Ingat ...kamu menari di atas panggung dengan ratusan mata menatapmu lekat-lekat! Mungkin demikian pengingatan seorang guru tari kepada siswanya yang sudah biasa mempertontonkan tariannya. Menari di atas panggung jelas tidak sama dengan menari di halaman rumah, atau dalam kesempatan-kesempat an terbatas lainnya.
Menari di atas panggung, apalagi sebagai penari solo, menjadi “shooting-target yang sangat mudah dibidik oleh para kritikus. Makanya, kalau tidak suka dikritik, masih belum cukup dewasa dalam menanggapi kritik, sebaiknya jangan menari di panggung. Menari di panggung memang bisa merupakan kesempatan unjuk-gigi, namun jangan lupa, itu juga bisa merupakan unjuk-ompong.
Namun, saya percaya, ketika seseorang telah memutuskan untuk jadi seorang penari panggung ia pasti sudah mempersiapkan dirinya. Dan kalau ia masih punya guru, guru akan wanti-wanti mengingatkannya seperti itu. Bila tidak, atau bila ia sendiri adalah seorang maestro, dia sendiri masih tetap perlu mengingatkan dirinya sendiri. Bukan untuk mengantisipasi kritik, tapi untuk mencontohi para siswa atau pengagumnya.
Bali, Senin, 07 Mei 2007
~ Ngestoe Rahardjo ~
| Comments |
|
















