
Beromong-kosong umumnya dihindari oleh mereka yang serius, yang memandang hidup ini sedemikian seriusnya. Padahal, tak jarang omong-kosong seringkali mampu menyentuh lubuk-hati kita yang terdalam. Bersenda-gurau misalnya, yang umumnya penuh omong-kosong, bukan saja menghadirkan keceriaan dan rasa lega seketika, namun tak jarang juga menjadi begitu bermaknanya bagi kehidupan kita selanjutnya.
Menertawai kedunguan diri sendiri saat beromong-kosong misalnya, boleh jadi bisa merubah secara drastis pola-pandang kita selama ini, yang segera akan diikuti oleh perubahan kehidupan kita secara mendasar. Saat beromong-kosong, segala sesuatunya terasa ringan, tanpa beban, walaupun tidak berarti ngawur. Boleh jadi banyak uneg-uneg ”yang tadinya serasa sedemikian mengganjalnya, sedemikian menyumbatnya” tiba-tiba luruh ketika itu, kejaiban mana belum tentu diperoleh ketika mendengar khotbah.
Oleh karenanya, jangan pernah menyepelekan ”apalagi mengharamkan” omong-kosong; apalagi omong-kosong mereka yang telah mengosongkan rasa-dirinya, yang telah sedemikian tipis egonya. Bentuk-bentuk pewahyuan, penyadaran-diri atau yang sejenisnya, tidak harus tersampaikan lewat cara-cara serius dengan kening berkerut atau duduk mematung di tengah kesunyian hutan bukan? Tak jarang, dan bukanlah sesuatu yang mustahil, kalau pengosongan rasa-diri justru berlangsung saat kita beromong-kosong.
Bali, Sabtu, 28 Oktober 2006
oleh: Ngestoe Rahardjo
sumber: Milist BeCeKa
| Comments |
|















