Setiap hari kita memuja Tuhan melaui lantunan Puja, Mantra, Doa, dsb dengan maksud sebagai ucapan angayubagia atas anugerahNya kepada kita sebagai mahluk ciptaanNya. Turut juga pengagungan atas kemuliaan, kemurnian dan kemurahanNya serta pengakuan atas keterbatasan dan kepapaan hidup ini, sehingga memohon agar Tuhan mengampuni segala dosa pikiran, perkataan prilaku dan dosa semua mahluk. Jika direnungkan puja itu, kita tidak ubahnya seperti anak kecil yang merengek-rengek kepada ayah kita untuk dibelikan permen dan seperti pengemis yang memohon belas kasihan para dermawan.
Pertanyaannya adalah setelah kita memohon ampunan seperti itu, apakah kita telah pernah memberikan maaf kepada orang lain? Bagaimana mungkin Tuhan mengampuni kita sementara kita tidak pernah memaafkan orang lain yang sesungguhnya adalah Atman yang berdiam dalam tubuh orang tersebut. Jadi sesungguhnya kita memuja Tuhan yang bersemayam dalam tubuh orang lain ( Atman-Tuhan Aikhyam).
Pengampunan tidak membicarakan masalah siapa benar dan siapa yang salah, tetapi pengampunan mengajarkan kepada kita untuk berbuat kebenaran, kepada siapapun juga. Mengampuni adalah karma yang paling mulia, karena jika kita dapat memberikan pengampunan kepada orang lain atau mahluk lain maka pada saat itu pula kita telah melepaskan rasa egoisme, kegelapan pikiran-avidya dan karma buruk.
Pengampunan dapat berupa pengampunan phisik dan pengampunan rohani. Pengampunan phisik memang sulit kita lakukan. Misalnya seorang pencuri kambuhan, tidak mungkin kita mengampuninya dengan melepaskannya begitu saja, akan tetapi wajib dilaporkan kepada pihak berwajib untuk mendapat keadilan hukum, pengampunan yang dapat kita berikan adalah dengan tidak ikut menghakiminya dengan membabi buta seperti banyak kejadian saat ini. Pengampunan secara rohani wajib kita lakukan, dengan berdoa kepada Tuhan dan Atman yang bersemayam dalam tubuhnya agar memberikan pencerahan dan petunjuk kebenaran kepada orang tersebut, sehingga menjadi sadar dan tidak mengulangi perbuatan salah tersebut.
Memberikan maaf begitu gampang bahkan tidak memerlukan banyak energi untuk melakukannya, daripada kita menyimpan dendam atau perasaan yang tidak baik kepada seseorang, hal ini akan meimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan di masa yang akan datang. Orang yang suka menyimpan dendam akan menjadi sakit hati, yang semakin lama akan menggerogoti lapisan kesabaran dan sehingga kita kan menjadi mahluk yang kejam dan bengis. Orang yang suka mengampuni akan memperoleh kesehatan mental dan kemurnian spiritual karena ladang kasih akan menjadi mekar menghiasi seluruh hidupnya. Mengampuni begitu indah, memberikan kelegaan kepada yang memberikan dan keteduhan kepada yang menerima. Jika mengampuni begitu mengasyikkan tidak ada alasan bagi kita untuk memendam dendam dan sakit hati walau hanya dalam pikiran.
Untuk itu belajarlah dari sekarang untuk memberi maaf, karena Tuhan akan hadir saat itu pula, jangan menundanya hingga esok jika kita tidak ingin terjangkit penyakit menahun. Jika Tuhan saja Mahapemurah untuk memberikan pengampunan, tidak ada alasan bagi kita ciptaanNya untuk memendam benci, adalah kewajiban untuk mengampuni yang lain. Karena belum tentu orang lain yang bersalah terhadap suatu hal tetapi adalah kekeliruan kita memaknai dan memahami perbedaan yang ada. Kita yang bersalah bukan orang lain, mereka hanya alat untuk menyampaikan akibat karma yang telah pernah kita lakukan. Bagaimana kita mencintai orang lain kalau kita tidak mencintai diri sendiri, katakanlah salah pada diri sendiri dan jangan menyalahkan orang lain. Om sarva bhuuta ksama sampurnaya namah svaha.
oleh: (Shri Danu D.P) I W Sudarma. – Kota Bekasi@2008
















