Ternyata, Agama itu berwujud alat kelamin

Posted by: Putu

Tagged in: Untagged 

Ditengah kemacetan kota Jakarta yang telah menjadi keseharian, dua orang sahabat berbeda suku masih bergelantungan di bus kota menuju sebuah mall. Di dahi keduanya masih menempel beberapa butiran beras, begitupun di telinga masih terselip sepotong bunga segar. Sesaknya kendaraan yang ditumpangi membuat keduanya tidak mendapat tempat duduk. 'Lar, kenapa matamu menerawang begitu?'
tanya sahabatnya. Tanpa memandang ke arah sahabatnya, pemuda yang di sapa Lar berbisik, 'lihat cewek di depan, belakang sopir, bodinya aduhai...'. Dengan nada sedikit kesal, pemuda yang tadi bertanya langsung memotong ucapan rekannya, 'Kita baru saja beribadah, kok sudah ngawur gitu sih?!'. Yang diajak biacara malah mencibir sebelum berkata, 'Jo......, Tukijo, saya ini masih normal, jadi wajar dong kalau lihat bodi moi langsung deg-degan. Memangnya kamu yang doyan menjomlo'

Didepan bangunan yang ramai, bus berhenti dan beberapa penumpang turun termasuk dua orang pemuda tadi. 'Putu Dolar, pasti orang tua sampean kecewa telah memberi nama Putu, tabiat sampean tidak mencerminkan orang Bali. Tidak salah kalau teman-teman memberi sampean gelar penjahat kelamin. Ingat Lar, penyesalah itu selalu datang belakangan lho...' sambung pemuda yang di panggil Tukijo itu. Keduanya bergegas memasuki bangunan mall, Putu Dolar yang dinasehati menghentikan langkahnya sejenak. 'Jo, Kamu ini kenapa, iri atau apa ya?' sahut Putu.

'Lar, kita makan di kaffe di sudut saja ya, makanannya enak' sela Tukijo yang di iyakan oleh Putu Dolar. 'Tadi sampean bilang apa, saya iri? Nggak lah ya. Begini-begini saya punya pendirian dan berpegang teguh pada prinsip' lanjut Tukijo. Sambil menulis pesanan, Putu menjawab 'Lah, memangnya saya terlihat tidak berpendirian? Justru pendirian saya untuk mendapatkan calon pendamping cantik tetap terjaga'. Tukijo pun tergelak 'ha..ha..ha..dasar penjahat, tetap saja penjahat. Hyang Widhi terlalu baik dan sampean selalu menyalah gunakankan kebaikan itu. Untungnya di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui, bagaimana jika ada seratus agama yang diakui, bisa modar sampean!!'

'Modar bagaimana?' sahut Putu Dolar sambil menyerahkan lembar pesanan makanan kepada pelayan. 'Ya pasti modar!. Seingatku, sampean hanya belum pernah beragama Kong Hu Cu. Dan cewek yang sampean dekati sekarang kulitnya putih, nampaknya keturunan Cina. Kalau ia begama Kong Hu Cu, apa sampean juga akan masuk agama Kong Hu Cu seperti sebelum-sebelumnya?' terang Tukijo. Sambil menikmati minuman dingin yang terlebih dahulu diantar pelayan, Tukijo melanjutkan, 'Setiap dapat pacar, sampean pun masuk agama cewek tersebut, padahal masih pada tahap pacaran. Apa itu yang disebut punya pendirian?'

Beberapa saat kemudian makanan yang dipesan pun datang. 'Ha..ha..ha.. no komenlah' jawab Putu Dolar singkat sambil menyantap makanan. Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, Tukijo pun mendesak dengan serangkaian pertanyaan, 'Kalau mau diajukan ke negara untuk disahkan, pemerintah pasti pusing dan bingung. Apa ya nama Agama yang cocok untuk agama sampean itu?'

oleh: I G Putu Tirta D.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy