Mbah Kakung,
Saya Ning (27), saya telah berkeluarga lima tahun lalu dan telah dikarunia dua orang Putra. Diawal akan berumah tangga kami sepakat untuk mempertahankan Agama kami masing-masing, karena kami bersikeras tidak ada yang mau mengalah, meskipun acara pernikahan secara agama suami saya. Hal ini juga yang membuat orang tua saya tidak memberikan restu meskipun luluh setelah hadirnya cucu. Lima tahun pernikahan kami pun berbahagian seperti pasangan lainnya.
Namun kebahagiaan itu kini mulai terusik saat suami saya secara tidak langsung melarang buah hati kami untuk saya ajak ke Pura, padahal kesepakatan awal bahwa anak diberi kebebasan untuk Agama yang ia inginkan. Kekawatiran saya bertambah saat suami saya mengatakan akan mengirim putra bungsu kami untuk diasuh oleh keluarga suami saya. Sementara putra sulung kami telah masuh di kelompok bermain yang berbasis agama suami saya. Ia juga sering bertanya kepada saya mengapa saya tidak menjalankan ibadah seperti yang dilakukan oleh ibu gurunya di sekolah.
Saya kawatir buah hati saya tidak mendapatkan pengetahuan Hindu dan agama suami saya secara berimbang dan akhirnya tidak satupun dari mereka memilih Hindu. Mbah Kakung, bila keputusan saya untuk menikah dengan cara yang demikian merupakan sebuah kesalahan, maka saya ingin kesalahan yang kedua tidak menimpa saya dimana masa tua saya penuh derita diasingkan oleh buah hati saya. Mungkin saat itu saya bisa pulang dan tinggal di keluarga besar saya, namun itu pilihan yang pedih karena seperti menjilat ludah sendiri yang sudah keluar. Mohon masukan dan sarannya.
Ning via email
NB: Mas Dane, saya percayakan privasi saya padamu
Bagi umat yang ingin berkonsultasi dengan Mbah Kakung, silahkan kirim permasalahan, pertanyaannya dll ke
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it