Umat Hindu di Jawa Diminta Pertahankan Budaya Lokal

E-mail Print PDF

Blangkon, penutup kepala pria khas JawaMULAI Jumat (2/7) hingga Sabtu (3/7) lalu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika bersama pimpinan SKPD di lingkungan Pemprov Bali dan sejumlah pemangku sad kahyangan di Bali, melakukan persembahyangan bersama di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur. Persembahyangan bersama itu merupakan rangkaian dari prosesi bhakti penganyar yang dilaksanakan terkait piodalan di pura tersebut. Sebelumnya, Gubernur beserta rombongan juga melakukan persembahyangan di Pura Blambangan dan Penyawangan Pura Rambut Siwi.

Pada kesempatan itu, Gubernur Mangku Pastika meminta kepada umat Hindu yang ada di Jawa agar tetap mempertahankan budaya lokalnya dalam melaksanakan upacara yadnya. Orang nomor satu di Bali ini mengharapkan, nilai-nilai lokal Hindu di Jawa ini tetap dipertahankan dan ditumbuhkembangkan. Sebab, menurut dia, nuansa Bali masih terlalu kental di sini sehingga dikhawatirkan tidak ada khazanah untuk umat Hindu setempat. "Mari kita lakukan alkulturasi budaya ini agar Hindu bisa dan tetap bertahan di tanah Jawa. Namun hal ini tentu tidak bisa kita ubah serta merta, tapi bertahap. Jangan memindahkan kebudayan Bali secara menyeluruh ke sini," katanya mengingatkan.

Pada kesempatan itu, Mangku Pastika juga mengagumi pengelolaan kebersihan di pura-pura yang ada di Jawa. Sama sekali tidak tampak canang maupun sampah-sampah bekas sarana persembahyangan yang mengotori pelataran pura. Dengan penuh kesadaran, seluruh umat mengumpulkan sampah-sampah bekas sarana persembahyangan itu ke tong sampah yang disiapkan oleh pengelola pura. "Terkait pengelolaan kebersihan pura ini, umat Hindu sudah seharusnya mencontoh kebersihan pura-pura di Jawa. Setidaknya usai melakukan persembahyangan, buanglah sampah bekas canang tersebut pada tempatnya. Jangan malah dibuang seenaknya dan bahkan diinjak-injak sembarangan," ujar mantan Kapolda Bali tersebut.

Sementara itu, Darma Duta Tingkat Nasional yang juga asal Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Yuliono merespons positif permintaan Gubernur Mangku Pastika. Dikatakannya, umat Hindu di seluruh Nusantara saat ini mulai mengalami kebangkitan. Hal itu terlihat dari setiap pergantian tahun baru Caka, pihaknya senantiasa melayani umat dari pelosok Tanah Air baik itu dalam acara melasti, tawur kesanga dan diteruskan dalam kegiatan dharma santi.

"Untuk kebangkitan Hindu di Jawa Timur, beberapa waktu lalu terlihat adanya upacara tawur kesanga di Kota Surabaya. Kami telah diberi izin oleh pemerintah kota melaksanakan upacara tersebut di tugu pahlawan. Untuk di Blitar khususnnya, Wali Kota Blitar memberikan umat Hindu Blitar untuk menggelar upacara tawur kesanga di parkir PPI-P Blitar dan dekat makam Bung Karno yang didukung oleh dana pemerintah," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, untuk di Ibu Kota yakni di Jakarta, umat Hindu telah diberikan menggunakan areal Tugu Monas sebagai tempat untuk melaksanakan upacara tawur kesanga. "Ini merupakan bukti bahwa pemerintah memberikan kesempatan umat Hindu melaksanakan ritualnya secara baik dan terbuka," ujarnya.

Lebih lanjut Juliono mengakui dari segi fisik, bangunan Pura Mandhara Giri Semeru Agung memang masih condong bernuansa Bali. Namun dari segi ritual upacara, pihaknya mengatakan sudah ada alkulturasi budaya Bali dan Jawa. "Seperti sesaji Jawa yakni menggunakan tumpeng agung, cok baka dan beberapa sesaji lainnya. Namun sesaji ini pun tidak mengurangi makna. Di tahun 2006, saudara di Bali sudah menerima sesajen dari Jawa dan yang terpenting adalah nurani kita kepada Tuhan. Yakni, persembahan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang didasari hati yang tulus ikhlas," tegasnya.

 

Lecehkan Simbol Agama Hindu, ''Trans-7'' Janji Minta Maaf

E-mail Print PDF

.Denpasar (Bali Post) - Lembaga Penyiaran Trans-7 berjanji mohon maaf kepada masyarakat Hindu atas tayangan ''Opera van Java'' (OvJ) episode 19 Juni lalu. Dalam tayangan tersebut ada adegan menendang patung Ganesa yang merupakan salah satu simbol yang disakralkan oleh umat Hindu. Rencana permohonan maaf pihak Trans-7 disampaikan Jumat (25/6) ketika utusan Trans-7 menghadap Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali untuk melakukan klarifikasi.

 

Dalam pertemuan dengan KPID Bali, Trans-7 diwakili Panca Barisman Saragis (Kabag Planning and Scheduling Program) dan Yustina Pramita (Produser OvJ) sedangkan dari pihak KPID Bali hadir Wakil Ketua Ida Bagus Radendra, S.H.,M.H., Nyoman Mardika, komisioner bidang perizinan dan Kasubag Perizinan Ketut Darmawan. Trans-7 menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan, pihaknya sama sekali tiada bermaksud melecehkan simbol Ganesha yang sangat disakralkan umat Hindu. Secara resmi pihaknya menyatakan akan meminta maaf secara terbuka melalui penayangan episode OvJ mendatang.

 

Trans-7 juga menyatakan sesungguhnya telah dilakukan proses penyensoran sebelum penayangan acara tersebut, namun sama sekali tidak menyadari ternyata masih ada bagian adegan menendang Simbol Ganesha seperti saat ini tengah diprotes komponen masyarakat Bali itu. Untuk itu, pihak Trans-7 pada saat pertemuan tersebut menyampaikan maaf kepada masyarakat Bali melalui KPI Daerah Bali dan sebagai realisasi nyata penyampaian maaf tersebut akan dilakukan melalui tayangan Opera van Java (OvJ) mendatang, di mana rencananya akan dilakukan melalui running text dan penyampaian secara lisan oleh ''dalang'' OvJ (Parto Patrio).

 

Dalam pertemuan tersebut, KPI Daerah Bali bersama pihak Trans-7 sempat memutar rekaman acara termaksud yang copy-nya dibawa Trans-7 dan kemudian diserahkan kepada KPID Bali. Mulanya ada keberatan pihak Trans-7 untuk menyerahkan copy rekaman tersebut, tetapi IB Radendra, S.H., M.H. menyatakan Trans-7 sepatutnya menyerahkan copy tersebut karena hal itu wajar dan secara hukum memang sepantasnya dilakukan dalam konteks protes masyarakat Bali terkait OvJ ini, karena KPI adalah lembaga negara yang mewakili kepentingan publik dan berwenang mengawasi penyiaran.

 

Radendra juga meminta agar permintaan maaf terbuka yang disampaikan Trans-7 sebaiknya juga dilakukan secara tertulis melalui media massa cetak, sehingga ada bukti jelas bahwa ada iktikad baik dan tulus Trans-7 menyatakan penyesalan atas kejadian ini, dan menjadi hikmah agar hal serupa tidak terulang lagi nanti. Pihak Trans-7 mengatakan bersedia akan melaksanakan saran KPID Bali untuk penyampaian klarifikasi dan maaf secara tertulis dan terbuka melalui salah satu harian nasional.

 

DKI Jakarta Juara Festival Seni Sakral Hindu

E-mail Print PDF

.Solo (ANTARA News) - Kontingen DKI Jakarta menjuarai Festival Seni Sakral Hindu Pertama, di Surakarta, 15-17 Juni 2010.

Kontingen DKI Jakarta sebagai juara pertama meraih nilai 347,8, diikuti juara kedua dan ketiga masing-masing Kontingen Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan nilai 332,22, dan Banteng 322,34.

Festival yang berakhir pada Kamis, diikuti sepuluh kontingen, dan setiap kontingen beranggotakan 50 orang yang terdiri warga dan seniman Hindu. Mereka berasal dari Bali, Jakarta, Makassar, Palembang, Lombok, dan daerah lain.

Pada acara penutupan festival di Pendopo Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah, diumumkan pula para juara harapan.

Juara harapan pertama Kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (nilai 321,96), dan juara harapan kedua dan ketiga adalah Jawa Tengah (320,28), dan Jawa Timur (317).

Dirjen Bimas Hindu IBG Yudha Triguna mengatakan dalam festival ini terjadi beberapa kejutan. Pertama, kejutan karena respon masyarakat Surakarta yang demikian tinggi saat berlangsung karnaval.

Kejutan kedua, menurut dia, pihaknya tidak menduga ada beberapa kontingen yang persiapannya sangat singkat, tetapi mampu menunjukkan kebolehannya dalam festival tersebut.

"Ada kontingen yang persiapannya hanya sepekan, tetapi bisa berprestasi. Padahal, untuk ikut kegiatan ini idealnya butuh waktu persiapan tiga bulan," katanya.

Ia merasa malu bahwa dukungan pemerintah dalam kegiatan ini masih terlalu kecil, khususnya dalam segi pendanaan. Pemerintah belum mampu memberi bantuan untuk membeli konstum baru.

"Ini merupakan dukungan masyarakat dan masing-masing pemerintah daerah sangat tinggi," katanya.

Tri Guna mengatakan, usai kegiatan ini banyak pihak yang meminta agar festival itu diselenggarakan dua tahun sekali. "Bahkan ada yang meminta setahun sekali," katanya.

Menurut dia, keinginan tersebut merupakan modal semangat yang harus dipelihara untuk membina umat.

Usai menutup festival ini, Dirjen Bimas Hindu menyerahkan barong kepada Rektor ISI Surakarta Prof Dr T Slamet Suparmo MS sebagai tanda agar seni sakral tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan para generasi muda, khususnya mahasiswa.

Festival Seni Sakral Hindu untuk yang pertama kalinya digelar di Solo itu, bertujuan mempererat komunikasi antarumat Hindu di seluruh tanah air. 

Selama festival berlangsung, 15-17 Juni 2010, selain menampilkan tari sakral agama Hindu dari sepuluh daerah di tanah air, juga digelar karnaval yang mempertontonkan kebudayaan daerah dari masing-masing peserta.

Sekitar 500 peserta berpartisipasi dalam festival spektakuler ini. Mereka dari Lampung, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. 

Rencananya festival ini akan diadakan setiap tiga tahun sekali, dengan lokasi berpindah-pindah.

 
Page 8 of 115
Banner