Jejak

A short description about your blog

Agni Hotra Pertamaku

Posted by: Putu

Tagged in: Untagged 

Sabtu, 9 Januari 2010.

Setelah selesai pelaksanaan Posyandu di Perumahan kami bersama ibu Dayu, kucoba lanjutkan aktivitas dengan mengedarkan angket bagi penelitian Nyoman Marpha, suami dari kakakku yang sedang melanjutkan S3 nya. Kukunjungi Ibu Agung, pemilik Sonar UD, dan coba berbasa basi sebelum memulai bahas pengisian angket.

Tiba-tiba HP ku berdering. Di ujung, suara Pinandita Shri Sudharma, yang lebih kerap disapa Jero Mangku Danu. "Saya kini sudah di Bali lagi, akan adakan upacara Agni Hotra di rumah Jero Mangku, di Jalan Gunung Sari IV, Gang Bonsai". Ah... selalu tergetar hati ini jika tersentuh berita tentang aktivitas spiritual. Terima kasih Tuhan, doaku dan permintaanku untuk mengiringi perjalanan orang-orang besar dalam bidang spiritual telah Engkau kabulkan dengan berita dari Sang Mangku. Bergegas kulanjutkan diskusi, dan beranjak meninggalkan Bu Agung, lalu mengunjungi beberapa pihak pemilik dan pengelola berbagai perusahaan kecil yang gunakan manajemen kekeluargaan.

Pukul delapan malam, kukunjungi rumah keluarga Nyoman, pihak terakhir untuk hari ini berkenaan dengan penyebaran angket penelitian ini, lalu beranjak ke Banjar Buana Kubu. Namun, usaha temukan alamat yang diberikan Jero Mangku Danu tidaklah gampang. Aku tersasar hingga ke jalan Gunung Lempuyang, mondar mandir di beberapa jalan lain yang lebih becek karena hujan... bahkan, setelah temui jalan Gunung Sari IV gang Bonsai, masih bisa kesasar dengan masuk ke rumah Jero Mangku Sukarsa yang biasa mengendarai Vespa dengan nomer rumahnya, 31. Hujan lebat mendera, aku harus berdiam di sana dahulu, membuka perbincangan seputar topik perjalanan Jero mangku yang juga mengelola Ashram Gundaram ini.

Akhirnya hujan reda setelah 15 menit. Aku bisa berpamitan dengan Jero Mangku Sukarsa, dan melanjutkan pencaharian rumah nomer 19 B tersebut. Dan, temui Jero Mangku Danu disana. Ah, rasanya baru kemarin berjumpa dengan Mangku Danu, namun kami telah bertemu kembali kini disini. Ini adalah rumah kakak Mangku Danu, yang juga seorang mangku. Hm... keluarga besar yang memiliki garis keturunan Mangku. Kali ini Mangku Danu mengadakan upacara Agni Hotra disini.

Kulihat biji-bijian dicampur menjadi satu. Kacang kedelai merah, kacang hijau, jagung, beras (seharusnya menurut mereka bulir padi, namun karena tidak ada, jadilah diganti dengan beras). lalu ada empat mangkuk yang masing-masing berisi yoghurt, air kelapa muda, gula aren, dan susu. Kami duduk melingkari serpihan kayu yang dinyalakan dengan menggunakan kapas yang telah di beri minyak kelapa. Semakin lama, nyala api semakin membesar. Mangku Danu memulai melafalkan mantramnya, sesekali kami menyela dengan menyebutkan "Swaha" sambil menjatuhkan butir kacang-kacangan ke dalam bara api. Minyak kelapa dituangkan berkali dengan menggunakan sendok, demikian pula, yoghurt, susu, gula aren dan air kelapa muda. Hmmm, kulirik wajah-wajah orang yang terlibat disana, menirukan dan melantunkan mantram yang Mangku Danu katakan, fokus hanya kepada Hyang Widhi Wasa. Indah sekali menatap wajah Sang Mangku, terlihat damai dan tenang, kudengarkan syair mantram Beliau senandungkan dengan irama tertentu ditingkahi alunan denting genta. Ah... sungguh suatu kedamaian tercipta. Tanpa terasa perlahan air mata jatuh bergulir. Tak ingin tenang dan bahagia ini segera berlalu. Aku bangga bisa memuja dan memuji Tuhan dalam rangkaian upacara Agni Hotra ini. Bahkan, inilah kali pertama kuikuti dalam hidupku. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 12 lewat, hmm, tengah malam sudah berlalu, saat aku pamit dari keberadaanku di tengah keluarga ini. Hujan masih jatuh satu-satu, namun yakinku, semangatku takkan jatuh, karena kudapatkan damai di hati. Mati gaya dalam Agni Hotra, with My Lord.

Apa sih sesungguhnya Agni Hotra?
Putu Aris, 15 May 2008 menjelaskan Agni Hotra yang disampaikan oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa, 07 November 2006. Agni Hotra adalah doa dan puja yang dilakukan untuk memuliakan Tuhan secara berulang-ulang ketika sering mengikuti upacara Agni Hotra dalam berbagai manifestasi Tuhan atau Ista Dewata. Vibrasi spiritual yang dirasakan akan begitu besar saat mendengar lantunan nada mantram yang bersumber pada Weda itu.

Dalam perjalanannya yang cukup panjang, terdapat banyak perguruan (sampradaya, chanda, bahan material yang digunakan, beserta susunan Agni Hotra. Banyak orang telah mendapatkan manfaat setelah melakukan dan mengikuti yadnya Agni Hotra. Beberapa
manfaat seperti kesembuhan dari sakit, keharmonisan keluarga, perjalanan spiritual semakin meningkat, serta permohonan lain yang menapak ke hal yang positif. Namun semestinya tidak dilupakan bahwa Agni Hotra tidak dilaksanakan semata-mata untuk mendatangkan manfaat-manfaat tersebut. Ada tujuan yang lebih mulia dari hanya sekedar mendapat mukjizat.

Sejak jaman dahulu pada waktu para Maha Rsi yang agung telah melaksanakan Agni Hotra, maka yadnya Agni Hotra sejak itu secara implisit mengandung hal-hal itu. Tetapi para Maha Rsi ini sangat menghindari pelaksanaan Agni Hotra yang bersifat Rajasika (nafsu, keinginan) karena hal itu dapat mengurangi nilai luhur yang terkandung dalam mantra-mantra yang diucapkan.

Agni Hotra telah lama dijalankan oleh para Maha Rsi kita di Bali seperti yang disebutkan dalam beberapa naskah lontar misalnya : Agastya Parwa, Lontar Bali Pulina, Lontar Widhi Sastra, Lontar Wrespati Tattwa, Lontar Peranda Sakti Wawu Rauh, dan Lontar Purba Sesana. Seluruh lontar tersebut menyebutkan bahwa Agni Hotra adalah upacara Sattwika yang memberikan manfaat yang luar biasa.

Dalam Lontar Wrespati Tattwa dinyatakan:
"Dharma ngaranya: sila ngaraning mangaraksa acara Rahayu, yajnya ngaraning manghanaken homa, tapa ngaranya umati indriyanya, tan wineh ring wisanya, dana ngaranya weweh, pravrjaya ngaraning wiku andaka, bhiksu ngaraning diksita, yoga ngaraning magawe Samadhi, nahan prtayekaning dharma ngaranya" (25)

Artinya:
Pelajaran dharma meliputi : Sila melaksanakan tingkah laku yang baik,
yadnya berarti melaksanakan upacara homa ( Agni Hotra ). Tapa berarti
mengendalikan indria, tidak terikat pada obyeknya. Dana berarti memberi
( pemberian sesuatu kepada yang memerlukan ). Pravrja berarti pandita
yang melakukan puasa ( pertapaan ), Bhiksu berarti melaksanakan upacara
dwijati, menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi.
Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma.

Ditegaskan kembali dalam Chanakya Nitisastra, VIII.10 :
"Agni Hotra bina veda na ca danam bina kriyah, na bhavena bina siddhis
tasmad bhavo hi karanam"

Artinya:
Pelajaran Veda tanpa pengorbanan suci Agni Hotra adalah sia-sia. Korban
suci tanpa disertai dana punia tidaklah sempurna. Tanpa disertai rasa
bhakti semua itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, hal yang paling
penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan.

Dari pemaparan yang sangat singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kita telah dituntun untuk melaksanakan yadnya suci Agni hotra sebagai
yadnya yang utama dengan berdasarkan kitab suci Weda. Mulai sekarang
janganlah ragu-ragu untuk melaksanakannya. Kembali ke Veda berarti kita
memberikan kesempatan kepada jiwa kita untuk lebih intim pada jalur
dharma sehingga sang jiwa bisa berevolusi ke arah yang positif dan
peningkatan kehidupan yang lebih utama.
http://www.hindubatam.com/dwacana36.html

Sumber lain dengan topik Filsafat, Menuju Damai Sejati, Senin, 31 Desember 2007 menjelaskan tentang Agni Hotra.

Upacara agni-hotra merupakan suatu bentuk persembahan khusus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir semua upacara samskara (rangkaian upacara yang harus dijalani seseorang sebagai upaya peningkatan kualitas rohani)yang digariskan dalam Veda mulai dari yang terkait kehamilan (bayi di dalam kandungan), kelahiran, pemberian nama kepada bayi, pemberian biji pertama kepada bayi, dan seterusnya sampai upacara saat seseorang
meninggal dunia, diiringi dengan adanya korban suci api atau agni-hotra ini.

Memang, di dalam Kitab Suci dianjurkan bahwa segala kegiatan yang kita lakukan mestinya ditujukan untuk memuaskan Tuhan Yang Mahakuasa, sebagai suatu bentuk persembahan. Inilah yang akan mengantarkan kedamaian sejati di dunia ini. Seperti Sri Krishna bersabda di dalam Bhagavad-gita, "Orang yang sadar akan diri-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai Penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua mahkluk hidup, akan mencapai kedamaian dari
penderitaan kesengsaraan material."

Tidak terkecuali jika kita berkeinginan untuk merayakan hari-hari yang kita anggap istimewa dan memiliki arti khusus dalam hidup kita seperti misalnya hari ulang tahun kita. Kita dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan persembahan khusus kepada Tuhan, dalam suatu bentuk upacara agni-hotra seperti ini, dan kemudian membagikan sisa persembahan tersebut kepada sanak keluarga, teman atau relasi. Maka ini akan memberi manfaat yang sangat besar kepada semuanya.

Atmosfer yang tercipta dari pelaksanaan korban suci api seperti ini sangatlah bertuah untuk kemajuan rohani. Bahan-bahan yang dipersembahkan ke dalam api menciptakan aroma khusus yang menyucikan suasana dan pikiran orang yang menghadirinya. Dengan pikiran yang tersucikan, akan lebih mudah bagi kita untuk menerima pengetahuan rohani. Jadi, bukan hanya maksud upacara tersebut yang terpenuhi, namun yang menghadirinya pun mendapatkan manfaat yang sangat besar. Disebutkan pula bahwa tiap biji yang ikut dipersembahkan ke dalam api suci dalam upacara agni-hotra seperti ini melambangkan jumlah berkurangnya dosa orang yang
mempersembahkannya.

Bentuk yajnya atau persembahan kepada Tuhan yang dianjurkan untuk zaman Kali adalah sankirtana yajnya atau korban suci berupa kegiatan mengucapkan nama suci Tuhan. Dan memang inilah juga yang melengkapi pelaksanaan agni-hotra. Segala kekurangan atau kesalahan yang terjadi selama jalannya upacara ini disempurnakan oleh yajnya yang memang dianjurkan untuk zaman saat ini yakni pengucapan nama suci Tuhan, yang
berupa bhajan atau kirtana. Tanpa adanya pengucapan nama suci Tuhan, upacara seperti ini dianggap belum lengkap dan sempurna. Oleh karena itulah kidung nama suci Tuhan harus terus dilantunkan mengiringi upacara agni-hotra seperti ini.

http://krishna-bali.com/modules.php?name=News&file=print&sid=45

diceritakan oleh : Santi Diwyarthi


Belajar Mengamati dan mencari ke dalam

Posted by: Putu

Tagged in: Untagged 

Ketika kegagalan terjadi dalam suatu upaya kolektif, umumnya orang-orang sibuk mencari letak kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar diri mereka sendiri. Bila itu tak dimungkinkan —oleh alasan-alasan etis atau sosial-hierarkis— maka mereka akan menimpakan kesalahan-kesalahannya pada alam, kondisi, situasi dan lain sebagainya. Yang ini sudah lumayan baik, karena bersifat lebih netral, lebih etis dan tak ada pihak yang merasa dipersalahkan atau dipojokkan karenanya.

Menjadikan alam, kondisi, situasi, keadaan, cuaca, waktu dan sejenisnya sebagai 'kambing-hitam' rupanya telah sejak dahulu dilakukan manusia; dan ini dipandang wajar-wajar saja, disamping netral dan memang bisa dibuat agar terdengar masuk-akal. Pokoknya, asalkan kesalahan-kesalahan itu ada di luar diri mereka sendiri.

Dalih, 'pengkambing-hitaman' ataupun pelemparan kesalahan keluar yang ‘paling canggih’ di antaranya adalah: "Kita hanya bisa merencanakan saja, Tuhanlah yang menentukan." Terdengar sangat saleh, religius bahkan bijak. Segala sesuatunya dikembalikan kepada Tuhan. Siapa yang akan berani atau lancang membantah atau menyangkalnya? Bagi yang lancang membantah, apa ia mau mengatasi atau mengungguli 'kehendak' Tuhan? Boro-boro...'menduakan', 'menyekutukan' Tuhan saja sudah dianggap murtad, sesat yang bisa dikenakan hukuman penggal-kepala.

Hal yang sebaliknya akan terjadi bilamana tercapai kesuksesan kolektif. Maka mereka akan berlomba-lomba unjuk-diri, mengetengahkan kontribusinya, perannya, jasanya terhadap kesuksesan itu. Mereka akan berebut untuk mengaku paling berjasa. Lalu kemana perginya Tuhan mereka? Mereka akan dengan sangat mudah melupakan-Nya; apalagi alam, kondisi, situasi, keadaan, cuaca, waktu dan sejenisnya. Fenomena 'mengkambing-hitamkan' pihak luar —tak peduli siapa atau apapun adanya itu— atas kesalahan sendiri dan berlomba-lomba unjuk-diri dan mengakui jasa-jasa, merupakan hal yang sangat umum dalam masyarakat manusia. Yang seperti ini sering kita amati di sekeliling kita masing-masing. Itu bukan lagi sesuatu yang samasekali baru, apalagi asing bagi kita. Cuma mungkin, kita agak enggan mengakuinya, kita malu mengakuinya.

Alam —sebutlah planet bumi ini saja— sesungguhnya telah sedemikian bermurah-hati kepada kita semua. Kita hidup di dalamnya, kita telah menggunakan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Bahkan jasad kita ini, sthula sarira ini, tiada lain dari saripati alam (panca mahabhuta) adanya. Mungkin kita tahu itu. Akan tetapi, apakah kita benar-benar menyadarinya demikian? Apakah kita benar-benar menyadari bahwa jasad kasar ini adalah milik dan bagian dari alam? Bukankah alam telah sedemikian bermurah-hatinya kepada kita, bahkan hingga detik ini? Pernahkah Anda bayangkan bagaimana bila alam tiba-tiba meminta segala sesuatu yang kita 'pinjam' darinya selama ini?

Jagatraya, alam semesta, alam materi, alam fenomena ini adalah Ibu kita. Sebagian dari keberadaan kita ini, dianugerahi oleh Ibu kita ini. Kita menyebutnya dengan Prakriti atau Pradhana. Sebagai Ibu, kita sebetulnya menyebutnya dengan banyak nama. Kekuatan-kekuatan Ibu kita, kita sebut dengan Devi, Shakti, Sri, Lakshmi, Sarasvati, Vagisvari, Parvati, Uma, Durgha bahkan Maya. Dari kekuatan-kekuatan Ibu inilah kita dapat merasakan langsung keberadaan
dari Bapa kita semua. Bukankah kita dalam kehidupan sehari-hari lebih merasa nyaman, lebih merasa terbuka kepada ibu masing-masing ketimbang bapa kita? Anak-anak akan merengek-rengek meminta sesuatu kepada ibunya. Anak-anak hanya merasa nyaman dan tenteram hatinya pulang ke rumah bila ada ibunya. Ibu Semestaraya adalah Saguna Brahman —Tuhan sebagai yang paling mudah kita rasakan langsung kehadiran dan kasih-sayang-Nya.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kita pada alam atas semua kelimpahannya bagi kita inilah kita menyelenggarakan korban suci, Bhuta Yajña. Dan kepada kekuatan-kekuatan-Nya, kita menyelenggarakan Deva Yajña.

Melemparkan kesalahan ke luar dan mencari-cari alasan atas kegagalan di luar diri, rupanya telah menjadi kebiasaan sebagian besar dari kita, seperti juga mengakui peran, jasa dan kontribusi kita pada keberhasilan. Disamping gejala tak kondusif tersebut, fenomena lain apalagi yang kira-kira dapat kita lihat disini? Ada satu fenomena mendasar yang juga tertampak disini, yaitu: 'mencintai yang benar, yang baik, mencintai Kebenaran itu sendiri'. Fenomena mendasar ini sesungguhnya juga tertampak pada sikap-sikap seperti: 'memonopoli kebenaran', 'merasa paling benar', 'mencari-cari pembenaran' dan sejenisnya.

Sesungguhnya, jauh di dalam lubuk-hati kita, kita 'mencintai Kebenaran Itu', kita 'mencintai Bapa kita'. Namun dalam pengungkapannya, kita bisa menggunakan berbagai cara, termasuk seperti yang kita ungkapkan sebelumnya dan berdalih. Kebiasaan mencari-cari ke luar, mesti kita belokkan 180° ke dalam, bilamana kita benar-benar bertekad menemukan Kebenaran yang membahagiakan itu. "Bila hendak meminta warisan ‘Kerajaan Sorga', maka pintalah itu kepada Bapa yang bersemayam di dalam. Bilamana Bapa menganugerahkannya kepada kita, Ibu-pun akan melimpahkan segalanya kepada kita"; ada yang mengungkapkannya demikian.

Dalam "Vedanta for Beginners", Sri Swami Sivananda mengingatkan: "Dunia ataupun
objek-objek duniawi bukannya baik dan bukan pula buruk, akan tetapi naluri rendahmulah yang menjadikannya baik ataupun buruk. Ingatlah hal ini dengan baik. Jangan mencari-cari kesalahan pada dunia ataupun objek-objek duniawi. Carilah kesalahan pada batinmu sendiri."

Untuk merubah kebiasaan yang telah sedemikian lama lekat dan membentuk watak kita, memang bukan sesuatu yang mudah. Apalagi perubahan itu berupa pembalikan dari kebiasaan semula. Kebiasaan melihat, mencari dan menemukan sesuatu di luar sana saja sudah tidak mudah untuk membaliknya. Namun, bilamana dilakukan atas kesadaran dan dengan tekad yang kuat, apakah yang tidak dapat dilakukan manusia?

Denpasar, 14 Desember 2001.
___________________________
Disunting kembali pada hari Jumat, 03 Nopember 2006.

~ Anattagotama (BeCeKa) ~

 


Ternyata, Agama itu berwujud alat kelamin

Posted by: Putu

Tagged in: Untagged 

Ditengah kemacetan kota Jakarta yang telah menjadi keseharian, dua orang sahabat berbeda suku masih bergelantungan di bus kota menuju sebuah mall. Di dahi keduanya masih menempel beberapa butiran beras, begitupun di telinga masih terselip sepotong bunga segar. Sesaknya kendaraan yang ditumpangi membuat keduanya tidak mendapat tempat duduk. 'Lar, kenapa matamu menerawang begitu?'
tanya sahabatnya. Tanpa memandang ke arah sahabatnya, pemuda yang di sapa Lar berbisik, 'lihat cewek di depan, belakang sopir, bodinya aduhai...'. Dengan nada sedikit kesal, pemuda yang tadi bertanya langsung memotong ucapan rekannya, 'Kita baru saja beribadah, kok sudah ngawur gitu sih?!'. Yang diajak biacara malah mencibir sebelum berkata, 'Jo......, Tukijo, saya ini masih normal, jadi wajar dong kalau lihat bodi moi langsung deg-degan. Memangnya kamu yang doyan menjomlo'

Didepan bangunan yang ramai, bus berhenti dan beberapa penumpang turun termasuk dua orang pemuda tadi. 'Putu Dolar, pasti orang tua sampean kecewa telah memberi nama Putu, tabiat sampean tidak mencerminkan orang Bali. Tidak salah kalau teman-teman memberi sampean gelar penjahat kelamin. Ingat Lar, penyesalah itu selalu datang belakangan lho...' sambung pemuda yang di panggil Tukijo itu. Keduanya bergegas memasuki bangunan mall, Putu Dolar yang dinasehati menghentikan langkahnya sejenak. 'Jo, Kamu ini kenapa, iri atau apa ya?' sahut Putu.

'Lar, kita makan di kaffe di sudut saja ya, makanannya enak' sela Tukijo yang di iyakan oleh Putu Dolar. 'Tadi sampean bilang apa, saya iri? Nggak lah ya. Begini-begini saya punya pendirian dan berpegang teguh pada prinsip' lanjut Tukijo. Sambil menulis pesanan, Putu menjawab 'Lah, memangnya saya terlihat tidak berpendirian? Justru pendirian saya untuk mendapatkan calon pendamping cantik tetap terjaga'. Tukijo pun tergelak 'ha..ha..ha..dasar penjahat, tetap saja penjahat. Hyang Widhi terlalu baik dan sampean selalu menyalah gunakankan kebaikan itu. Untungnya di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui, bagaimana jika ada seratus agama yang diakui, bisa modar sampean!!'

'Modar bagaimana?' sahut Putu Dolar sambil menyerahkan lembar pesanan makanan kepada pelayan. 'Ya pasti modar!. Seingatku, sampean hanya belum pernah beragama Kong Hu Cu. Dan cewek yang sampean dekati sekarang kulitnya putih, nampaknya keturunan Cina. Kalau ia begama Kong Hu Cu, apa sampean juga akan masuk agama Kong Hu Cu seperti sebelum-sebelumnya?' terang Tukijo. Sambil menikmati minuman dingin yang terlebih dahulu diantar pelayan, Tukijo melanjutkan, 'Setiap dapat pacar, sampean pun masuk agama cewek tersebut, padahal masih pada tahap pacaran. Apa itu yang disebut punya pendirian?'

Beberapa saat kemudian makanan yang dipesan pun datang. 'Ha..ha..ha.. no komenlah' jawab Putu Dolar singkat sambil menyantap makanan. Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, Tukijo pun mendesak dengan serangkaian pertanyaan, 'Kalau mau diajukan ke negara untuk disahkan, pemerintah pasti pusing dan bingung. Apa ya nama Agama yang cocok untuk agama sampean itu?'

oleh: I G Putu Tirta D.


Sayang si bayi belum bisa "curhat"

Posted by: Putu

Tagged in: Jejak pikiran

Ketika menyetrika sebuah baju, dan melirik ke sebuah tumpukan, pertanyaan lawas terbersit kembali “kok putih semua ya bajunya?” Hmmm..... itu karena memang aku pencinta warna putih alias polos. Kedua, dari warna itu tiba-tiba teringat akan sebuah tumpukan di masa lalu, yaitu tumpukan baju bayiku yang semuanya juga berwarna putih. Kemudian dari sana, pikiran diingatkan kembali akan “seni” sebuah kelahiran. Dulu, ketika orang-orang di rumahku lahir ke dunia fana ini, semuanya memiliki cerita unik bin mengundang tanya. Dan kesimpulan pun terambil bahwa, kelahiran itu tidak boleh dipaksakan atau “pihak” yang hendak lahir ke dunia ini memang sudah memilih waktu yang tepat untuk dia “nyemplung” ke lorong kelahiran. Tapi ada juga kemungkinan dipaksa “nyemplung” meski waktunya tidak diinginkan, seperti si patkai di film kera sakti. Terlepas dari semua itu, pikiran kembali melayang ke masa sekarang, dimana sebagian besar orang-orang di sekitarku yang melahirkan, melahirkan dengan cara “terencana” atau sometimes called “sesar” (gak tahu juga tulisan betulnya bagaimana, yang pasti perut sang ibu dioperasi dan anaknya diambil oleh pak dokter dari lubang perut itu). Nah, terkait dengan cerita bahwa “pihak” yang hendak lahir ke dunia ini memang sudah menentukan jadwal kelahirannya, pas gak ketika seorang ibu atau keluarganya dengan sengaja memilih hari baik untuk kelahiran sang bayi, dengan cara mengatur jadwal operasi tersebut??? (menurutku pribadi, gak terlalu pas rasa-rasanya). Dalam teori paranormal and occult, mungkin pernah disampaikan bahwa kelahiran seseorang menentukan masa-masa dalam perjalanan hidupnya. Meski teori “takdir ditentukan oleh dirimu sendiri” selalu benar adanya, but there always factor “x”. Lalu..... kesimpulannya apa?? Aku belum menemukan kesimpulannya terus terang, karena lahir ke bumi itu kan ada visi dan misinya, dan jadwal “penerbangan” dari alam sana ke bumi juga udah terjadwal, namun kok masih ada yang berminat melahirkan bertepatan dengan hari-hari special di bumi ini. Apakah si “pihak” yang lahir benar-benar menginginkan lahir di hari itu??? Sayang si bayi belum bisa curhat mengenai hal ini. So, just look inside and enjoi(pake i)

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Banner