WARGA Dayak Dea di Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, pekan lalu baru saja melakukan aruh yang dinamakan aruh Buntang Mamali. Sebuah upacara yang juga kerap dinamakan aruh buntang atau mambuntang.
Aruh ini menjadi satu tahapan penting dalam perjalanan hidup masyarakat Dea. Sebagaimana yang biasa dilakukan saudara mereka Dayak Maanyan, adat yang satu ini telah menjadi budaya warisan leluhurnya terkait dengan kematian.
Masyarakat Dea, kata Ketua Persatuan Masyarakat Adat Dayak (Permada) Balangan, sangat menghormati leluhurnya. Karena itu, semua yang diwariskan, terutama budaya sangat mereka pegang teguh untuk dipertahankan.
Buntang mamali bertujuan mengangkat arwah orang yang meninggal dari alam kubur ke alam roh yang penuh kesempurnaan sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga dan warga terhadap mendiang.
"Ya, semacam membuatkan rumah atau peristirahatan terakhir yang sangat bagus untuk arwah leluhur," bebernya.
Ritual itu sebenarnya diakui menjadi bagian dari religi Hindu Kaharingan yang dianut sejumlah suku Dayak. Namun, mereka yang menganut agama lain pun masih tetap menjalankannya.