Lumajang memang kota kecil dan jauh dari keramaian. Namun, Lumajang memiliki keeksotisan yang tak kalah menarik dengan kota wisata lainnya, misalnya Kota Batu. Salah satunya, komunitas umat beragama Hindu di Kabupaten Lumajang layaknya di Pulau Bali.
Mereka tinggal di Kecamatan Senduro. Tempat ibadahnya disebut Pura Mandara Giri Semeru Agung. Pura di kaki Gunung Semeru itu juga dijadikan objek wisata religi di Kabupaten Lumajang. Pengunjungnya dari agama apa saja. Didukung suasananya yang sejuk, Anda akan merasa seperti berada di Bali.
Sebagai tempat ibadah, pura tersebut tidak hanya digunakan masyarakat Hindu di Senduro, tetapi juga dari luar Jawa Timur, termasuk Bali. Pura itu ramai dikunjungi umat Bali, terlebih saat hari libur atau hari-hari besar keagamaan. Puncak keramaian juga terlihat ketika piodalan (ulang tahun pura) sekitar bulan Juli. Pada saat itu, masyarakat Bali membanjiri kawasan pura untuk berdoa dan menampilkan kesenian-kesenian Bali.
Awal pendirian pura di kawasan Senduro berkaitan dengan nuur tirta (pengambilan air suci) di Patirtaan Watu Kelosot, kaki Gunung Semeru yang dilakukan umat Hindu Bali. Nuur tirta merupakan bagian dari proses upacara Agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, Bali, Maret 1963 yang juga diulang pada 1979.
Awal pendirian pura di Desa Senduro pun menuai kontroversi karena lokasinya yang berada di sekitar permukiman non-hindu. Namun, hal itu bukanlah masalah. Karena kenyataannya sampai saat ini, masyarakat Hindu dan non hindu dapat hidup berdampingan. Kerukunan antar sesama manusia dan antar umat beragama tampak jelas di kawasan ini.
Keragaman tersebut melengkapi khazanah budaya di kabupaten Lumajang. Namun, banyaknya keragaman masyarakat tersebut tidak memicu dan menimbulkan perbedaan yang berujung pada konflik maupun kerusuhan berbau SARA. Warga Lumajang mampu memperlihatkan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan aman sejahtera.
| Comments |
|
















