau hanya Hyang Widhi, dan pengakuan sang pelaku saja. Didikan ritual yang ketat baik untuk disiplin diri terutama sebagai self-correction, dan
disaat-saat sulit. Bukanlah Amrozy cs juga sangat taat beribadah? Saya juga menemukan di Kalimantan, ketika bertugas kesana, seorang anak muda yang tidak pernah telat kemesjid, dan malam2 selalu
mengumandangkan ayat2 suci dikamarnya lengkap dengan kupluk dan sarungnya, eh, ternyata anak itu mantan pecandu narkoba, dan ditengarai masih melakukan hal itu. Cah.. masyarakat Hindu (khusu...
ignbratasena   |202.155.93.xxx |2008-11-25 15:16:08
Kalau boleh sedikit beri masukan, saya belajar agama baru kelas 6 SD.

Sebelumnya sekolah di Don Bosco terus, pelajaran agama Katolik kental sekali di sekolah. Saat saya membaca singkat ceritanya,
saya tidak bilang salah benar, hanya saya menengok diri saya sendiri dalam keluarga.

Ayah saya Polisi, bekerja siang malam, saya tidak pernah bisa mimpi jalan2 bareng saat hari libur, karena semakin
hari santai, polisi semakin sibuk.
Namun mengapa saya bisa patuh sembahyang, karen saat saya kecil, mungkin dari sebelum tk, setiap sore ayah saya mengajak sembahyang bareng, lalu selesai sembahyang,
saya dipangku di ruang tamu, lalu didiktekan mantram Gayatri untuk dihafalkan sambil bercanda.

Terus masuk TK, setiap sebelum berangkat, ibu saya selalu mencakupkan tangan saya ke arah tempat
sembahyang untuk pamit. Disanalah yang saya lihat tidak ada dalam keluarga anda.

Perlu diingat, pelajaran terbaik adalah datang dari memberi contoh, bukan dari kata-kata. Anak kecil tanp...
Ari   |202.152.22.xxx |2008-11-24 23:06:16
Om Swastyastu...
Sblmnya saya ucapkan selamat kepada bli Bud, atas keberhasilan bli dalam mencukupi kebutuhan lahir keluarga bli. Bagaimanapun, bli patut diacungi jempol, karena dengan kerja keras
bli, telah berhasil membuat keluarga bli tercukupi kebutuhannya secara lahiriah. Lepas dari segala kekurangan yg bli sampaikan ini. Kalau boleh, mungkin saya bisa sedikit memberikan pendapat atas
masalah yg bli alami ini. Walaupun secara langsung saya tidak mengalami persis seperti yg bli alami, tapi dari pengalaman teman saya yg telah mengalami, dan beberapa pengalaman2 orang lain yg pernah
saya amati, mungkin disini kita bisa sedikit share.
Dari pengalaman2 yg sering saya lihat, saya bisa menyimpulkan, bahwa kunci dari masalah ini adalah perhatian, perhatian yg berujung pada kasih
sayang. Memang, tujuan bli untuk bekerja keras hingga sukses selama ini adalah untuk mewujudkan perhatian itu, perhatian total kepada keluarga bli. Tapi itu ternyata berujung pada harta, dan...
Putu Prapti Utami   |202.155.93.xxx |2008-11-24 21:17:01
Sbg sharing juga dari saya selaku ibu dari ke-3 anak

Menurut saya ; memang jurus yang paling ampuh adalah memberikan contoh langsung kepada anak, bagaimana mungkin kita nyuruh anak2 bangun pagi,
mandi, belajar dan disiplin kalo kita aja nggak melakukan itu semua (males bangun, males mandi, males ke kantor dan nggak disiplin)....apalagi nyuruh2 sembahyang ke anak itu mesti pake contoh nyata di
depan mata, wong sudah dicontohin aja susah...namanya anak2....juga ke Pura saban Minggu pagi, meski sebetulnya kita pengen banget ngaso di rumah setelah capek kerja Senin-Jumat, tapi kan demi anak2
harus direla2-in deh berangkat nganter anak2 ke Pura......mau nggak mau memang mesti berkorban demi anak......itupun belum ada jaminan kalo si anak tsb bakalan rajin ke Pura, kita sbg ortunya juga
tetap mesti konsisten mendukung aktivitas mrk bersama teman2nya di Pura spy mrk betah dan seneng ke Pura.....alias perlu pengorbanan untuk tidak berhura2 ke mall atau bersenang2 plesi...
Art  - Setuju     |124.195.118.xxx |2008-11-24 22:03:55
yap setuju.
bersemangatlah
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Banner

Member Login



Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday338
mod_vvisit_counterYesterday496
mod_vvisit_counterThis week3404
mod_vvisit_counterLast week3622
mod_vvisit_counterThis month9445
mod_vvisit_counterLast month12092
mod_vvisit_counterAll days43354

Online (20 minutes ago): 4
Your IP: 38.107.191.81
,
Today: Mar 20, 2010